
Tin... Alfath menekan klakson. Matanya celingukan kesana kemari memastikan agar tidak ada orang yang melihat. Naya segera masuk juga berharap tidak ada seorangpun yang memergoki Dia masuk kedalam mobil laki-laki.
“Aku mau ke kantor. Kamu mau Aku antar pulang dulu atau sekalian ikut ke kantor juga...? ada Papa disana. ”
“Pulang aja deh. Aku capek. Pengen mandi, terus makan habis itu tidur. ”
“Yaudah Aku anter Kamu pulang dulu. ”
“Nggak usah, suruh Pak Komar jemput ke kantor aja. Aku nggak mau ngerepotin. ” Kali ini nada bicara Naya lebih bersahabat. Tidak seperti biasanya yang selalu ngegas, atau seperti musik rock.
“Nggak biar Aku aja yang anter. ”
“Atau suruh Herdi juga gapapa kok. ”
“Hei... katanya nggak mau ngerepotin orang. Nah itu malah merepotkan tau... ”
“Kan memang udah pekerjaan mereka.”
“Nurut. Titik. nggak ada penolakan atau Aku akan berhenti bersandiwara di depan Papa Mama. ” Alfath mengeluarkan jurus ampuh yang selalu membuat Naya tidak bisa berkutik. Naya akhirnya memilih diam kemudian memutar musik jazz.
__ADS_1
“Matikan...!!! ” Alfath berkata dengan dingin.
“Enggak. Ini musik pengantar tidurku. Aku tidak akan bisa tidur kalau tidak mendengarkan musik. ”
“Perintah... ” kali ini Alfath menekan suaranya lebih dalam. Membuat Naya sedikit merinding. “Eh ternyata serem juga ya orang ini. ” batinnya dalam hati. Dia pura-pura tidak mendengarkan Alfath. Menaikkan volume musik kemudian memjamkan matanya. Alfath langsung mematikan musiknya.
“Aku sedang tidak ingin mendengarkan suara musik. ”
“Hentikan hei...itu lagu favorite Aku. ” ucap Naya dengan intonasi tinggi. Ekspresi wajah Alfath tiba-tiba berubah menjadi dingin.
“Aku ingin Kau menemaniku saat berkendara. Untuk itu Aku tidak ingin mendengarkan musik apapun. ”
“Hmm... ya udah kalau begitu Aku akan tidur saja.” Jawab Naya dengan malas. Jilbabnya sudah berantakan, wajahnya sangat kusut.
“Lalu...? maumu apa...? ”
“Aku ingin kau bercerita. ”
“Kau ini malah seperti anak kecil yang suka nyuruh orang dewasa bercerita. ”
__ADS_1
“Bukan anak kecil saja yang suka mendengar cerita. Bahkan kau tau, orang dewasa yang sudah ringkih pun suka. ”
“Kau mau Aku bacakan cerita apa...? si kancil, si kaya atau si miskin...? ” ledek Naya kepada Alfath.
“Kau dulu pernah jatuh dari tangga kan saat masih kuliah S1 dan itu membuat kakimu terkilir bukan?”
“Hah... yang mana? ”
“Dulu di tangga perpustakaan. ”
“Perasaan nggak pernah tuh. ”
“Iya Aku inget kok. Dulu Aku sering memperhatikanmu secara diam-diam... ” Alfath keceplosan. Mata Naya langsung membulat terkejut.
“Ups... maksudnya pernah ngelihat duduknya Kamu diam ditangga itu. ” sanggah Alfath ngeles karena sudah terlanjur di ucapkan kata-katanya. Tapi Naya bukanlah gadis kecil yang mudah dibohongi. Dia memekik dalam hati. “Emang umurku masih kecil. Tapi kenapa manusia ini nggak pinter sekali kalau mau ngeles. Lagian kata-kata nya juga terbalik-balik. ”
“Hei... malah senyum-senyum kebaperan. Aku kan cuma ngetes. ” ujar Alfath kepada Naya. Dia sengaja ingin mengenal Naya lebih jauh. Sehingga Dia perlu banyak berbincang agar perlahan-lahan bisa berusaha untuk mencintai perempuan pilihan kedua orangtuanya itu.
“Kau kenapa sih, kepo banget sama hidupku? Aku tuh nggak suka sama orang yang seperti Kamu. ”
__ADS_1
“Suka nggak suka mah terserah. ”
“Yang penting bisa nikah kan, bukannya begitu Tuan muda Alfath... ” Naya sengaja memojokkan Alfath agar Dia mengaku.