
“Ada yang harus Papa bicarakan sama kalian berdua. ” setelah makan malam di rumah Naya itu selesai, Pak Hakim to the point membahas sejauh mana hubungan mereka berdua.
“Tolong kalian jawab jujur nak, Papa nggak mau kalian berdua lama-lama tertekan akibat pernikahan ini. ” Pak Firman juga mendesak mereka agar menjawab dengan jujur. Naya dan Alfath hanya diam.
“Kenapa Papa nggak memikirkan dari dulu sebelum mengambil tindakan...?” Naya mulai angkat bicara dengan tegas.
“Tidak ada maksud lain, Papa hanya ini menjodohkan anaknya dengan orang yang tepat. ”
“Dari dulu Papa memang egois. Nggak pernah mikir gimana nasib anaknya.” baru kali ini Alfath berani mengatakan hal tersebut kepada Papanya.
“Maaf, Papa pikir dengan kalian menikah semua akan baik-baik saja. ”
“Sudah Mama bilang kan Pa, sekarang itu udah nggak jamannya perjodohan. Yang ada malah Papa merusak masa depan anak Kita. ”
“Cukup. Naya nggak ingin berdebat.” Naya berkata dengan nada sedikit keras. Membuat suasana di meja makan mendadak hening.
“Pikirkan baik-baik, masih ada waktu dua bulan untuk mengambil keputusan. Jangan sampai Kamu salah. Papa balik dulu... ” Papa Firman dan Mama Sindi pergi. Disusul Papa Hakim dan Mama Vivi juga pergi.
“Fath, ingat pesan Papa. Jangan sampai salah mengambil langkah. ” Papa Hakim menepuk pundak Alfath. Sedangkan Naya masih mematung. Tidak merespon sama sekali saat orangtuanya pergi.
Alfath meraih tangan Naya kemudian menggenggam erat tangan mulus itu. Naya juga memberikan respon yang sama.
“Kita hadapi sama-sama ya Nay... ” Naya mengangguk. Kemudian tersenyum.
“Udah, kok masih cemberut aja sih. Nggak jadi cantik tuh... ” Alfath mencubit hidung Naya.
“Aw... Kamu ya, sakit tau... ” Naya balik mencubit perut Alfath.
__ADS_1
“Tuh kan, yang ngajarin siapa... ”
“Yang mulai duluan siapa...? ”
“Kamu lah, sejak kemarin-kemarin juga Kamu yang mulai nyubit perutku duluan... ”
“Dasar ya... ” Naya mencubit perut Alfath lagi.
“Aduh... udah-udah. Ampun deh... ”
...****************...
Naya mengambil laptopnya kemudian berselancar dalam aplikasi kesukaannya. Aplikasi menulis online. Sudah banyak buku yang berhasil ditulis Naya, mulai dari kisah nyata tentang kehidupannya sendiri hingga cerita-cerita fiksi hasil menghalu.
“Kayaknya asyik banget nulisnya... ” Naya dikejutkan oleh Alfath yang mengintip dari balik punggungnya.
“Udah lanjutin aja. Aku nggak akan baca kok. ” Naya terkejut saat wajah Alfath sudah menyandar di lehernya. Tangannya memeluk Naya dari belakang. Naya merasakan deru nafas Alfath berhembus di pipi kiri. Buku kuduknya merinding.
Kenapa jadi merinding ya, kayak ada hantu...
“Nay... ” Alfath berkata dengan serak sambil menciumi rambut Naya.
“Hmm... ” Naya memutar kursinya.
Cup... satu kecupan hangat mendarat di bibir Naya. Alfath mengulang lagi beberapa kali, sampai pada akhirnya adegan itu semakin dalam. Naya semakin lincah merespon Alfath.
Tanpa disadari, tangan Alfath sudah merayap kemana-mana. Masuk kedalam dress Naya, kemudian tiba di sebuah pucuk gunung kembar. Alfath memainkan benda itu sampai Naya merasakan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
“Fath... tangan Kamu... ” Naya berusaha menyingkirkan tangan besar itu, tapi keadaan berbalik. Naya justru mengeluarkan ******* yang membuat Alfath semakin bersemangat bermain di dadanya.
“Ah... ” tangan Alfath mengabsen setiap inchi tubuh Naya hingga turun kebawah sana. Tangannya bermain di bagian bawah Naya.
“Tangannya nakal, ih... ”
“Kita sudah pernah melakukannya. Malam ini Kita ulangi lagi ya sayang... ” Alfath membisikkan di telinga Naya dengan suara berat. Naya semakin gugup tapi Alfath lagi-lagi membuat dirinya melayang. Dia berselancar dengan lidah di bawah sana.
“Tidak... Fath... hentikan... ” sebagai manusia normal, hati dan ucapan Naya tidak sejalan. Dia ingin menolak, tapi tangannya semakin membenamkan kepala Alfath ke bagian intinya.
“Fath... ” Dia merasakan bagian bawahnya seperti tersumbat.
“Keluarkan sayang, jangan di tahan... ” Tangan Naya menarik rambut Alfath. Dia keluarkan sesuatu yang mengganjal itu.
“Huft... ” Dia bernafas lega karena cairan itu sudah keluar. Alfath dengan semangat langsung menyeruputnya.
“Fath hentikan...” Naya mendorong tubuh Alfath saat Dia mulai sadar dengan adegan yang Mereka lakukan. Tapi Alfath tidak memperdulikan Naya sama sekali. Dia telah melepaskan seluruh pakaian Naya dan telah menuntun istrinya ke tempat tidur. Naya yang tadinya berusaha memberontak kini kembali melayang akibat ulah Alfath yang menikmati gunung kembarnya.
“Jangan lakukan ini Fath... ”
“Tenang sayang, Aku akan melakukannya dengan sangat lembut. Toh Kita juga sudah pernah melakukannya. ”
“Tapi... Ah... itu kan di jebak... ”
“Karena kemarin di jebak, jadi sekarang mari Kita lakukan dengan senang hati... ”
“Ini kemauanmu,bukan Aku... aw... ” Alfath yang tidak sabaran, kini sudah menancapkan juniornya tanpa aba-aba.
__ADS_1
“Sabar ya, rasa sakitnya cuma sebentar kok... ” dan benar apa kata Alfath, rasa sakit yang dirasakan Naya berganti dengan kenikmatan. Hingga akhirnya mereka sampai pada puncak pelepasan. Malam itu adalah malam yang indah bagi Mereka berdua.