
Naila berangkat ke kampus di antarkan oleh Papanya. Mama Sindi telah bercerita mengenai sesuatu yang ada di leher Naya.
“Awas ya kalau kamu ketemuan lagi sama Alfath...” ancam Papa Firman kepada Naya.
“Kenapa sih Pa, Papa nggak seharusnya misahin Aku sama Dia selama ini. Papa nggak ingat ini...?” Naya mengusap perutnya yang masih datar.
“Naya, Papa nggak suka kalau kamu terus membela Alfath seperti ini. Dia itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Naya diam. Sepertinya Dia harus benar-benar mengalah.
“Ya sudah Pa, Naya masuk dulu... ” Naya mencium punggung tangan Papanya.
“Ingat, jangan dekat-dekat Alfath. Atau Papa akan sekalian bawa kamu keluar negeri.”
“Papa...”
Wush... Pak Firman mengabaikan Naya. Dia melajukan mobilnya keluar dari area kampus anaknya.
“Papa selalu begitu...” Naya merutuki Papanya yang sudah berbuat kejam kepadanya. Tangan Naya tiba-tiba ditarik oleh seseorang.
“Raisya kamu selalu begini... ” orang itu menarik tangan Naya sampai si empunya masuk kedalam pelukannya.
“Mana ada Raisya hmm...? ”
“Kamu ngagetin aja... Aku kira tadi Raisya atau kalau nggak gitu ya Ayesha yang suka jail. Kamu kenapa sih main tarik-tarik... ”
“Soalnya mau bikin kejutan... ” Naya mendorong dada bidang orang itu, yang tak lain adalah Alfath. Suaminya sendiri.
__ADS_1
“Mesra dikit nggak boleh ya...” Alfath mendekatkan tubuh Naya agar lebih dekat dengan dirinya.
“Nanti di lihatin orang... ”
“Disini sepi sayang... boleh ya... ” mata Alfath memberikan tatapan sendu penuh arti.
“Boleh apanya...? ” tanpa memberikan jawaban, Alfath sudah ******* bibir mungil Naya yang sudah menjadi candu baginya.
Mph...
“Jangan disini, ini tempat umum... ” Naya mendorong suaminya agar melepaskan tautannya.
“Yaudah ayo... ” Alfath menarik lengan Naya agar mengikuti dirinya untuk masuk kedalam mobil. Setalah itu Dia langsung menekan pedal gas agar mobilnya melaju jauh dari halaman kampus.
“Kamu nggak buka grup...? hari ini nggak ada jam kuliah, soalnya SKS kita udah selesai.”
“Yang bener kamu...? ”
“Coba sekarang buka ponselmu...” Alfath tersenyum penuh kemenangan saat ucapannya dibenarkan oleh Naya.
“Terus kita mau kemana sekarang...? Papa sama Mama tau kalau kemarin kita ketemu.”
“Loh kok bisa sih, tau darimana emang...? ”
“Ini... ” Naya menunjuk lehernya yang masih ada bekas ****** karya suaminya kemarin.
__ADS_1
“Astaga, ini memalukan...” Alfath membelalakkan matanya saat melihat tempat yang di tunjuk Naya.
“Kamu sih bikin tandanya sembarangan. Jadi ketahuan kan sama Papa Mama.” Naya memanyunkan bibirnya.
“Yaudah nanti kita buatnya di bagian dalam atau bawah aja ya...”
“Dasar suami mesum. Yang di ingat cuma itu mulu...”
“Ya wajar dong kalau mesum sama istri sendiri. Tapi nanti kita buatnya habis periksa kandungan ya...”
“Kok sekarang sih, ini belum waktunya... ”
“Nggak masalah kan kalau kita sering periksa. Yang ada malah makin bagus. Aku udah konfirmasi kok sama dokrer. Katanya nggak apa-apa.” percakapan mereka berhenti sampai disitu karena ternyata Naya sudah terlelap di alam mimpi.
“Naya bangun, udah sampai.” sentuhan Alfath membuat Naya bangun gelagapan.
“Sampai dimana kita...? jangan sampai pelakor itu datang...” Alfath tersenyum melihat istrinya yang baru saja bangun. Dia merapikan anak rambut Naya.
“Bersihin tuh ilernya... ”
“Hah, mana ilernya...? sebelah mana...? ”
“Disini...” Alfath mengecup bibir mungil Naya. Kemudian tersenyum penuh kemenangan.
“Dasar tukang modus...” Naya mendorong tubuh Alfath yang mendekat kepadanya. Kemudian Dia turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras.
__ADS_1