
“Makasih ya...”
“Kenapa harus berterima kasih sih Nay, itu memang sudah seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawabku bukan...? ” Naya tersenyum.
“Jangan senyum-senyum sendiri dong. Entar makin manis, dan Aku tidak akan bisa menahan adik kecilku untuk tidak bangkit. ” seketika ekspresi wajah Naya langsung berubah menjadi canggung. Dia memalingkan wajahnya melihat pemandangan diluar.
“Nay, kenapa diam...? ”
“Nggak apa-apa. Cuma mikir dikit, kenapa Aku harus dipertemukan dengan preman mesum sepertimu. Preman pembegal, perenggut kesucian seorang gadis. Huhu... ” Naya mendengus. Alfath bukannya marah justru menarik wajah Naya agar menghadap kepadanya.
“ngapain sih ihh... ”
“Aku akan menghabisi korban pembegalan sekarang juga, sampai tak berdaya. Okey... ”
“Hih dasar mesum... mana otak yang dulu cerdas itu? punya otak kok dibuat mikirin hal yang mesum mulu, pasti udah terkontaminasi sama virus, bakteri dan jamur tuh... ”
“Oke, karena korbannya malah menantang. Maka preman itu akan membuatnya lebih parah daripada terserang virus, bakteri dan jamur. Baiklah kalau begitu, korban harus siap-siap untuk di eksekusi. ”
“Sesuai dengan undang-undang, korban akan memanggil polisi dan tim pemadam kebakaran.”
“Itu tidak bisa, karena korban tidak boleh berteriak dengan suara kencang agar tidak mengganggu orang lain. ”
“Hmm, udah-udah males Aku tuh sebenarnya mendebatkan hal yang nggak penting kayak gini. Mending mampir ke restoranku aja deh, perut udah keroncongan nih... ”
“Gimana kalau Kita makan dikantor aja...? ”
“Dikantor mana ada makanan...? lagian nanti orang lain bisa curiga loh sama Kita”
“Naya, Kita beli makanan diluar, terus di bungkus dan dimakan dikantor. Begitu maksudnya sayang... ”
“Kok kaya geli-geli gimana gitu Kamu manggil Aku kayak gitu... ”
“Iya soalnya belum terbiasa. Entar kalau udah biasa juga malah kecanduan dipanggil sayang kok. Makanya Kita coba terus biar terbiasa. ”
“Terserah deh, males debat. ”
“Jadi gimana? Kita beli makanan diluar ya, tapi makannya nanti aja di kantor. Oke...? ”
“Yaudah deh terserah... ”
“Dasar perempuan, bisanya cuma bilang terserah. Nanti ujung-ujungnya juga protes. ” Alfath menggerutu dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh Naya.
“Aduh... kebiasaan deh... ” Naya mencubit perut Alfath yang agak berisi itu.
__ADS_1
“Siapa yang mulai duluan hah... ? ”
“Udah sampai nih Kita. Kamu mau ikut nggak...? ”
“Nggak, Aku disini aja. ” setelah beberapa menit Alfath datang dengan membawa dia kantong plastik makanan.
“Kok banyak banget...? ”
“Katanya Kamu laper banget. Makanya Aku belikan makanan banyak. ”
“Nggak segitu juga kali. ” tak butuh waktu lama akhirnya mereka sudah sampai didepan kantor Alfath. Para karyawan menunduk hormat saat Alfath memasuki pintu utama gedung. Yang menjadi pusat perhatian lagi, Alfath membawa dua kantong plastik sesuatu yang baunya semerbak kemana-mana. Naya menyusul dibelakangnya setelah dipastikan Alfath sudah berada di ruang kerjanya.
“Aku udah laper banget sumpah. Lagian karyawan disini itu kenapa sih pada ngelihatin mulu. Kan Aku jadi makin laper kalau nahan malu. ”
“Yaudah Kita makan sekarang. Aku juga udah laper banget. ” Alfath dan Naya membuka makanan yang mereka beli dari luar.
“Nay, itu apaan...? pasti ada terongnya ya...? ”
“Emang iya. Ini tuh rasanya enak banget tau... ” Naya memakan masakan itu dengan lahap. Tapi tidak dengan Alfath. Dia justru ingin muntah saat mencium aroma masakan yang terbuat dari terong.
Hoek... hoek... Alfath lari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya. Dia keluar dalam kondisi lemas.
