Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 37 Terngiang-ngiang


__ADS_3

Gimana-gimana udah pada mulai betah belum sama kisah Alfath dan Naya❓😍😄


Jangan lupa kasih bunga atau kopi ya guyss biar author makin semangat update babnya✌😁. Makasih banyak ya buat para readers yang setia menanti karyaku. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan mata juga guysss😍😍😍


...****************...


Kriek... Pak Dosen membuka pintu kelas untuk memulai kegiatan perkuliahan. Belum sempat duduk beliau di kejutkan oleh mahasiswa nya yang datang terlambat.


“Permisi Pak, ma’af saya terlambat lima detik. ” Seorang profesor tua yang sudah beruban itu berbalik badan. Menurunkan kacamatanya saat melihat Alfath.


“Tidak ada kata terlambat. Titik. ”


“Tapi ini kan cuma lima detik Prof, tolong di maklumi ya prof. ” pinta Alfath kepada Prof. Guntur membuat seluruh isi ruangan geleng-geleng kepala karena selama ini belum ada mahasiswa yang berani menyanggah beliau.


“Tidak ada kata maklum. Saya tidak suka dengan orang yang molor. Bikin Indonesia makin jelek aja karena sering disebut manusia kolor. Emang kita kolor ijo...? ” seluruh isi ruangan tertawa mendengar Prof Guntur berbicara.


“Diam. Saya tidak suka berisik. ” ruangan langsung hening seketika. Prof Guntur memang dikenal dengan Dosen paling killer di Universitas itu. Meskipun usianya sudah tua tapi semangatnya selalu membara melebihi mahasiswa-mahasiswa muda.


“Udah tua masih aja killer. Tau-tau nanti di temuin mati berdiri di depan mahasiswa... ” bisik salah satu mahasiswa kepada temannya.


“Iya, nggak inget penyakit darah tingginya apa. ”


“Ssst...di suruh diam malah bisik-bisik. ” ruangan langsung hening kembali.


“Kau, siapa namamu? ”


“Hakim Alfatih Prof. ”


“Buat essay selesaikan dalam waktu 20 menit. Mulai dari sekarang. ”


“huft... baiklah Prof. ” Alfath mencari tempat duduk yang masih kosong. Wajahnya sudah di tekuk menahan kesal. “Pagi-pagi udah ngomel-ngomel. ” gerutunya dalam hati.


Waktu berjalan dengan cepat. Mata kuliah Prof Guntur telah selesai. Seperti kebiasaan mahasiswa lainnya, Alfath pergi ke tempat favorit para mahasiswa. Bakso paklik Salam.


Gila... bisa-bisanya Aku tidak fokus dengan matakuliah gara-gara ingat kejadian semalam


Sambil menunggu bakso di hidangkan, Alfath menengguk es teh favorit mahasiswa. Bahannya sama saja sih dengan es teh lainnya, tapi entah mengapa rasanya lebih segar daripada kecebur di got. Mungkin akibat jampi-jampi paklik salam yang membuat es teh itu terasa lebih menyegarkan.

__ADS_1


“Dor... ”


“Eh... ” Arman menepuk pundak Alfath dari belakang.


“Ngapain bengong mulu...? lagi banyak kerjaan? ”


“Enggak juga. ”


“Terus...? ”


“Habis di marahin sama Prof Gun, gara-gara telat lima detik. ”


“Cih... bener-bener tuh Dosen, nggak ada duanya dosen sekiller beliau. Rambutnya udah kayak bihun tapi semangatnya tak pernah turun. ”


“Dosa loh ya, ngatain Dosen. Bisa Aku laporin Kamu ke beliau biar nilaiku di tambahin. ”


“Hahaha, lagian gue kesel sih. Tiap ada kelas selalu aja marah-marah. ”


“Udah tabiatnya kali. Eh, si Galih mana kok belum kelihatan juga batang hidungnya? ”


“Coba deh lo hubungin, lagi kangen banget sama Dia. ”


“Cih... Tumben-tumbenan lo nyariin Galih segitunya. ”


“Nggak tau, pengen ketemu aja. ”


“Kek orang ngidam aja Kamu Fath... Hahaha... ” kalimat terakhir Arman membuat Dia teringat sesuatu.


Naya... apa Dia masih kesakitan ? gimana kalau Dia akan hamil beneran?


“Hei, lo lagi mikirin apa sih bro? ”


“Enggak.”


“Fath, lo itu bukan tipe-tipe pembohong. Gue bisa baca muka lo kalau sedang tidak jujur. ”


“Lupakan saja. ini sebenarnya tidak penting. ” Alfath segera meraih ponsel dalam saku jasnya. Mencari sebuah Nama kontak yang telah disematkan.

__ADS_1


Alfath


Gimana, udah mendingan belum?


Cling... layar handphone Naya berkedip. Pertanda pesan masuk.


Naya


Masih nyeri sedikit


Alfath


Kau istirahat saja, biar besok sudah bisa masuk kuliah


Naya


Pesanmu membuat Aku terbangun


Alfath


Ma’af


Percakapan hanya sampai disitu. Naya hanya membaca pesan yang terakhir kali dikirim Alfath. Tanpa Dia sadari, ternyata Alfath senyum-senyum sendiri. Membayangkan betapa indahnya tidur seperti semalam. Pikirannya masih terngiang-ngiang akan suara dan tubuh Naya yang polos.


“Dor... ” Galih baru datang menepuk Alfath.


“Eh bikin kaget aja. ”


“Rasain, dari tadi bengong mulu. ” Arman ikut menimpali.


“Kita pikir kamu lagi bolos loh. ”


“Ya salam, jaman gini masih aja mikir bisa bolos. Bisa-bisa Aku di DO dari beasiswa nanti. ”


“Iya Kita mah apa ya lih, bukan kayak Kamu yang seperti anak Sultan. ”


Bakso pesanan mereka telah datang. Aroma kuah bakso sangat sedap. Membuat perut mereka keroncongan.

__ADS_1


__ADS_2