
laju motor Bris yang membela lalu lintas harus terhenti karena adanya lampu merah.
" sial padahal kan tadi sedikit lagi lolos, harus tadi gue tambah kecepatannya" gumam Bris menyangkan kecepatan laju motor nya.
sambil clingak clinguk, Sampai matanya bertubrukan dengan pandangan seseorang dengan sorot mata yang tajam, melihat hal itu Bris yang tidak mau kalah juga melotot kan matanya.
" Napa lu, ada utang.?" tanya Bris ketus, namun tatapan pria tersebut makin intens membuat Bris berpikiran yang tidak-tidak.
" heh dasar om om mesum, lupa umur loh.? dah tua juga matanya masi kelayapan mencari mangsa. dasar." kata Bris sebelum melajukan motornya dengan kecepatan tinggi karna lampu merah sudah berlalu.
sesampainya di kampus mood Bris hancur, hingga memutuskan untuk bolos,(ya walaupun sebenarnya memang pemalas dari Sononya shi..hihihi)karena mengingat temannya yang rajin sedang masuk kulia maka dia memutuskan untuk ke kantin kampus.
baru saja Bris melangkahkan kakinya,tiba tiba ada orang yang memukul bahunya.
" eh Bris di panggil tu sama pak dosen di kelas A1.2" katanya sambil bergegas pergi meninggalkannya.
" mampus gue....kabur ajha kali ya.'' baru saja mau memasang langka seribu tiba tiba ada yang menarik kupingnya.
" aw aw aw aw sakit sakit lepas lepas, agh siapa shi. kalau berani sini ayo baku puk." setelah melihat siapa yang menjewernya Bris tidak melanjutkan perkataannya.
" ehh bapak, knapa pak. ?" sambil nyengir kuda
__ADS_1
"mau ke mana kamu.? bukannya mau masuk kelas malah mau kabur lagi. masuk ada yang mau bapak ngomongin sama kamu" ucap pak Tarno dosen yang sedang di hindari nya
setelah sampai ke kelas Bris bingung karena tidak ada seorangpun di kelas kecuali dia dan sang dosen.
"kok nggak ada orang sih ke mana yang lainnya.? wah jalan-jalan bapak macam-macam ya sama saya...?"tanya beri memencingkan matanya seolah-olah manatap curiga kepada dosennya.
"nggak macam-macam kok hanya satu macam, yaitu..."
ucap pak Tarno mengantungkan kata katanya.
"MENGHUKUMMU , sana bantu teman-teman membersihkan Aula FKIP" kata pak Tarno kesal tidak habis pikir dengan siswa bibingannya yang satu ini.
###
Fashback On
di sebuah rumah besar dan megah lebih tepatnya sebuah mansion, terjadi perdebatan antara anak dan ibu.
"mom,,, sudah kubilang aku tidak mau menikah, apa lagi harus dijodohkan.." ucap Bryan yang sudah jengah mendengar permintaan konyol ibunya.
bukan tanpa alasan Bryan tidak ingin menikah, dia alergi wanita hanya kepada ibunya dan saudaranya saja yang mampu bersentuhan dengannya. jika itu dengan wanita yang lain maka dia akan merasakan hawa panas dan-gatal di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"tapi kenapa Bry...?" tanya Naina yang khawatir dengan anaknya.
"wanita itu hanya sumber masalah bagi Bryan mom.." Bryan yang sudah kesal karena setiap dirinya pulang ke mansion utama Naina selalu membahas soal pernikahan atau perjodohan." udah ah, Bry mau berangkat kerja. Chiki ayo jalan." Bryan yang sudah malas, dan mengajak sang asisten untuk berangkat bekerja.
"baik boss,.,,!"jawab sang asisten dengan wajah setengah dongkol.
"Hufff..... jangan jangan dugaanku selama ini memang benar adanya. oh tidak tidak .tidak, itu tidak mungkin, anakku tidak mungkin seperti itu."khawatir Naina terhadap Bry.
"Chiki kenapa wajahmu masam begitu..?." tanya Bryan terhadap sang asisten
"boss tolong lah hargai kedua orang tua saya." jawab Chiko masi dengan wajah setengah dongkol nya.
" hey memang kapan saya tidak sopan kepada orang tuamu.?"mimincingkan matanya
" sekarang boss,,, orang tua saya memberikan nama dengan penuh cinta, CHIKO boss bukuan Chiki." jawab Chiko dengan menekankan kata Chiko di bagian kalimatnya.
" Yaa itu suka suka saya, ngga suka bilang biar saya cari asisten lain," Bry yang tidak peduli dengan wajah sang asisten.
"terserah boss lah" (semoga sja ada seseorang yang membuat mood nya hancur).jawab Chiko yang pastinya setengahnya hanya dalam hati doang.
" bagus..." jawab Bry sambil mengedarkan pandangannya.
__ADS_1
entah apa yang membuat Bryan mengedarkan pandangannya, biasanya juga hanya duduk tanpa mau peduli dengan sekitarnya, namun mungkin Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Chiko yang mengabulkan permintaan nya.
"(anak gadis ko seperti itu, sangat urakan)." batin Bry sambil menajamkan pandanganya.