
" Santi bangun" Dinda yang sudah berlinang air mata melihat kondisi Santi. dan juga bingung harus berbuat apa.
dengan kepanikannya Ahmad langsung menyingkirkan Ana. kemudian memencet hidung Santi lalu menautkan bibir nya dengan bibir Santi untuk memberikan nafas buatan.
seketika mata Ana dan Dinda saling pandang dan membulat.
untuk yang pertama kali nya Ahmad melakukan ciuman secara tidak langsung. apalagi selama ini Ahmad sudah memendam rasa kepada Santi. dia tidak ada rasa ragu untuk melakukan itu dan dengan cara berulang-ulang.
akhirnya Santi mengeluarkan cairan air yang telah tertelan dan di sudahi dengan batuk kecil. dia membuka matanya secara perlahan dengan kondisinya yang masih lemah.
tidak lama perawat muncul dengan membawa brankar.
Santi di naikan ke brankar dan menuju ke mobil ambulans. pak Andi selaku guru meminta Dinda dan Ana untuk ikut menemani di dalam ambulans. sedangkan pak Andi tidak bisa meninggalkan murid yang lainnya begitu saja. sebelum dia memberikan arahan kepada muridnya untuk pulang lebih cepat. setelah itu dia baru akan menyusul ke RS. sedangkan Ahmad di minta mengiringi ambulans menggunakan kendaraan bermotor miliknya.
Di rumah sakit Santi sedang di periksa oleh dokter di ruangan IGD. sedangkan Ana, Dinda, ahmad mereka menunggu di depan pintu dengan wajah cemas. tidak lama pak Andi pun datang bersamaan dengan dokter yang keluar dari ruangan IGD yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan.
"dokter bagaimana keadaan teman saya?"tanya Ahmad
"iya bagaimana keadaannya Dok" ucap pak Andi Dinda dan Ana
" setelah di lakukan pemeriksaan kondisi pasien telah stabil dan dalam keadaan sadar. beruntung air tidak masuk ke paru-parunya itu karena pasien telah mendapatkan CPR dengan cepat pada saat kejadian. sementara ini pasien belum di bolehkan pulang, karena kami masih perlu mengontrol selama 6 jam ke depan. jika pasien tidak mengalami gangguan pernapasan dan lain sebagainya maka pasien dibolehkan pulang tapi jika pasien di perlukan tindakan lanjutan terpaksa harus di pindahkan ke ruang ICU."
__ADS_1
"ya Allah mudah mudahan ga terjadi apapun" ucap Ana
"syukurlah semoga baik-baik aja" Ahmad sambil mengelus dada
"Amin, Mudah mudahan " ucap Dinda
"Amin, terima kasih Dok" kata pak Andi
"Terima kasih Dok" ucap Ana, Dinda, dan Ahmad
"sama sama, saya permisi" pamit dokter sambil melangkah pergi
Mereka semua bergantian untuk melihat kondisi Santi. Ana dan Dinda masuk bersamaan.
"iya Lo bikin kita panik tau gak!." tangan Ana meraih tangan Santi
"Alhamdulillah gue baik baik aja, maaf ya dah ngerepotin kalian" sambil memegang kedua tangan temannya.
"hmm.. iy ga ngerepotin kok" sahut Ana
"btw gue bingung kok Lo bisa ada di kolam renang yang terdalam, gimana ceritanya?" tanya Dinda
__ADS_1
"nah itu dia, sedangkan di kolam renang yang sedang aja Lo masih takut takut." ucap Ana
"sebenarnya gue juga heran kayaknya ada yang sengaja ngelakuin ini sama gue."
"maksud Lo?" sahut keduanya dengan bersamaan sambil menekan nada suaranya.
"iya, jadi gue renang dengan posisi tegak dan tangan gue juga masih megang pinggiran kolam terus tiba-tiba ada yang narik gue setelah itu badan gue di tindih dengan posisi muka gue di dasar kolam otomatis gue ga bisa liat dia"
"tega bener itu orang" dengan nada emosi Ana menjawab
"wah Lo harus laporin ke pak Andi San, Lo ga boleh diem aja. tekan Dinda
"iya bener tuh, biar pak Andi yang cari tau ntar."
"udahlah ga usah, gue ga mau urusannya jadi panjang ntar."
"ya tapi ini udh berurusan dengan nyawa, masih untung Lo selamat" sahut Ana
"bener, biar pelakunya juga kapok San."balas Dinda
"udah gak perlu Ana, Dinda, yang penting sekarang gue dah selamat.
__ADS_1
"ya udah lah kalo gitu." ucap Ana dengan nada kecewa.