
“Terima kasih Ayang...” Naya mencium pipi Alfath setelah menghabiskan rujak buah permintaannya. Alfath senyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya yang semakin menggemaskan.
“Jangan-jangan kesambet...? ” Naya menyentuh kening Alfath, berakting untuk memastikan suaminya yang senyum-senyum sendiri. Tapi Na'as baginya, Alfath justru menarik tubuh Naya hingga jatuh di atas pangkuan Alfath.
“Kamu semakin menggemaskan...” Alfath mencubit pipi mulus Naya yang berhiaskan make up tipis. Naya mengalungkan kedua tangannya di leher Alfath. Dia tatap lamat-lamat suaminya yang tampan.
“Emang dari dulu. baru sadar...?”
“Iya baru sadar, soalnya kamu yang dulu main jaim-jaiman nggak kayak sekarang. Lagian dulu ngapain sih pake menyumpahin diri sendiri...? ”
“Nyumpahin apa...? ” Alfath tersenyum mendengar Naya balik bertanya kepadanya.
“Sepertinya Aku berhasil membuatmu amnesia. Bahkan kamu nggak ingat, dulu berkomitmen untuk tidak mencintai laki-laki manapun... ” Ledek Alfath kepada Naya membuat istrinya itu memanyunkan bibir.
“Tidak ada yang perlu di bahas dari masa lalu...” ekspresi wajah Naya berubah menjadi datar.
“Ada hal penting yang harus kita bicarakan Nay... ”
“Apa...? ” Naya turun dari pangkuan Alfath kemudian mengambil posisi duduk disampingnya.
__ADS_1
“Mukanya serius banget sih, emang mau bahas apa...? ” pipi Alfath di tepuk oleh Naya karena Dia hanya bengong tak kunjung bicara.
“Banyak Nay...tentang hubungan kita, terus surat cerai dan orang yang telah memfitnahku selama ini.” Alfath berbicara sesederhana mungkin agar Naya tidak tersinggung dan moodnya tidak berubah.
“Kamu sudah menemukan pelakunya...? ” Alfath mengangguk mantap. Dia berhasil memecahkan masalah itu. Akan tetapi pelakunya masih berkeliaran tidak bisa ditemukan.
“Siapa...? kasih tau sekarang please...? ”
“Naya, kita akan membahas dua masalah yang awal dulu. Jadi, Aku akan secepatnya membawa kamu tinggal dirumah ini agar kita bisa sama-sama terus...”
“Tidak semudah yang kita bayangkan Fath, sulit menghadapi Papa yang sekarang ini.”
“Sudah Aku robek... hehe...” disituasi seperti ini Naya masih bisa cengengesan. Padahal Alfath sudah memasang tampang serius.
“Naya, kamu jangan aneh-aneh deh...”
“Beneran, Aku nggak bohong... ” Naya mengangkat dua jarinya agar Alfath percaya. Suaminya hanya menepuk jidat.
“Seharusnya kamu tidak lakuin itu Naya, Aku punya rencana lain...”
__ADS_1
“Sudah terlanjur, mau gimana lagi. Aku sudah tidak sabar mendengarkan masalah ketiga. Jadi siapa pelakunya...? ”
“Dugaan Herdi tidak pernah salah, pelakunya adalah Bella... ” Naya menutup mulutnya kaget saat suaminya menyebut Nama itu.
...****************...
Hiks... hiks... hiks... Bella menangis sendirian di kamarnya. Dia meratapi betapa buruk nasibnya saat ini yang hanya tinggal di sebuah kontrakan kecil.
“Dasar laki-laki sialan, kamu sekarang di mana Rangga...kenapa kau tinggalkan Aku sendiri disaat yang seperti ini.” tangisnya semakin pecah saat Bella memegangi perutnya yang sudah semakin padat tapi belum ketara.
“Mana janji manismu dulu, kamu bilang akan menemaniku sampai mendapatkan Alfath. Tapi buktinya mana, Aku justru tidak mendapatkan keduanya. Yang ada malah dapat penderitaan yang sangat berat.”
hiks... hiks...
“Aku akan menggugurkan bayi ini jika dua bulan lagi Rangga tidak menampakkan batang hidungnya.” Bella meremas perutnya sampai akhirnya meringis kesakitan.
“Aw...”
“Bukan, ini semua bukan salah Rangga tapi salah Alfath. Semua berakar dari Alfath. Andai saja dia tidak menolakku pasti semua ini tidak akan terjadi. Tunggu pembalasanku, Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia... ” Bella mengepalkan tangannya untuk mengumpulkan segala macam kekuatan.
__ADS_1