
“Kau sudah siap? ” tanya Alfath kepada Naya usai sarapan.
“Yah... ”
“Ini untukmu. ” Alfath menyodorkan kartu ATM kepada Naya.
“What for? ”
“Terserah mau kamu pakai buat apa. Disini baru ada 500 juta, nanti pertengahan bulan akan Aku transfer lagi. ”
“Tidak perlu. Lebih baik kau buat investasi saja uangmu itu. Uangku juga masih cukup buat jajan sampai beberapa tahun lagi. ”
“Aku tau itu, makanya Aku tidak memberikan dalam jumlah yang besar karena Kau pasti akan menolak pemberianku. ”
“Ya udah simpan saja, siapa tau nanti kau butuh dana dadakan. Iya kan? ”
“Aku cuma memenuhi kewajibanku sebagai suami. Kau bisa bagi-bagikan uang itu kepada orang-orang yang membutuhkan. ”
“Untuk itu sudah Aku pikirkan. Mengenai sedekah berapa persen dari penghasilanku sudah ada jatahnya sendiri. ”
“Oke kalau itu maumu. Aku tidak akan memaksa istriku yang keras kepala ini. ”
“Sahabat. ” Naya meletakkan telunjuknya di depan bibir Alfath.
__ADS_1
“Udah ayo berangkat, nanti Kita bisa telat. Aku tidak mau ya nanti dapat hukuman dari Prof. Gun ”
Naya berbalik arah melangkahkan kakinya dari dapur. Akan tetapi Alfath menarik tangan Naya sampai tubuhnya terhuyung ke tubuh Alfath.
Cup... cup... Alfath mencium kening Naya dua kali. Naya yang menyadari hal itu langsung memberontak mendorong tubuh Alfath kebelakang.
“Apaan sih, geli tau... ”
“Nggak tau ya tadi itu otomatis. ” Alfath mengatakan dengan enteng seperti tanpa dosa.
“Dalam hubungan persahabatan itu nggak ada kayak gitu. ”
“Ada, buktinya juga banyak yang sampai dihamili sahabat sendiri kan? ” Alfath mengerjap-ngerjapkan matanya genit. Wajah Naya memerah. Sebagai cara untuk menutupi salah tingkahnya, Dia langsung menyambar tasnya kemudian keluar menuruni tangga. Alfath menyusul di belakangnya.
Alangkah terkejutnya Alfath saat baru saja turun dari mobil. Seseorang tersenyum lebar menyambut di depan mobilnya. Tangannya menyilang.
“Hah, Kau sedang apa disini? ” tanya Alfath kepada perempuan itu.
“Kau tidak lihat Aku sedang memakai jas almamater kampus ini? ” jawab perempuan itu dengan kecentilan langsung menempel kepada Alfath.
“Yang bener? ”
“Yes, baby. ”
__ADS_1
Sial, ada apa ini sebenarnya? kenapa Dia ikutan Aku kuliah disini
“Andaikan Aku ada di kelas yang sama denganmu, pasti Aku akan duduk di sampingmu. ”
Hiih, geli tau. Kenapa main nempel-nempel segala sih orang ini
“Sayang sekali Aku baru saja mau ambil S1. ”
Huft... syukurlah...
“Oh, iya. ” jawab Alfath singkat karena Dia menahan malu dilihat oleh mahasiswa yang berlalu lalang akibat ditempeli oleh cicak besar.
“Ayo antar Aku sampai ke ruangan. Karena Aku belum tau yang mana kelasku nanti. ”
“Kau kenapa kuliah disini? lagian ini juga sudah pertengahan semester. ”
“Itu karena Aku tidak bisa jauh-jauh darimu. ”
“Udah ya, Aku mau ke ruangan, Kamu bisa cari sendiri ruang kelasmu yang mana. Disana ada miniatur bangunan ini. Kau bisa mencari disana. Okey. ” Alfath melepaskan dirinya dari tempelan makhluk itu. Langsung menuju ke lift. Kemudian menekan tombol yang sesuai dengan lantai tujuannya.
Perempuan itu merasa kesal dan kecewa karena Alfath meninggalkan dirinya sendirian di tengah lalu lalang mahasiswa yang sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri.
“Ih... kenapa sih Dia selalu saja menghindar dariku. Kurang apa coba Aku, sudah cantik, bohay, anak orang kaya. Padahal diluaran sana banyak banget yang pengen ngedeketin Aku. ”
__ADS_1