Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 60


__ADS_3

“Permisi Pak... ” seorang perempuan muda yang memiliki gelar HRD itu datang menemui Alfath. Tubuhnya sudah gemeteran wajahnya pias. Entah seberapa mengerikannya Alfath saat berada di kantor. Batin Naya. Dia hanya diam memperhatikan suaminya yang sudah menahan amarah sejak tadi.


“Chila, kenapa Kamu tidak memberitahuku terlebih dulu sebelum memutuskan siapa yang berhak bekerja disini... ”


“Mohon maaf Pak, ini sebenarnya ada apa ya? bukannya dari dulu Bapak sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Saya. Dan untuk kali ini, apakah ada kesalahan dengan keputusan Saya menerima karyawan baru tersebut...? ” benar juga apa yang dikatakan Chila. Sejak dulu Alfath menyerahkan sepenuhnya kepada Chila yang menyeleksi karyawan baru.


“Jadi begini, Kamu benar. Saya memang tidak pernah ikut campur dalam urusan karyawan. Tapi untuk kali ini tidak Chila... Dia tidak bisa diterima begitu saja. ”


“Memangnya apa yang membuat Dia tidak bisa diterima kerja disini Pak...? karena setelah saya lihat semuanya baik-baik saja. Bahkan calon karyawan atas Nama Bella Safira itu satu-satunya yang memenuhi syarat dan terbaik dari segi apapun.” Alfath menjadi pusing. karena ini lebih menyangkut masalah pribadi. Kalau soal pekerjaan nggak boleh disamakan. Sesuai dengan peraturan kantor, siapapun tidak boleh menuntut karyawan atas dasar masalah pribadi.


“Baiklah saya akan membereskannya sendiri. Kamu boleh pergi. ” Chila membungkukkan badannya lantas meningggalkan ruangan Alfath.


“Arghhh... ” Alfath mengepalkan tangannya, kemudian menonjok tembok dengan keras.


“Permainan apa ini...? ” Naya yang tadi hanya memperhatikan Alfath dari kejauhan, kini sudah berada di dekatnya. Berusaha menenangkan Alfath.


“Fath, hentikan... jangan seperti itu. Ada masalah apa ceritakan kepadaku...! ” Alfath menceritakan masalah yang terjadi dengan detail. Naya bisa memahami situasi yang rumit itu.


”Biar Aku bantu selesaikan masalahnya oke... ” Alfath yang tadinya dipenuhi dengan amarah kini luluh hanya dengan sentuhan Naya yang begitu membuat hatinya sangat tenang.


“Kau memang beda Nay, tidak seperti perempuan lainnya. ” Alfath membisikkan di telinga Naya dengan suara yang berat dan tatapan yang tidak bisa diartikan.


“Beda? maksudnya gimana...? ”


“Sulit dijelaskan, tapi bisa dirasakan... ”

__ADS_1


“Seperti kentut dong...? ” Alfath langsung menarik tubuh Naya karena gemas dibuatnya. Disaat situasi seperti itu Dia malah bercanda.


“Fath... ” Naya memberontak saat tubuhnya jatuh kepangkuan Alfath.


“Mas...! ingat! ” Alfath langsung mengunci tubuh itu dengan menggendongnya menuju sofa. Tak lupa Dia mengunci pintu dari dalam agar tidak ada yang mengganggu saat ini. Dia butuh ketenangan.


“Apa yang mau kamu lakukan? ” Naya bangkit karena merasa tidak nyaman dengan aksi Alfath.


“Sstttt... Aku butuh kepala dingin untuk menuntaskan masalah ini. ”


“Lalu...? ”


“Tolong bantu menuntaskan masalahnya ya... ” mata Alfath sayu. Dia langsung mengecup benda kesayangannya.


“Fath... euh... ini dikantor... ”


“Fath jangan lakukan disini... ” bisik Naya dengan suara terengah akibat ulah Alfath yang membuatnya terbuai.


“Lalu dimana...? ”


“Pokoknya jangan lakukan... ” Naya yang sudah terbuai mendongakkan kepalanya. Tangannya mencengkeram sofa itu dengan kuat.


“Kenapa sayang...? ”


“Aku tidak mau, ini pasti akan sakit. ”

__ADS_1


“Sayang, ini tidak akan sakit. Lagian semalam kan Kita juga melakukannya. Kenapa Kamu menjadi takut...? ”


“Aku pernah baca di artikel kalau itu akan sakit... ”


“Sayang... apa Kamu lupa dengan kejadian semalam...? Kamu sangat menikmatinya bukan? ”


“Aku tidak ingat... ”


“Itu pasti karena Kamu terlalu menikmatinya. Sampai-sampai lupa yang Kamu rasakan... ” Alfath yang sudah tidak sabaran sudah menyusuri seluruh lekukan tajam. Dia sengaja mengulur waktu agar permainannya tidak cepat selesai. Berbagai macam tikungan tajam telah dijamah. Saatnya menyodokkan tongkat bilyardnya kedalam sarang laba-laba.


“Bersiaplah sayang... ” Dia membisikkan kata-kata manis kepada Naya agar tidak terkejut saat tongkat itu masuk. Naya yang terus-terusan mendongak mengangguk pelan.


“Aduh, pelan-pelan... ” karena sarang itu masih cukup sempit, Naya seringkali meringis. Padahal sudah beberapa kali di kunjungi oleh suaminya.


“Ini tidak akan lama sayang... sakitnya hanya sebentar. ”


tut... tut... ponsel Alfath tiba-tiba berbunyi. Terpaksa Dia harus menghentikan aksinya terlebih dahulu.


Mengganggu saja... umpat Alfath dalam hati.


“Haloo Pak... Anda sudah ditunggu di ruang meeting sama partner baru Kita... ”


“Astaga, kenapa Aku bisa lupa...” Alfath meneput jidatnya. Naya yang masih ada di bawahnya hanya melongo. “Tolong handle dulu ya Her, atau bisa di reschedule aja. ”


“Tapi proyek ini sangat besar dan penting Pak... ” Alfath sudah tidak memperdulikan Herdi. Dia meletakkan ponselnya begitu saja sampai lupa tidak mematikan panggilan teleponnya. Sampai Herdi yang ada di ruangan meeting menelan salivanya keras-keras saat mendengarkan nyanyian mereka berdua.

__ADS_1


“Fath... cepat Aku sudah tidak tahan... ”


Yasalam, orang lagi ditungguin malah enak-enakan... Herdi mendengus kesal karena harus meng-handle meeting kali ini.


__ADS_2