
“Brengsek... sudah bikin kesalahan tapi masih nggak mau ngaku.”
Bruk... Naya yang dalam keadaan menangis karena syok tiba-tiba jatuh terhuyung kedepan.
“Naya... Naya...” Alfath menepuk-nepuk pipi Naya.
“Jangan sentuh putriku...” Pak Firman menendang kaki Alfath. Membuat dirinya terjerembab ke lantai.
“Pa... Aku suaminya. Aku yang paling tau tentang Naya. Dia saat ini sedang___”
“Apa...? syok...? itu benar.”
“Bukan Pa...”
“Sudahlah Aku tidak butuh kata-kata bohongmu itu. Aku akan bawa Naya kerumah sakit.” Pak Firman menggendong putrinya keluar dari ruang kerja Alfath dan membawanya kerumah sakit.
“Gimana dok kondisi putri saya...?”
“Sepertinya akhir-akhir ini putri Bapak sering pingsan, ini bisa disebabkan karena terlalu stres.”
“Sering pingsan...? berarti bukan hanya kali ini dok...? ”
“Iya Pak. Saran saya, tolong kasih tau Naya agar tidak terlalu setress karena akan berdampak pada janinnya...”
__ADS_1
“Janin...? putri saya hamil dok...? ” tanya Pak Firman tidak mengerti.
“Iya Pak, jadi kehamilannya sudah memasuki empat minggu. Jadi saya sangat meminta tolong kepada Anda agar Naya menjaga janin dan juga dirinya...”
Deg... Naya hamil tapi tidak bilang kepadaku... apa Dia belum tau?
“Pa, gimana kondisi Naya...? ” Alfath datang bersama Papanya.
Plak...
“Naya hamil. Apa kau sudah tau...? ” tanya Pak Firman dingin kepada Alfath.
“Itu tadi hal yang mau saya sampaikan kepada Papa, tapi Papa menolak untuk mendengarkan apapun dari saya. Saat Naya pingsan itu bisa jadi kemungkinan efek dari kehamilannya.”
“Papa masih tetap tidak percaya dengan saya...?”
“Papa akan tetap dengan pendirian yang Papa miliki. Selagi kamu tidak punya bukti jika tidak melakukan kesalahan itu.”
“Saya akan buktikan. Karena cinta saya hanya untuk Naya. Saya tidak akan pernah membiarkan Papa memisahkan kami.”
“Baiklah, Papa butuhnya bukti. Bukan hanya sekedar omongan dan janji.” Pak Firman mengepalkan tangannya. Begitu juga Alfath yang berjanji akan memegang teguh seluruh ucapannya.
“Mas...”
__ADS_1
“Alfath...” dari atas brankar, Naya yang belum sadarkan diri terus merintih memanggil Nama suaminya. Mendengar itu, Alfath langsung mendekati Naya. Kemudian mengusap pipi istrinya.
“Naya bangun... ini Aku...”
“Alfath... jangan pergi dariku...” Naya tiba-tiba bangun dan langsung memeluk suaminya yang ikut duduk di atas brankar.
“Hiks... hiks...” Naya menangis sesenggukan saat masih dalam posisi memeluk Alfath. Dia semakin mengeratkan pelukannya seakan-akan suaminya mau meninggalkan dirinya.
“Naya, jangan menangis... Aku tidak akan pergi kemana-mana. Buka matamu, dan lihat Aku...” Alfath menepuk pipi Naya yang matanya masih terpejam tapi isak tangisnya keluar terus menerus.
Saat Naya mulai tenang, Alfath menarik pelukannya agar Naya segera tidur istirahat.
“Sudah, sudah... sekarang kamu istirahat dulu ya sayang...” Pak Firman dan Pak Hakim melihat perlakuan manis dan lembut Alfath kepada Naya.
Aku yakin, putraku tidak melakukan itu. Dia pria baik-baik... batin Pak Hakim.
Jadi begini caranya memperlakukan anakku. Dia seperti penyayang, tapi entah kenapa melakukan tindakan tidak senonoh itu kepada wanita lain...? batin Pak Firman melawan pikiran positifnya.
“Sudah tidur lagi, cepat sekali...” Alfath mengembalikan tubuh Naya ke dalam posisi tidur.
“Naya, kamu percaya kan. Aku tidak melakukan semua. Masalah lipstik dan alat kontrasepsi itu pasti ada seseorang yang sengaja meletakkan dalam jasku...” bisik Alfath ditelinga Naya.
tut... tut... ponsel Alfath berbunyi. Dia segera bangkit dari atas brankar untuk mengangkat panggilannya.
__ADS_1
Sreg... Naya menahan gerakannya dengan menarik tangan kiri Alfath.