
Bris, memutuskan untuk berangkat kedesa malam itu juga karena kebetulan ada beberapa teman se jurusan nya yang kesana, awalnya mereka berencana besok pagi baru berangkat namun Bris tetap memaksa mereka dengan berbagai alasan sampai akhirnya mereka menyetujuinya.
sedangkan Bryan kelimpungan mencari Bris, ia menggunakan kemampuan nya sendiri untuk melacak CCTV yang di lalai Bris , namun karena Bris sangat cerdas ia menghindari jalan yang memiliki CCTV. membuat Bryan makin khawatir karena ia yakin Bris menggunakan jalan sepi yang jarang di lalui orang lain.
" sial, " ucap Bryan membanting handphone nya.
malam itu Bryan tidak tidur sama sekali, ia terus mencari Bris hingga pagi. sampai ia memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Bris.
sesampainya di sana Bryan menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupinya.
" nak, mama kecewa sama kamu, namun mama tidak bisa marah kepadamu karena ucapan Bris memang salah dan bisa membuat orang yang mendengarnya pasti akan berfikir yang sama denganmu. tapi, mama yakin Bris tidak mungkin selingkuh, Bris tidak pernah menjalani hubungan dengan siapapun karena ia takut menjadi selingkuhan atau di selingkuhi karena dia sangat membenci yang namanya perselingkuhan atau ada orang ketiga dalam hubungannya." jelas mama Anita
" bahkan sampai sekarang mama tidak tau mengapa Bris mau menikah denganmu bahkan tanpa menunggu persetujuan dari kami." lanjut mama Anita
" apa Bris memiliki seorang teman dekat ? " tanya Bryan karena ia yakin Bris pasti bersamanya sekarang.
" iya ada, namanya Indri, tapi sekarang dia sedang melakukan penelitian di desa terpencil yang cukup jauh, emang kenapa nak ?" Anita
" apa ibu memiliki nomor handphone nya, kalau iya tolong kirim ke saya mah. ?" ucap Bryan lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Anita
__ADS_1
" terimakasih kasih mah, Bryan permisi" ucap Bryan saat melihat notifikasi handphone nya menampilkan Anita mengirimkan nomor seseorang
setelahnya Bryan segera melacak keberadaan Indri melalui nomor telepon yang digunakan. setelah berhasil di lacaknya Bryan segera berangkat menuju desa di mana titik lokasi berada.
setelah sampai di desa tempat Bris berada, Bryan segera mencari posko mahasiswa berada.
sesampainya di sana Bryan kembali mengeraskan rahangnya saat melihat sosok gadis yang dicarinya sedang bercengkrama dengan beberapa pria. Bryan mengurungkan niatnya untuk segera membawa pulang Bris , ia hanya akan mengawasinya secara langsung tanpa sepengetahuan Bris.
#
" emang sekarang kalian mau kemana, kobbawa perlengkapan naik gunung shi ? tanya Bris
" ya elah jawab aja Napa ?" ucap Bris mencekik
" hari ini kita akan ke hutan sebrang desa, dan mungkin kita pulangnya malam, makanya kita membawa perlengkapan seperti ini." jelas George yang tidak suka keributan.
" ooohhh " Bris ber oh ria
setelah semua orang sudah siap, dengan membawa tas ransel besar perlengkapan mereka terkecuali Bris yang hanya membawa satu tingkat besi, dia terlalu malas melakukan hal-hal yang seperti itu.
__ADS_1
" eh Bris kamu nggak bawa barang apapun,?" tanya Nazar si julit.
" nggak, malas gue," jawab Bris santai
" lah terus bentar lu makan apaan ?" tanya Nazar lagi dengan ekspresi kulitnya.
" lah kan ada makanan Lo, ngapain gue haru bawa makanan " ucap Bris dengan wajah santainya membuat Nazar makin jengkel.
" ogah, gue nggak bakalan mau berbagi makanan Ama loh " ucap Nazar lagi.
"udah udah Bris sama gue," ujar George menengahi.
setelah melewati perjalanan yang jauh, akhirnya mereka sampai di mana di sana terdapat beberapa tanah petir yang akan mereka ambil sebagai sampel untuk di bawah ke universitas dan untuk penelitian nya mereka akan melakukannya di tempat tersebut.
setelah mengambil beberapa sampel, merek memutuskan untuk beristirahat karena waktu juga sudah menunjukkan waktu makan siang.
di saat mereka semua sedang asyik makan, tiba tiba Indri merasa ada sesuatu yang kurang dan sesaat kemudian.
" ehh Bris mana ?" tanya Indri panik
__ADS_1