“Fath, kok lemes banget sih... ?” tanya Naya kepada Alfath yang langsung menjatuhkan tubuhnya disofa.
“Jangan deketin Aku kalau Kamu lagi makan terong. Aku akan muntah terus menerus saat mencium benda itu... ”
“Aku dari kecil nggak suka. Ya geli aja bentuknya seperti tongkatnya orang laki-laki. ”
“Hih, dasar mesum. ”
“Tolong cariin minyak angin di sana dong Nay... ” Alfath berkata sambil memejamkan matanya. Bibirnya pucat. Naya mengoleskan minyak angin di leher dan dibawah hidungnya.
“Fath, bangun... cengeng banget sih jadi laki. Masak nyium bau terong aja pingsan... ” Naya menepuk-nepuk pipi Alfath dengan sedikit keras.
“Hei, bangun... ”
“Naya, siapa juga yang pingsan. Aku cuma ngantuk. Pengen memejamkan mata sebentar saja udah di tabokin sejak tadi. ”
“Astaga... bilang dong kalau nggak pingsan. Bangun, makananmu belum habis tuh. Siapa yang mau habisin makanan sebanyak itu hah...? ”
“Laper, tapi suapin... ” rengek Alfath seperti anak kecil yang manja.
“Buka matanya, gimana mau makan kalau matanya ditutup terus... ”
__ADS_1
“Hak... ” Alfath membuka mulutnya lebar-lebar agar Naya menyuapkan makanan. Naya hanya menggeleng melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
“Uhuk... uhuk... ”
“Tuh kan udah dibilangin. Makan itu sambil duduk, bukan sambil tiduran. Nih minum... ” Naya membantu Alfath minum. Wajahnya kini sangat dekat dengan Alfath. Detak jantungnya menjadi lebih cepat dibanding biasanya. Tapi selain itu, ternyata Dia juga mendengar detak jantung lain.
“Fath, jantungmu...? ”
“Iya... Kamu juga. Entah kenapa setiap kali Aku berdekatan dengan mu itu rasanya berisik sekali. ” Alfath menatap Naya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tangannya menarik dagu Naya agar lebih dekat dengan wajahnya. Naya hanya memejamkan matanya pasrah.
Cup... satu kecupan mendarat di bibir Naya. Tapi bersamaan dengan itu, seseorang mengetuk pintu dari luar.
tok... tok... tok... sudah berkali-kali pintu diketuk. Tapi tidak ada balasan dari dalam. Orang itu memutuskan untuk langsung membuka pintu ruangan Alfath. Karena Dia sudah sangat hafal, jika tidak ada jawaban pasti Alfath telah ketiduran atau sedang dikamar mandi.
“Permisi Pak, izin melapor__” saat Dia membuka pintu dan belum selesai berbicara, ada pemandangan luar biasa didalam sana.
“Mph... ” Naya mendorong tubuh Alfath agar menjauh darinya.
“Itu asisten Herdi datang... ” Naya segera membentulkan posisi duduknya yang tadinya sudah diacak-acak oleh Alfath.
“Masuk Her... ”
“Maaf permisi Pak... ” muka Herdi agak kikuk setelah menyaksikan adegan bosnya tadi dengan mata kepalanya sendiri.
“Ini...? ” Alfath langsung mengernyitkan dahinya saat membaca laporan yang dibawa Herdi.
“Ini Bella si wanita gat*l itu...? ”
“Betul Pak, nah itu tadi yang mau saya tanyakan saat pagi-pagi menelepon Bapak. Tapi nggak ada jawaban sama sekali, yaudah berarti Dia fiks diterima kerja di sini. ”
“Kenapa harus Dia...? nggak ada orang lain apa...?”
“HRD bilang hanya Dia yang memenuhi kriteria Pak... ”
“Panggil HRD sekarang juga. Suruh Dia kesini... ” Herdi langsung mengiyakan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
“Ada apa dengan Bella...? ”
“Dia melamar kerja disini. Dan buruknya lagi, Dia lolos untuk kerja disini. ”
“Maunya apa sih orang itu, toh Papanya juga punya perusahaan sendiri. Ngapain masih ingin kerja ikut orang lain...? ”
...****************...
__ADS_1
Disisi lain
“Yes, rencana Kita berhasil. Tinggal menunggu hasilnya nanti malam aja... ” dua orang sedang berpesta merayakan kemenangan mereka. Pelayan sudah menuangkan minuman beralkohol berkali-kali.