
Naya
Cepetan... Udah mau mati nih rasanya...
Tak lama kemudian. Naya meneleponnya.
“Hey... Kemana aja, lama banget. Kalau Kamu pulang diatas jam 00.00 Tidak akan bisa masuk rumah. ”
“Diem... Nona Naya yang cantik jelita tidak ada bandingannya. Sekarang, semua toko udah pada tutup. Mau cari kemana lagi. Hah...? ”
“Pokoknya harus dapat. Waktu tinggal enam menit. Sekarang sudah jam 23.54. Siap-siap tidur dihalaman rumah. Sama kelinci dan empus yang comel-comel. Oke... ”. Ancaman Naya membuat Alfath semakin geram. Dia masih berkeliling.
“Pukul 23.55. Sepertinya Aku memang harus tidur sama kelinci deh... Mending Aku pulang aja daripada capek-capek tapi nggak dapat. ”
Jalanan agak macet. Meskipun sudah hampir tengah malam. Alfath sudah berkali-kali menguap. Ingin rasanya segera tidur lelap tanpa ada gangguan makhluk apapun.
Pukul 23.57. Alfath menyetir sambil matanya menutup sebelah. Alias setengah sadar.
Chit...
Tiba-tiba Dia mendadak memancat rem. Seorang laki-laki paruh baya menyebrang tepat di depan mobil Alfath. Untung mobilnya masih bisa di rem. Jaraknya hanya tinggal tiga langkah saja. Alfath segera keluar dari mobil.
“Bapak... Bapak tidak apa-apa? ”
“Maafkan Saya den, saya yang ceroboh. Sembarangan kalau mau nyebrang... ”
“Nggak apa-apa Pak, tadi Saya juga nyetir sambil ngantuk. Mungkin saya yang lebih bersalah... ”
__ADS_1
“Nggak den, Orang tua ini tidak apa-apa... ”
“Yakin Bapak tidak terluka...? ”
“Iya den, Bapak baik-baik saja. ”
“Ya udah Pak kalau gitu. Lain kali Bapak hati-hati ya kalau mah nyebrang... ”
“Mampir dulu den ke warung Bapak... ”
Alfath melirik jam tangan. Pukul 00.00. Telat. Sudah di atas perjanjian Nona Naya. Batinnya.
“Bapak punya warung...? ”
“Itu warung Bapak... Sebagai permintaan maaf Bapak mau kasih sesuatu deh... ”
“Ayok sebentar saja... ”. Laki-laki paruh baya itu sudah menarik tangan Alfath menuju ke warung seberang sana. Alfath tidak bisa menolak. Dia hanya bisa menuruti perintah si Bapak.
“Duduk disini sebentar ya den... ”
“PECEL LELE”
Itulah tulisan yang terpampang di depan warung milik Si Bapak.
“Sepertinya Aden tergesa-gesa. Jadi saya hanya bisa membuatkan Dua porsi pecel lele untuk Aden. ”
“Pak... ini terlalu berlebihan Pak. Seharusnya Bapak nggak usah repot-repot. ”
__ADS_1
“Nggak repot sama sekali. Lain kali Aden kalau lewat boleh mampir kesini kok. ”
“Makasih ya Pak, Oh iya ini ada sedikit rejeki buat Bapak... ” Alfath menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
“Nggak usah Den, Bapak mah mau ngasih Aden. Bapak tau kok kalau Aden orang kaya. Tapi tolong, untuk kali ini Bapak mau sedekah... ”
“Semoga berkah ya Pak... Ya udah Pak, terimakasih banyak ya... Saya mau langsung balik. ” Alfath menyalami tangan Si Bapak
“Aamiin... Sama-sama Den... ”
Dengan langkah gontai. Alfath membawa Dua porsi pecel lele itu dengan senang hati. Satu, karena perutnya benar-benar lapar. Dua, karena pecel lele adalah makanan favorit Dia.
“Den... Den... tunggu sebentar Den... ”. Ketika Alfath hampir saja menyeberang Si Bapak itu tiba-tiba memanggilnya.
“Oh iya Pak... ”
“Sini Den... ” Si Bapak menarik tangan Alfath kembali kedalam warungnya.
“Bapak punya rokok. Barangkali Kamu suka merokok Den... ini Bapak kasih gratis. ”
“Oh Terima kasih Pak, tapi saya tidak merokok... ” Alfath menolak dengan baik-baik agar Si Bapak tidak kecewa.
“Oh ya udah deh kalau gitu. Malah bagus kalau laki-laki nggak doyan rokok. ”
“Sekali lagi terimakasih banyak ya Pak. ”
“Sama-sama Den... ”
__ADS_1
Tapi, setelah itu mata Alfath yang awalnya redup langsung melebar___