Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 16 Pecel Lele


__ADS_3

Naya


Cepetan... Udah mau mati nih rasanya...


Tak lama kemudian. Naya meneleponnya.


“Hey... Kemana aja, lama banget. Kalau Kamu pulang diatas jam 00.00 Tidak akan bisa masuk rumah. ”


“Diem... Nona Naya yang cantik jelita tidak ada bandingannya. Sekarang, semua toko udah pada tutup. Mau cari kemana lagi. Hah...? ”


“Pokoknya harus dapat. Waktu tinggal enam menit. Sekarang sudah jam 23.54. Siap-siap tidur dihalaman rumah. Sama kelinci dan empus yang comel-comel. Oke... ”. Ancaman Naya membuat Alfath semakin geram. Dia masih berkeliling.


“Pukul 23.55. Sepertinya Aku memang harus tidur sama kelinci deh... Mending Aku pulang aja daripada capek-capek tapi nggak dapat. ”


Jalanan agak macet. Meskipun sudah hampir tengah malam. Alfath sudah berkali-kali menguap. Ingin rasanya segera tidur lelap tanpa ada gangguan makhluk apapun.


Pukul 23.57. Alfath menyetir sambil matanya menutup sebelah. Alias setengah sadar.


Chit...


Tiba-tiba Dia mendadak memancat rem. Seorang laki-laki paruh baya menyebrang tepat di depan mobil Alfath. Untung mobilnya masih bisa di rem. Jaraknya hanya tinggal tiga langkah saja. Alfath segera keluar dari mobil.


“Bapak... Bapak tidak apa-apa? ”


“Maafkan Saya den, saya yang ceroboh. Sembarangan kalau mau nyebrang... ”


“Nggak apa-apa Pak, tadi Saya juga nyetir sambil ngantuk. Mungkin saya yang lebih bersalah... ”

__ADS_1


“Nggak den, Orang tua ini tidak apa-apa... ”


“Yakin Bapak tidak terluka...? ”


“Iya den, Bapak baik-baik saja. ”


“Ya udah Pak kalau gitu. Lain kali Bapak hati-hati ya kalau mah nyebrang... ”


“Mampir dulu den ke warung Bapak... ”


Alfath melirik jam tangan. Pukul 00.00. Telat. Sudah di atas perjanjian Nona Naya. Batinnya.


“Bapak punya warung...? ”


“Itu warung Bapak... Sebagai permintaan maaf Bapak mau kasih sesuatu deh... ”


“Ayok sebentar saja... ”. Laki-laki paruh baya itu sudah menarik tangan Alfath menuju ke warung seberang sana. Alfath tidak bisa menolak. Dia hanya bisa menuruti perintah si Bapak.


“Duduk disini sebentar ya den... ”


“PECEL LELE”


Itulah tulisan yang terpampang di depan warung milik Si Bapak.


“Sepertinya Aden tergesa-gesa. Jadi saya hanya bisa membuatkan Dua porsi pecel lele untuk Aden. ”


“Pak... ini terlalu berlebihan Pak. Seharusnya Bapak nggak usah repot-repot. ”

__ADS_1


“Nggak repot sama sekali. Lain kali Aden kalau lewat boleh mampir kesini kok. ”


“Makasih ya Pak, Oh iya ini ada sedikit rejeki buat Bapak... ” Alfath menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


“Nggak usah Den, Bapak mah mau ngasih Aden. Bapak tau kok kalau Aden orang kaya. Tapi tolong, untuk kali ini Bapak mau sedekah... ”


“Semoga berkah ya Pak... Ya udah Pak, terimakasih banyak ya... Saya mau langsung balik. ” Alfath menyalami tangan Si Bapak


“Aamiin... Sama-sama Den... ”


Dengan langkah gontai. Alfath membawa Dua porsi pecel lele itu dengan senang hati. Satu, karena perutnya benar-benar lapar. Dua, karena pecel lele adalah makanan favorit Dia.


“Den... Den... tunggu sebentar Den... ”. Ketika Alfath hampir saja menyeberang Si Bapak itu tiba-tiba memanggilnya.


“Oh iya Pak... ”


“Sini Den... ” Si Bapak menarik tangan Alfath kembali kedalam warungnya.


“Bapak punya rokok. Barangkali Kamu suka merokok Den... ini Bapak kasih gratis. ”


“Oh Terima kasih Pak, tapi saya tidak merokok... ” Alfath menolak dengan baik-baik agar Si Bapak tidak kecewa.


“Oh ya udah deh kalau gitu. Malah bagus kalau laki-laki nggak doyan rokok. ”


“Sekali lagi terimakasih banyak ya Pak. ”


“Sama-sama Den... ”

__ADS_1


Tapi, setelah itu mata Alfath yang awalnya redup langsung melebar___


__ADS_2