
Jam mata kuliah pertama telah selesai. Para Mahasiswa berlalu lalang kesana kemari. Naya lebih suka main dengan Raisya dan Ayesha. Tujuan pertama mereka kini adalah bakso Paklik Salam.
“Laper banget, mana lama lagi baksonya nggak datang-datang. ” Ayesha memegang perutnya yang keroncongan.
“Sabar dikit napa. Bukan cuma Kamu yang udah laper. Aku juga nih. ” Raisya mulai sebal dengan kelakuan Ayesha yang menggerutu sejak tadi.
“Itu datang tuh. ” Naya menunjuk Si Paklik kebelakang mereka berdua.
“Tapi boong. Hahaha... ”
“Naya... Kamu nyebelin banget sih. Kirain tadi beneran. ” Ayesha kesal karena berhasil di jailin Naya.
“Eh lu kemarin pulang sama siapa? ”
“Oh itu? sama my baby honey Alfath dong. ” Jawab Ayesha sambil cengar cengir kegirangan. Naya sebenarnya terkejut. Tetapi Dia sembunyikan dengan hanya senyum mengamati kedua temannya yang suka konyol itu.
“Hah, yang bener... cowok kayak Dia mana mau pulang sama Kamu... Hahaha... ”
“Nggak percaya? ini lihat...! ” Ayesha menunjukkan sebuah foto selfie di dalam mobil. Saking hebohnya Raisya sampai dia teriak tanpa memperhatikan situasi dan kondisi di sekitarnya. Naya menutup mulut Raisya dengan tangannya.
“Lihat Nay, ini beneran Alfath Nay. ” gantian Raisya menunjukkan foto itu kepada Naya.
Dasar buaya, jalan sama cewek sana, jalan sama sini
“Ya terus ngapain gitu loh kalian seheboh itu? ”
“Aduh Nay, Kamu ini gimana sih. Sejauh mata memandang, Aku belum pernah lihat cowok se-cool Dia di kampus ini. ” Ayesha selalu heboh sendiri setiap kali membahas Alfath.
“Iya juga sih. Tapi apalah Kita Ay, sepertinya Dia itu Sultan. Kau lihat saja penampilannya. Selalu tampil elegant kan. Dia seperti bukan hanya Mahasiswa biasa. Tapi lebih mirip CEO-CEO yang kayak di novel-novel itu loh. ”
“Hahaha, Kau ini ada-ada saja Ra. Perasaan juga biasa aja tuh cowok. Nggak ada menarik-menariknya sama sekali. ” Jawab Naya yang justru membuat mereka berdua semakin menggebu-gebu membicarakan Alfath.
“Naya, Alfath itu sudah pintar, tamp__”
“Sssttt... ” Naya memberikan isyarat kepada Ayesha agar mengecilkan volume suaranya karena di meja pojok sana ada orang yang sedang dibicarakan.
“Hah, ya ampyun... ” Ayesha langsung menutup mulutnya karena dipojokan sana seorang perempuan menghampiri Alfath. Kemudian duduk di sampingnya sambil menempel seperti cicak. Di lihatnya dua teman Alfath laki-laki meninggalkan meja itu.
“Tuh kan, baru aja di bilangin. Kita ini apa, Alfath tidak akan selera dengan orang-orang seperti Kita Ay... ” ucap Raisya dengan kesal. Karena sebenarnya Dia juga diam-diam mengagumi Alfath.
“Udahlah Kita ini udah mahasiswa S2 loh, masak masih ingat bucin-bucinan sih. Seharusnya Kita itu fokus pada diri Kita sendiri. Kalau memang jodoh pasti juga akan kembali kok. ” ucap Naya dengan bijak mengingatkan kedua temannya tersebut.
“Iya Nay makasih ya udah ngingetin Kita. ”
“Ya udah ayo dimakan, nanti keburu dingin. ” Paklik Salam menyajikan bakso idola mahasiswa kehadapan Mereka bertiga.
“Siapa perempuan itu? ” batin Naya dalam hati. Dia penasaran dengan perempuan yang tiba-tiba mendatangi Alfath. Wajahnya belum kelihatan karena kursinya memang membelakangi gerombolan Naya.
...****************...
__ADS_1
“Kau kenapa kesini? ” tanya Alfath dengan dingin.
