
Naya mondar mandir sibuk dengan pikirannya. Dia harus sedia payung sebelum hujan. Dia tidak tau mungkin Bella dan Rangga sedang merencanakan sesuatu untuk menjebaknya. Yang jelas, Dia sudah tidak begitu yakin dengan kedua teman lamanya itu. Pasalnya setelah tragedi memasukkan obat kedalam minumannya saat ulang tahun Bella.
Alfath muncul dari balik pintu. Dia hanya mengenakan pakaian santai. Matanya menyelidik ke arah Naya.
“Sayang Kamu ngapain mondar mandir disitu...? ”
“Aku cuma ingin menyusun strategi. Kita kan nggak tau bisa jadi Bella dan Rangga sedang merencanakan sesuatu. Makanya Kita harus sedia payung sebelum hujan... ”
“Kamu betul, tapi nggak usah khawatir. Kan ada Aku sayang... ” Alfath meraih punggung Naya dan mendekatkan kepadanya.
“Jangan panggil Aku dengan sebutan itu. Aku geli... ” Naya memanyunkan bibirnya.
“Biarin...itu sudah adil. Kamu memanggilku dengan sesuka hatimu. Begitu pun sebaliknya... ” Alfath tersenyum menggoda Naya.
“Yuk berangkat. Biar entar nggak lama-lama. ”
“Biar nanti Kita bisa main lagi... ” Alfath menaik turunkan alisnya. Naya memukul bahu Alfath. Dia berjalan didepan Alfath.
“Nay tunggu... ”
“Apa lagi? ”
“Bajumu terlalu bagus untuk makan malam bersama Rangga. Jadi bisa minta tolong ganti dulu nggak? ”
“Baju? ini biasa aja tuh. ” Naya merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Alfath.
“Sama dandananmu terlalu cantik. Jadi boleh dihapus dikit nggak...? ”
__ADS_1
“Udahlah, nggak usah ngomong yang aneh-aneh. Entar yang ada malah kemaleman Kita pulangnya.”
“Gimana Rangga nggak ngejar-ngejar mulu kalau kamu kayak gini Naya...? ” Alfath mengambil tisu di meja. Tangannya masih menahan Naya agar tidak pergi.
“Nah gini aja udah cukup. Kamu itu dari asalnya udah cantik... ” Alfath mengusap bibir Naya yang sedikit merah dengan tisu. Naya hanya pasrah.
“Udah? ”
“Yah... ayo... ” Alfath menggandeng tangan Naya. Mbok Jah dari dalam sana melihat sepasang majikannya sangat bahagia.
“Sepertinya mereka udah saling cinta, asyik... nggak jadi cerai dong... ”
Lokasi dinner mereka tidak jauh. Hanya butuh waktu beberapa menit saja sudah sampai. Bella terlihat sudah duduk di kursi sendirian. Naya menghampiri Bella.
“Hai Bella... ”
Naya, Kamu harus jadi milik Rangga
“Sendirian aja Bell...? tadi kan yang ngundang Rangga. Terus sekarang Dia kemana? ”
“Ouh... pasti Kamu udah mau ketemu sama Rangga ya... Dia masih ditoilet Nay. ”
“Bukan gitu maksudnya__”
“Naya, boleh minta tolong nggak? ”
“Apa...? ”
__ADS_1
“Nay, tolong banget... tolong bantu Rangga Nay, Dia itu sangat mencintaimu. Bahkan Dia sampai mau merelakan apapun untuk Kamu. Tolong Nay, tolong terima Dia... ” Bella mengenggam erat tangan Naya, memohon dengan sungguh-sungguh agar Naya memenuhi permintaannya.
“Maaf Bell, kalau masalah itu Aku tidak bisa... Cinta itu tidak bisa dipaksa. Dan tolong bilang ke Rangga untuk stop berharap kepadaku. Tidak ada kesempatan untuknya... ”
“Tapi Nay, di itu tulus... ”
“Hai... ” Rangga datang menyapa mereka berdua. Seketika pembicaraan mereka terhenti.
“Rangga... ”
“Malem Nay... ” Rangga menarik kursi yang ada disamping Naya. Mengambil posisi duduk disitu.
“Hmm, iya... ”
“Mau pesan apa Mbak...? ” seorang waiters datang menghampiri kursi mereka dan sibuk mencatat pesanan.
“Oh iya, tadi Kamu datang sama siapa Nay... ? ”
“Oh Aku sama, itu... naik Grab... ”
“Entar kalau pulang Aku anterin aja ya... ”
“Nggak usah, Aku masih ditunggu kok... ”
“Selamat malam kalian... ” suara seseorang mengejutkan dari belakang.
“Alfath...? ”
__ADS_1