
LESTI dan Putra berdampingan memasuki tempatnya bekerja, membuat beberapa karyawan menoleh memberikan ragam ekspresi. Ini memang menjadi pemandangan langka di mata mereka selama akhir-akhir ini. Mereka tidak tahu apa yang terjadi hingga keduanya terlihat akrab dan sangat bahagia, tapi, sudahlah mereka tidak mau ikut campur dengan urusan keduanya.
“Cieee ... mentang-mentang ditugaskan untuk jadi model restoran, sekarang jadi dekat-dekatan, pasti untuk chemistery saat di foto nanti dapat, kan?” ujar Ady yang merupakan pimpinan shift pertama.
Putra tersenyum kikuk, dengan tatapan perlahan tertoreh kepada Lesti yang malah tersenyum tanpa beban. Apa ini pertanda kalau dia mulai nyaman dengannya? Kalau iya, syukurlah setidaknya usaha Putra untuk menutupi kegugupannya berhasil.
“Oh, iya, kan berita dipilihnya kalian baru malam tadi, tapi, kedekatan kalian sudah tercium beberapa hari yang lalu, hmm ... jangan-jangan kalian sudah—”
“Ady! Enggak usah berlebihan kalau beropini, nanti malah jadi fitnah. Mendingan lo fokus aja sama tugas lo, biar pak Ghifar enggak marah lagi, paham?” potong Lesti seraya melewati Ady dan meninggalkan Putra yang membeku.
Ady memutar bola matanya kesal. “Lo jadian sama si Lesti?”
Putra mengangkat salah satu alisnya, menatap penuh temannya. “Menurut lo?” Sekarang Putra yang melewati Ady dengan sedikit senggolan di bahunya. Hal itu membuat Ady mendengkus, menatap kesal ke arah dua sosok manusia yang menurutnya aneh untuk hari ini.
Ady kembali fokus ke pekerjaannya, seraya meracau enggak jelas. Namun, semua itu lenyap kala Ardia hadir di hadapannya dengan ejekan ringan untuknya.
“Kenapa lo ngomel gak jelas? Bentar lagi shift lo abis kok!” tutur Ardia.
“Tuh, teman lo si Lesti nyebelin banget. Lagian, kan, minggu kemarin gue telat datang karena memang lagi darurat. Awas saja kalo dia kena marah sama pak Ghifar gak akan ada habisnya gue ngejek dia!” jelas Ady seraya menyiapkan pesanan.
“Lagian, lo itu udah telat, buat pelanggan marah lagi, apes!” Ardia malah menambah tingkat amarah Ady yang siap memuncak.
Ady menoleh tegas, dengan hela napas yang berat. “Lo itu sama aja ya kayak temen lo itu! Bisanya ngejek terus!”
Ardia terkekeh kemudian minta maaf kepada Ady, dan segera pergi menuju ruang khusus karyawan. Sebelum masuk, Ardia tertegun sejenak kala tatapannya memotret Putra dan Lesti yang tengah mengobrol ria melalui kaca bundar yang terpasang di pintu. Mungkin ini kali kedua Ardia melihat mereka ‘romantis’ seperti ini setelah kemarin disuguhkan adegan boncengan.
Cekatan, Ardia menggelengkan kepala kala seseorang memanggil nama pelayan. Ia melengos begitu saja sembari memaparkan senyum kepada kedua temannya. Sebelum bergabung dengan mereka, Ardia meletakkan jaketnya yang basah karena kehujanan saat jarak perjalanannya tinggal beberapa meter lagi.
“Tumben datang cepet?” tutur Ardia seraya duduk di samping Lesti.
“Dapat panggilan dari langit katanya mau hujan, jadi kita, hmm ... maksudnya gue sama Putra barengan, sekalian buat obrolin masalah di grup,” balas Lesti.
Ardia mengangguk pelan, menatap bergantian wajah kedua temannya ini. “Oh, iya, kalian disuruh foto studio,”
“Iya, padahal gue gak cantik-cantik amat buat dijadiin model, tapi, kenapa pak Ghifar pilih gue, ya?”
