
Kejadian di ruang kerja Alfath
Brak...
“Katakan pada Papa...! ini maksudnya apa...?” Pak Firman datang secara tiba-tiba membuat Alfath terkejut.
“Ini ada apa Pa...? Alfath nggak ngerti, Papa tolong tenang dulu ya Pa...” Pak Firman menarik napasnya panjang. Lalu menyodorkan ponselnya kepada Alfath.
“Tolong jelaskan pada Papa tentang video ini...!” Alfath memutar video yang dimaksud mertuanya. Video itu hanya berduarasi 15 detik, akan tetapi disana tampak jelas bahwa pemainnya adalah Alfath.
“Papa dapat video ini darimana...? ini nggak bener Pa__” belum sempat Alfath menjelaskan kepada mertuanya yang dadanya sudah naik turun, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Plak...
“Ternyata memang ada benarnya Naya meminta cerai dari kamu, saya tidak mengira jika kelakuanmu dibalik kebaikan sangat bej*t...”
“Papa, tolong bilang siapa orang yang sudah menyebarkan video itu...? saya bisa menjelaskan Pa...”
__ADS_1
“Video panas kamu itu, sudah menyebar kemana-mana. Bahkan digrup chat kantor kamu, juga kantor Papa. Apalagi yang mau kamu jelaskan. Hah...”
“Papa percaya kan sama saya, itu tidak benar Pa. Alfath tidak pernah melakukan itu. Itu pasti ulah orang yang mau menjatuhkan kita Pa...”
“Diam ditempatmu. Aku akan menelepon Hakim dan Naya untuk datang kesini. Ini masalah besar yang harus segera diselesaikan. Setelah ini, saya akan mengurus surat cerai untuk kalian...”
“Halo... segera merapat ketempat Alfath. Saya tunggu.”
Huft... cobaan apalagi ini...? Alfath mengusap wajahnya kasar. Tak perlu waktu yang lama, akhirnya semua orang sudah berkumpul. Dari pihak keluarga Alfath dan Naya.
“Saya pikir sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi kan, hari ini juga saya akan mengurus surat perceraian kalian.” ungkap Pak Firman yang membuat kaget semua orang.
“Naya stop...! kamu benar, tapi untuk saat ini tidak ada yang perlu diperbaiki lagi. Papa rasa akan lebih baik jika perceraian kalian dipercepat.”
“Firman, ini pasti ulah orang yang tidak suka dengan keluarga Kita.” sanggah Pak Hakim membela anaknya.
“Anakmu, tidak sebaik yang kau kira. Aku kecewa telah menikahkan dengan putriku. Jadi, lebih baik putriku janda daripada harus menjalani rumah tangga dengan laki-laki brengsek seperti anakmu.”
__ADS_1
“Papa percaya kan sama Aku... Aku nggak melakukan itu Pa, Aku akan buktikan kalau tidak melakukannya.” ujar Alfath meyakinkan Papanya sendiri.
“Naya lihat ini...!! ” Pak Firman menyodorkan ponselnya kemudian memutar video agedan Alfath dengan seorang perempuan.
“Papa... jadi ini beneran Pa...? ” Naya langsung lemas berlutut di lantai. Matanya berkaca-kaca.
“Maksud kamu sudah pernah dengar berita ini Naya...? ” tanya Papanya. Semua orang menunggu jawaban Naya.
“Naya, tatap mataku...!!! kamu pasti percaya, Aku tidak seburuk yang kalian kira. Please percaya Naya...” Alfath mengguncangkan tubuh Naya yang mematung sambil mengalirkan air matanya. Tatapannya kosong. Alfath menepuk pipi Naya agar mau mendengarkan ucapannya.
“Beberapa hari lalu, Aku menemukan bekas bibir perempuan dibajumu. Aku diam saja, mungkin itu milikku. Tapi, Aku tidak memiliki warna lipstik yang begitu. Berarti dugaanku salah. Kedua, beberapa hari lalu, Aku menemukan sebuah lipstik dijasmu. Pikiranku mulai kacau, mulai ragu dengan kata-kata manismu. Ketiga, barusaja kemarin dijasmu ada sebuah alat kontrasepsi yang sudah terbuka. Aku bersikap biasa saja karena ingin mencari tahu kebenarannya sendiri. Tapi hari ini, Aku percaya jika kamu selingkuh... hiks... hiks...” tangis Naya semakin pecah, Papanya memeluk Naya dalam-dalam.
“Papa tahu saat ini kamu sangat terluka. Akan lebih baik jika Papa hari ini mengurus surat perceraianmu Naya...”
Alfath memijat pelipisnya saat menyaksikan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan di depan matanya.
“Papa tidak bisa seenaknya memutuskan seperti itu. Ini urusan saya dengan Naya Pa. Biar kami selesaikan bersama. Karena itu salah paham yang sudah mengakar.”
__ADS_1
Plak... satu tamparan mendarat di pipi Alfath lagi.
“Brengsek... sudah bikin kesalahan tapi masih nggak mau ngaku.”