Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 44 Klarifikasi


__ADS_3

Sampai dirumah Naya menumpahkan seluruh kekesalannya. Dia tengkurap sambil menangis tersedu-sedu. Entahlah, dari hati kecilnya tidak mau melihat Alfath bersama perempuan lain. Apalagi perempuan itu Bella. Salah satu teman lamanya yang cukup akrab dengan Dia apalagi suka menempel di tubuh Alfath. Dia benar-benar marah melihat kejadian itu.


setelah lelah menangis akhirnya Naya ketiduran dalam posisi masih tengkurap. Tak lama kemudian Alfath datang. Dia melihat masih ada sisa air mata Naya disana. Dia membelai rambut Naya pelan-pelan.


“Ma’af Nay, ini hanya sekedar salah paham. ” Naya tidak merespon. Meskipun sebenarnya Dia bangun karena kaget ada tangan yang menepis rambutnya.


Salah paham apaan? semua udah jelas


“Andai kau tau, sebenarnya ini semua berat Aku lakukan Nay...”


Berat apanya...


“Semua ini berat kalau Aku jalani sendiri. Andai Kamu bisa memahami sedikit saja. Itu sudah cukup memberikan pemahaman kepadamu. ”


Maksudnya gimana sih? ... Naya masih pura-pura tidur. Dia ingin mendengar sendiri apa yang akan di katakan Alfath setelah ini. Tapi kejadian konyol selalu saja merubah situasi. Ada kecoak merambat di kaki Alfath. Membuat Dia berteriak dan langsung melompat ke atas kasur.


“Hah... kecoak... ” Naya yang pura-pura tidur juga reflek ikut berteriak.


“Kecoak... kecoak... mana kecoaknya...? ” Naya juga ikut melompat berdiri diatas kasur sama halnya dengan Alfath.


“Nay, Kamu...? ”


“Ups... ” Naya menutup mulutnya.


“Kamu tadi dengar...? ”


“Hmmm... ” tatapan dan ucapannya masih ketus.


“Jadi Kamu cuma pura-pura tidur... ” Alfath mencubit perut Naya. Membuat Naya lompat turun dan berlarian di dalam kamar. Alfath tak hanya diam, Dia ikut mengejar Naya.


“Bener-bener Kamu ya... Kamu harus menerima akibatnya... ”


“Slebew... ” Naya terus memancing Alfath agar Dia marah sebagai balasan karena sudah mesra-mesraan dengan Bella didepannya. Mereka berdua masih kejar-kejaran seperti anak kecil.


“Huh... huh... ” akhirnya Naya menyerah juga karena nafasnya sudah tersengal.


“Nah... kena Kau... Hahaha... ” Alfath tersenyum puas karena berhasil menangkap Naya.


“Hey... kecoaknya kesini lagi... ”


“Mana kecoaknya... ” Alfath berlari mencari keberadaan kecoak.


“Tapi boong... Hahaha... ”


“Nay...” Alfath kesal dengan Naya. Dia akan segera menangkap Naya yang naik diatas sandaran sofa.


“Kena kau... ”


“Aduh... geli... ” Alfath menggelitik perut Naya sampai berguling-guling di sofa. Sampai nafasnya hampir habis.

__ADS_1


“Udah... ampun... ” Akhirnya Naya menyerah juga.


“Hari ini kau benar-benar membuatku bahagia Nay. Membawaku seperti masa kecil main kejar-kejaran. Ini baru namanya sahabat. ”


“Oh begitu...? dan kau, hari ini selalu saja membuatku kesal. ” Naya berkata dengan ketus sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sama halnya dengan yang dilakukan Alfath. Mereka duduk berdampingan.


“Gara-gara Bella tadi...? ”


“Kamu nanyea...? ”


“Iya, aku bertanya-tanya... ” Mereka berdua tertawa bersama gara-gara mengucapkan kata-kata yang sedang viral saat ini.


“Bukan hanya masalah Bella. ”


“Lalu apa lagi? coba sebutkan sekarang... ”


“Satu Kau tadi makan bakso bersama Bella, dua melarangku main bersama Ayesha dan Raisya, tiga Kau bermesraan dengan Bella di depan mataku dan yang ke-empat... ”


“Apalagi...? kok banyak banget sih Nay... ”


“Empat... kau kemarin pulang sama Ayesha... ”


“Oh jadi karena itu...? emang kau tau dari mana kalau Aku pulang sama Ayesha...? ”


“Dari Ayesha lah. Dan masih ada lagi nih... ”


“Apalagi...? ”


“Paling tampan...? ”


“Hmmm... ”


“Sudah kuduga, memang dari sananya sih... ” Alfath senyum-senyum sendiri. Membuat Naya gemas ingin mencubit sahabatnya itu.