__ADS_1
Putra menghela napas pendek. “Gue ke toilet dulu.”
Keduanya mengangguk. Ardia kembali memalingkan wajahnya ke Lesti. “Ya, karena lo itu manis, terus kinerja lo bagus, sopan, padahal lo itu manja banget!”
Lesti terkekeh. “Kalo manja gimana kondisi mood gue aja. Lagian, gue itu gak mau ribet, meskipun pada dasarnya gue gak salah, ya gue tetap minta maaf. Saking gak mau ribet gue!”
“Iya, bahkan saat pak Ghifar nyuruh lo lembur, padahal lo udah capek pengin protes, lo diem mulu lalu setuju, padahal yang lain protes dan mereka dipulangkan,” timpal Ardia.
“Iya dipulangkan, setelah itu pak Ghifar marah-marah di grup kemudian potong gaji!” Lesti terkekeh di ujung kalimatnya. “Dan selama ini gue gak pernah ngelakuin itu,” sambungnya dengan bangga.
Ardia terdiam sejenak, menyiapkan sesuatu yang berkemul di dadanya. Memang rasa ini aneh, dan sudah terjadi selama ia kerja di sini. Namun semua itu berakhir terpendam, tidak pernah mau dibuka karena sesuatu yang menakutkan meskipun ia enggak tahu apa ketakutan itu, dan temannya ini juga tahu tentang masalah ini.
“Lo jadian sama Putra?” cetus Ardia, ragu.
Lantas Lesti menoleh dengan tatapan terbelalak, menyuarakan rasa keterkejutan dan penasaran kenapa temannya ini berpikir demikian. Meskipun ia tahu jawaban akan rasa penasarannya itu, toh, akhir-akhir ini ia memang dekat dengan Putra tapi bukan berarti mereka jadian. Lagi pun semua ini karena ide dari Ardia. Lesti tidak tahu kalau ide tersebut akan berkembang seperti ini.
“E-enggak, kenapa?”
“Ya, lo kelihatan akrab aja. Padahal dulu, lo itu biasa aja bahkan sempat berkali-kali adu debat dengan Putra.”
“Tapi, lo ngarep, kan?”
O0O
Baru saja Lesti dan Putra bekerja sekitar lima belas menit, sebuah mobil berwarna putih yang sudah tak asing lagi di mata karyawan Kejora cofee and bakery terparkir di sana. Di balik dinding kaca yang sebagian terkena cipratan air dari hujan, semua penghuni Kejora cofee and bakery bisa melihat seorang pria berkaos putih ketat turun dari mobil tersebut.
“Lesti, Putra, kalian siap-siap!” Pria itu langsung menyuruh mereka bersiap-siap begitu kakinya menyentuh lantai tempat ini. “Ady, Nanda, kalian lembur tiga jam!” tambahnya ketika Ady dan Nanda keluar dari ruangan khusus karyawan di sana.
Lesti, Putra, Ady, dan Nanda langsung masuk ke ruangan khusus karyawan. Ady dan Nanda yang posisinya sudah berganti pakaian, mendengkus lelah sembari mengeluarkan pakaian kerjanya.
“Hadeh! Gue nyesel ngikutin lo Dy! Tadinya gue mau jemput pacar gue di kampus, karena lo nyuruh gue untuk temenin lo sebentar malah kena jatah lembur!” semprot Nanda, kecewa.
“Ya, gue pikir gak akan gini!”
Lesti dan Putra hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah kedua temannya yang berdebat masalah jatah lembur. Lagi pun seharusnya mereka sadar kalau pak Ghifar memang seperti itu, acara lembur dadakan, dan tak pernah lihat orang siapa yang harus lembur. Kalau tatapan pak Ghifar sudah terpaku terhadap karyawan yang pulang lambat di shift siang, kemudian karyawan di shift malam ada keperluan atas perintahnya, jatah lembur balasannya.
__ADS_1
“Kita harus siap-siap apa? Lagian kita udah rapi, toh, kita kerja baru sebentar,” ujar Lesti kepada Putra yang juga bingung mau apa.
