
“Nay...Naya...” Naya menoleh saat seseorang memanggilnya dari belakang.
“Ayesha...” seseorang yang telah menjadi teman dekatnya itu lari menuju kearah Naya.
“Nggak usah lari-lari... nanti jatuh nggak ada yang nolongin tuh... ” ledek Naya kepada Ayesha sambil mengernyitkan dahi.
“Tumben telat...? ”
“Emang sekarang jam berapa...? ” Naya melihat jam tangannya.
Astaga...
“Ayo cepetan Ay, Kita sudah terlambat 15 menit. ” Naya panik. Hari ini jadwal kelas Prof. Gun. Berbicara tepat waktu, justru beliau selalu datang satu jam lebih awal dari jam semestinya.
“Gawat Nay... ”
Sial... basa-basi dengan Alfath membuatku terlambat seperempat jam.
...****************...
Sesampainya di ruangan...
__ADS_1
“Permisi Prof... apa Saya diperkenankan untuk masuk...? ” Ayesha memimpin di depan.
“Masuk dan berdiri...!!! ” selain Naya dan Ayesha, disana juga ada Raisya, Raihan dan Alfath yang berdiri lebih awal.
“Saya itu heran sama kalian, sudah S-2 masih juga sering datang terlambat. Mana citra kalian sebagai mahasiswa S-2 itu mana...? ” Mereka berlima menunduk.
“Sebagai mahasiswa S2 itu seharusnya kalian semakin disiplin. Bukan makin molor kaya celana kolor kakekmu. ” Prof. Gun menatap mereka satu persatu dengan tatapan mengerikan. Dosen senior itu sangat terkenal dengan kedisiplinannya meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
“Saya pengen tau kesibukan kalian masing-masing, coba ceritakan dari bangun tidur sampai tidur lagi...!!! adakah di sini yang sudah menikah...? ” Naya dan Alfath reflek mengangkat tangan bersamaan. Membuat seisi ruangan melongo.
“Alfath, Naya...? kok Papamu nggak kasih tau Saya...?” Prof. Gun mengernyitkan dahinya menatap Alfath.
“Bukan Prof, tadi Saya kira Anda menanyakan siapa yang belum menikah. Makanya Saya angkat tangan... ” jawab Alfath mengeles berlagak profesional.
“Makanya fokus, didengarkan... ”
“Naya sudah menikah... ? ”
“Belum Prof. Saya tadi juga kurang fokus. Saya kira Anda bertanya siapa yang belum menikah. Hehehe... ”
“Berarti dari kalian berlima belum ada yang menjalani kehidupan rumah tangga kan... ” Mereka berlima menggeleng.
__ADS_1
“Lalu kenapa terlambat...? ceritakan kesibukan kalian masing-masing...!!!
...****************...
“Mukamu kenapa masih begitu Ra...? ”
“Prof.Gun sangat menyebalkan. Udah tua masih aja killer. Nggak ingat umur banget, nggak ingat darah tinggi juga hmmm... ” Raisya menggerutu sambil menyantap bakso yang masih mengepul. Membuat suasana hatinya semakin memanas. Sedangkan Naya dan Ayesha masih sabar menunggu kuah baksonya agak dingin.
“Aku tuh heran ya sama Alfath, di lihat dari penampilannya seperti orang kaya, tampan juga. Tapi kaya nggak ada selera-seleranya sama cewek. Padahal mahasiswanya S2 juga cantik-cantik, pinter-pinter juga... ” Ayesha mulai menyantap bakso idolanya. Seperti kebiasaan, saat makan Mereka selalu mencari topik pembahasan.
“Yaelah, makan dulu gih... ngomongin orang aja...” sahut Raisya yang ber-hah kepedasan. Keringatnya sebesar biji jagung berjatuhan. Naya fokus menyantap bakso dengan khidmat. Tak sengaja Dia menangkap pemandangan orang yang baru saja di bicarakan. Alfath duduk di pojokan bersama dua sahabatnya. Matanya sesekali melirik kearah Naya.
Naya yang menyadari itu karena curi-curi pandangan jadi salah tingkah sendiri. Sesekali matanya bertemu dengan mata Alfath.
“Kamu ngelihatin apa sih Nay...? ” tanya Ayesha penasaran karena tingkah Naya agak aneh.
“Enggak tuh, nggak lihat apa-apa... ” Naya menundukkan kepalanya agar mereka berdua tidak curiga. Ayesha mengedarkan pandangannya penasaran.
“Wow... ada Alfath juga ternyata... ”
“Dari tadi ngebahas Alfath mulu... ” Raisya mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Naya, tiap kali temannya membahas soal laki-laki Dia hanya diam.
__ADS_1