Terjebak Di Kota Metropolitan

Terjebak Di Kota Metropolitan
episode 22


__ADS_3

setelah pulang sekolah Santi pergi ke rumah Ana yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari sekolah. dia memang sering ke sana untuk bermain walaupun hanya sebentar. Ana, Santi dan Ahmad mereka satu sekolah tapi berbeda kelas. di sekolah mereka jarang memiliki waktu untuk bersama. sedangkan Dinda dia pindah ke Bandung ikut orang tuanya.


Saat di rumah Ana, Santi mengobrol dan bercanda seperti biasanya. keluarga dari Ana selalu welcome kepadanya. mereka sudah menganggap Santi sebagai anggota keluarga mereka juga. jadi Santi bebas melakukan apapun di rumah itu. berbeda sekali dengan bibi Ina jika teman Santi ke rumah dia pasang muka jutek. makanya Santi tidak pernah mengundang teman ke rumah.


"Na gue boleh minjam HP Lo sebentar gak? gue mau nelpon."kata Santi


"pake aja, Lo mau telpon siapa? hayo siapa?" ledek Ana.


"teman"ucap Santi malu malu


"hmm teman apa teman?"


"teman Ana, mau bahas tentang tugas kelompok."


"Ok deh. pake aja nih." menyodorkan handphone nya.


Santi menjauh dari pandangan Ana, kemudian dia mulai menghubungi nomor telepon yang di berikan Metandra kepadanya. kini teleponnya sudah terhubung dengan telepon di seberang sana.


"Hallo dengan siapa?" Metandra berbicara terlebih dulu.

__ADS_1


"iya Hallo, ini gue Santi" sahutnya ragu ragu.


"Lo, ada apa?" sahutnya jutek


"gue mau bahas soal obrolan yang kita tadi"


"soal menikah? memangnya Lo udah siap?" Metandra meyakinkan


"iya gue udah si..- belum sempat Santi melanjutkan perkataannya


"Ok hari Sabtu Lo dateng ke gedung KUA jam 10 pagi ntar gue WA alamatnya." Metandra langsung mematikan sambungan telepon.


WA masuk dari Metandra, Santi langsung mencatat alamat yang di kirimkan Metandra kepadanya. lalu dia menghapus semua riwayat telpon dan WA di handphone Ana. Kemudian dia mengembalikan handphone itu kepada sang pemilik.


Setelah lumayan lama Santi berada di rumah Ana kini Santi pamit undur diri.


kini tibalah waktu yang telah di nantikan oleh Santi. dari rumah Santi berpenampilan biasa, seperti orang yang ingin mengerjakan tugas kelompok dia membawa tas yang berisi buku pelajaran. sebelumnya Santi telah meminta izin kepada Bibi Ina untuk mengerjakan tugas di rumah temannya. lagi lagi Santi berbohong kepada bibi Ina. dia belum siap untuk menceritakan semuanya kepada bibi Ina. dari rumah dia berangkat lebih awal ke tempat tujuan. dia pergi mengendarai angkutan umum yang rela berdesakan dengan penumpang lainnya.


sesampainya di tempat tujuan, dia mencari keberadaan Metandra tapi tidak menemukannya. di saat Santi menatap ke arah pintu masuk gedung tersebut dan hendak melangkah tiba tiba bahunya di tepuk. seketika Santi kaget dan langsung menoleh.

__ADS_1


"Lo serius yakin? Lo masih bisa batalin sekarang kalo mau." Tanya Metandra dengan tegas


"I-iya gue yakin" walau keadaan gugup Santi tetap meyakinkan Metandra


"sebelum itu Lo harus tanda tangani surat ini dulu."menyodorkan sebuah surat


"I-ini suurat apa?" tangan Santi bergetar menerima surat dari tangan Metandra.


"Lo bisa baca kan! baca sekarang, masih banyak waktu kok"


dengan perasaan ragu Santi memberanikan diri membuka surat tersebut. air matanya membendung di kelopak mata menahan agar tidak jatuh. dia berusaha kuat membacanya sampai selesai. setelah selesai membaca air matanya tanpa terasa jatuh juga ke surat yang dia baca.


"bagaimana apa masih mau lanjut? kalo Lo setuju tandatangani sekarang. di dalam surat itu tertulis kalo Lo nggak bisa menuntut hak apapun dari gue, gue memberikan kebebasan kepada Lo. dan gue berhak kapan pun gue mau untuk menceraikan Lo." tutur Metandra. Santi tidak ada pilihan lain walaupun hatinya terasa sakit untuk menerima perjanjian itu.


setelah menandatangani Santi dan Metandra bersiap siap. Metandra telah menyewa Mua untuk merias Santi. setelah siap mereka langsung menuju sebuah ruangan di sana sudah ada penghulu dan beberapa saksi.


keduanya kini sudah duduk berdampingan mengenakan setelan warna putih senada. Metandra memakai jas putih dan Santi mengenakan gaun berwarna putih di lengkapi dengan perhiasan di kepala dengan adat Sunda.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

__ADS_1


Hallo guys... minta dukungannya ya untuk memberikan like, komen dan vote nya. biar author semakin semangat๐Ÿ’ช๐Ÿ˜† Terima Kasih ๐Ÿ™


__ADS_2