“Mungkin cuci muka, biar kelihatan seger!”
Lesti segera masuk ke toilet dan membasuh mukanya dengan bersih dari debu yang bercampur dengan make up-nya. Begitu pula dengan Putra yang membasuh mukanya dengan sabun biar kelihatan fresh dan percaya diri saat bersanding dengan Lesti.
Sepuluh menit berlalu, mereka telah bersiap untuk melakukan pemotretan untuk promosi tempatnya bekerja. Pak Ghifar memandu keduanya berkunjung ke MRB Studio, di tengah rintik gerimis ini.
Dada Putra kembali dibuat menggebu, saat pak Ghifar menyuruhnya untuk sepayung berdua dengan Lesti. Perasaannya mudah rapuh dan berdebar ketika berdampingan dengan Lesti, bahkan ketika mendapati berita ini jantung Putra serasa ingin copot. Ah, perempuan yang satu ini energinya kuat sekali soal asmara.
Beruntung, keadaan studio mulai menyepi. Mungkin karena hujan yang memicu pelanggan enggak berdatangan untuk pemotretan. Mereka hanya menunggu sekitar lima belas menit sebelum dipanggil untuk memasuki studio satu yang memiliki latar cerah.
Lesti benar-benar terkejut ketika melihat sang fotografer tengah mengecek kamera digitalnya di ruangan ini. Sumpah demi apa pun, Lesti melihat penampilan laki-laki yang mengklaim hak antar jemputnya terlihat berbeda dan begitu memesona kala sedang memegang kamera tersebut. Secarik rasa bersalah tertoreh di hatinya, kenapa dirinya harus menghindari hal yang pasti dan datang dengan sopan seperti sosok Billar ini?
“Sila—kan se—lanjutnya.” Billar terkejut ketika menoleh untuk menyilakan pelanggan selanjutnya. Sosok perempuan yang menjadi satu-satunya di hadapannya mengambil semua fokusnya, tapi, segera ia netralkan. Ia tidak mungkin membawa masalah pribadinya ke ruang kerjanya, bisa-bisa melenceng kalau begitu.
“Halo Pak!” sapa pak Ghifar.
“Halo, selamat sore!” balas Billar ramah.
“Jadi gini, kemarin kan memberikan kita voucher pemotretan. Nah, kita mau foto promosi untuk restoran begitu, tolong ya Pak?”
Billar mengangguk seraya mengangkat jempolnya. Setelah itu, menyilakan Lesti dan Putra untuk on frame dan mulai bergaya sesuai arahan Billar, pak Ghifar atau inisiatif mereka. Sungguh pemandangan yang menyebalkan bagi Billar. Berkali-kali dadanya merasa dijatuhi bom dan meledak di sana kala mereka melayangkan pose yang cukup romantis meskipun temanya promosi tempat dan makanan. Dan dibalik dari pose itu semua adalah pak Ghifar, dalam hati ingin sekali Billar mengusir bapak ini dengan keras. Sungguh, ucapan dia sangat menusuk telinganya.
“Kalian benar-benar cocok! Yakin! Setelah promosi ini, tempat kita akan ramai!” seru pak Ghifar antusias membuat sosok Billar mendengkus pelan. “Bapak udah putuskan bahwa wajah kalian akan terpampang di semua cabang Kejora!”
Billar hanya bisa memaparkan senyum atau tawa palsu di ruangan ini. Ia ingin sekali beranjak lalu merutuki hal-hal enggak jelas agar emosinya bisa terlampiaskan. Ia sendiri tidak menyangka akan secemburu ini pada perempuan yang belum jelas apakah memang dia landasan hatinya atau bukan?
“Pak, nanti tolong editin juga ya? Saya ingin semuanya serba fantastis!”
Billar mengangguk lemah. “Oke!”
Faktanya yang akan mengedit semua ini bukanlah dirinya, bisa-bisa emosi terus bawaannya.
Ya Tuhan, kenapa jadi begini?!
__ADS_1
...O0O...