“Fath, apa Kamu lupa kalau Aku ini Mahasiswa baru? Aku baru sehari loh dikampus ini. Jadi ya maklum lah kalau belum punya teman. ”
“Kau seharusnya langsung akrab saja dengan teman sekelasmu. ”
“Ya nggak enak lah kalau tiba-tiba sok akrab gitu. Mending jalan sama Kamu aja. ”
“Aku udah selesai ya, kalau Kamu mau makan, makan aja disini. Makannya enak-enak kok nggak kalah sama direstoran termahal kesukaanmu. ” Alfath memalingkan tubuhnya, ingin cepat-cepat pergi dari perempuan itu.
“Kamu temenin dong... Fath, gimana sih kok malah di tinggalin. Fath... ” Alfath lari terbirit-birit agar tidak ikuti perempuan itu.
“Ha, Bella? Dia kuliah disini juga? ” Naya kaget saat melihat wajah perempuan itu mau menyusul Alfath.
“Kamu kenal Dia Nay...? ” tanya Ayesha menyelidik.
“Ssttt... ” Naya merubah posisi duduknya.
“Kenapa...? ” Ayesha menurunkan volume suaranya.
“Dia pernah jadi teman dekatku. Namanya Bella, nanti kalau Dia udah pergi kasih tau ya. Aku nggak mau di samperin Dia. ”
“Oh gitu, kenapa emangnya? ”
“Ilfeel aja. Tadi kalian lihat sendiri kan pas lagi nempel-nempel sama Alfath. Aku mah risih tau. ”
“Nggak tau, tanya aja sendiri pada orangnya. ”
“Eh udah pergi tuh perempuan gatel. ” Naya membulatkan matanya.
Oh ya?
“Iya Nay. ”
“Huft... ya udah ayo balik. Lewat tangga aja ya biar nanti nggak ketemu sama Bella. ”
“Oke deh Nay. ” mereka bertiga meninggalkan restoran mini paklik Salam.
Naya
Aku nanti pulang bareng Raisya
^^^Cling... satu pesan muncul di layar ponsel Alfath. Langsung centang biru dua. ^^^
^^^Alfath^^^
^^^Mau kemana? ^^^
Naya
__ADS_1
Bukan urusanmu
^^^Alfath^^^
Ini juga urusanku. Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana Aku akan mengajakmu ke kantor hari ini.
Naya
Lain kali aja
^^^Alfath^^^
Tidak bisa. Ada sesuatu yang harus Aku tunjukkan
Alfath menunggu balasan dari Naya. Tapi hanya di read. Dosen matakuliah selanjutnya memasuki ruangan. Alfath masih menunggu balasan dari Naya. Naya dan kedua kawannya baru masuk saat Dosen sudah berada di dalam kelas. Alfath sengaja duduk di kursi depan agar bisa berbicara dengan Naya. Di tatapnya gadis itu saat berjalan menuju ke kursi.
Ngapain lihat-lihat... batin Naya saat diperhatikan Alfath sejak masuk. Alfath menunjuk ponselnya memberikan isyarat kepada Naya untuk membuka pesan darinya. Naya hanya mendengus tidak mengabaikan Alfath.
Biarin aja, Aku tidak akan pulang sebelum Dia minta maaf...
Satu jam yang membosankan akhirnya selesai juga. Naya mengemasi buku-bukunya.
“Aku ikut pulang kalian deh. ”
“Yang bener? ”
“Yeah... ”
“Ya udah kalau gitu Kita nongki aja dulu. Habis itu ikut ke kosanku, setuju nggak? ” ucap Raisya menawarkan.
“Kalau gitu anterin Aku ambil motor di bengkel dulu Ra, biar nanti Kita bisa main sama-sama. ”
“Oke. Berarti Naya tunggu disini dulu. Atau Kita langsung ropel tiga biar nggak bolak balik. ”
“Hey, itu ide konyol Ra. Aku nggak mau nanti sepanjang jalan dikatain cewek cabe-cabean. ” protes Naya mendengar ide konyol Raisya.
“Iya juga sih. ” Raisya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Akhirnya Naya menunggu kedua sahabatnya di depan kampus. Sebuah mobil berhenti tepat dihadapannya. Seorang laki-laki membuka pintu celingukan memastikan tidak ada yang melihat. Kemudian menghampiri Naya.
“Cepetan masuk... ” laki-laki itu yang tak lain adalah Alfath menarik tangan Naya hingga masuk ke dalam mobil kemudian langsung mengunci pintunya dan melajukan mobilnya.
“Aku mau main sama temen-temen. Turunkan Aku disini. Mereka pasti menungguku. ” protes Naya dengan penuh amarah.
“Ada hal penting yang harus Kita bicarakan Nay... ” wajah Alfath berubah menjadi serius.
“Sepenting apa...? ”
“Nanti saja. Tidak disini. ”
__ADS_1