“Aw sakit... ”


“Rasakan itu. Selain ini masih ada hukuman lagi loh... ”


“Hukuman apalagi...? Kau tega sekali dengan sahabatmu ini. Gini deh Aku akan klarifikasi semua masalah yang Kau sebutkan tadi... ” Alfath memperbaiki posisi duduknya.


“Pertama, tadi saat Aku makan bakso di Paklik Salam itu sama Arman dan Galih, lalu Bella datang. Itu membuat Mereka berdua pergi. Kemudian Bella belum sempat makan Aku sudah meninggalkan Dia sendirian. ”


“Iya Aku tau itu. ” Naya menyela Alfath berbicara.


“Nah... terus kenapa masih jadi masalah...? ”


“Udah lanjut . Kau selesaikan sampai yang kelima dulu nanti baru Aku yang berbicara. ”


“Dua, karena ada hal penting yang mau Aku bicarakan. Ini ada kaitannya dengan yang ketiga. Jadi, Aku tidak ada rencana bertemu Bella sama sekali. Dia tiba-tiba datang begitu saja dan untuk yang Kamu sebutkan tadi, Aku tidak berniat mesra-mesraan sama Dia. Tapi Dia yang selalu menggodaku. ”

__ADS_1


“Udah kan... ”


“Empat dan lima... ”


“Kemarin Ayesha yang memaksaku untuk memberikan tumpangan. Padahal Aku sudah menolak. Terus yang kelima, tadi kan sudah ku jawab... hahaha... ”


“Mana...? ”


“Tadi... Aku kan sudah bilang kalau memang Aku tampan dari sananya, jadi ya nggak kaget lah kalau banyak yang naksir... ”


“Hiih... PD amat. ”


“Udah kan...? ”


“Sekarang ganti Aku yang ngomong. ”


“Ok, fine... ”


“Tapi jawab jujur nggak boleh bohong ya... ”


“Ok, siapa takut... ”


“Kamu ada hubungan apa sama Bella...? ”


“Oh itu, ini sebenarnya belum saatnya Aku cerita ke Kamu. Tapi yaudah lah biar Kamu nggak salam paham lagi. ” Alfath mulai menceritakan panjang lebar apa yang sebenarnya terjadi antara Bella dengan dirinya. Naya hanya bisa manggut-manggut. Ini benar-benar diluar dugaan Naya.


“Kalau seperti ini memang berat sih... ”


“Syukurlah kalau Kamu bisa mengerti... ”


“Tapi yang Aku heran, sejak kapan Dia kuliah sekampus sama Kita... ?”


“Nah ini yang masih jadi misteri Nay, entah bagaimana Dia bisa tau kalau Aku kuliah disana. Padahal Papa sudah memilihkan Kampus yang jauh dari orang yang Aku kenal. ”


“Hmmm... ”


“Jadi gimana...? beres kan...? udah nggak cemburu lagi kan...? ”


“Hah... cemburu...? Aku itu cuma nggak mau sahabatku buat rame-rame... ”


“Beda tipis sih... ”


“Nggak lah... ”


“Jadi Aku juga nggak boleh temenan sama Arman dan Galih juga nih...? ”


“Boleh hanya dengan Mereka berdua. Kalau cewek nggak boleh deket sama siapapun. Aku nggak mau sahabatku lebih perhatian ke orang lain daripada Aku... ”


“Sekalipun Ayesha dan Raisya...? ”

__ADS_1


“Tidak boleh, karena Mereka berdua naksir sama Kamu... ” malam itu menjadi malam yang menyenangkan bagi Mereka berdua. Akibat klarifikasi dari Alfath, akhirnya pembahasannya jadi merambat kemana-mana. Mereka harus saling mengenal, saling memahami, abaikan dulu soal perasaan. Biar waktu yang akan menjawab. Karena ada pepatah, cinta itu karena terbiasa. Siapa tau dengan terbiasa bercerita, saling memahami akhirnya Mereka bisa bersatu untuk mempertahankan ikatan suci itu.


Mereka bercerita sampai larut malam dan akhirnya keduanya ketiduran di sofa sampai pagi hari. Seperti biasanya, Mereka sarapan kemudian berangkat bersama, lantas sebelum masuk gerbang kampus Naya turun terlebih dahulu. Hubungan Mereka semakin akrab, meskipun Bella masih sering tiba-tiba mendatangi Alfath. Naya juga semakin sering berbicara meluapkan keluh kesahnya kepada Alfath.


__ADS_2