Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 74


__ADS_3

“Naya kok belum kelihatan ya Ra, apa mungkin hari ini tidak masuk...? ” Tanya Ayesha sambil mengamati mahasiswa yang berlalu lalang.


“Iya juga ya, Dia ngabarin kamu nggak...? ”


“Kalau ngabarin kenapa Aku mesti tanya Raisya...?”


“Coba deh, kamu chat. Siapa tau Dia datang agak terlambat.” mereka berdua sama-sama meraih ponsel dari dalam tas dan menghubungi Naya.


“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif”


“Kemana sih Naya ini, suka banget deh bikin kita khawatir.” gerutu Ayesha yang meresahkan keberadaan sahabat terbaiknya.


“Mungkin Dia lagi sibuk atau ada acara kali, sampai lupa nggak pegang ponselnya... ”


“Iya juga, ya udah deh ayo masuk duluan...”


...****************...


“Papa akan antar kamu sampai kampus. Nanti pulangnya biar di jemput sama Pak Komar...” Pak Firman mengacak rambut Naya yang tergerai indah.


“Papa nggak usah repot-repot dong. Kan Aku bisa nyetir sendiri, lagian masih ada pak Komar juga kan yang bisa nganterin.” celetuk Naya yang berjalan sambil memegang erat lengan Papanya.


“Anak Papa nggak boleh capek. Kan disini ada cucu Papa...” tunjuk Pak Firman kearah perut Naya yang masih rata.


“Papa seneng mau punya cucu...? ”


“Ya seneng dong. Tapi___”


“Tapi kenapa Pa...? Papa nggak suka sama Ayah dari anak ini...? ” pertanyaan Naya membuat Pak Firman mwmbuang nafas kasar.


“Sudahlah ayo kita berangkat. Nanti kamu bisa telat. Apalagi kamu ada kelas Prof Gun yang masih sama seperti jaman Papa kuliah dulu, garang... ” Pak Firman memperagakan seperti macan yang sedang meraung. Naya tertawa renyah. Papanya memang paling bisa mencairkan suasana.


Setelah kasus itu tersebar, Pak Firman memutuskan untuk membawa Naya tinggal bersama lagi selama belum ada titik terang dari Alfath. Bukan hanya itu, surat perceraian juga sudah berada di tangan Naya dan Alfath yang sewaktu-waktu bisa ditandatangani.

__ADS_1


Naya yang sudah mulai mencintai Alfath tidak tinggal diam. Meskipun mereka dipisahkan untuk sementara waktu, tapi Naya diam-diam juga ikut membantu Alfath dalam mencari akar dari segala permasalahan. Naya percaya, jika Alfath adalah pria baik-baik. Meskipun diawal kasus Naya sempat syok dan tidak mempercayai suaminya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Dia mulai bisa menerima segala sesuatu yang dikatakan Alfath kepadanya.


Diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya, Naya sering bicara dengan Alfath meskipun hanya lewat telepon atau video call. Satu minggu belum ada titik terang, Alfath dan beberapa orang suruhannya masih melakukan proses penyelidikan. Rasa rindu yang mendalam terkadang membuat Naya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi hal ini terjadi diawal masa kehamilannya, seharusnya ada suami yang selalu menemani. Tapi orangtua Naya melarang untuk bertemu dengan Alfath meskipun hanya sebentar.


“Makasih Papa... ” Naya mencium kening Papanya.


“Kamu hati-hati ya, jaga cucu Papa baik-baik. Dan jangan sampai ketemu sama Ayahnya... ”


“Papa selalu begitu. Cucu Papa juga harus dijenguk Ayahnya loh...” Naya memanyunkan bibirnya. Sebenarnya Dia sangat berharap agar Papanya mencabut perjanjian antara Papanya dengan Alfath.


“Yaudah Pa, Aku masuk dulu ya... udah kangen pengen lihat Ayahnya cucu Papa yang ganteng...” goda Naya kepada Papanya.


“Naya, ini larangan dari Papa loh... ”


“Dah Papa... ”


...****************...


“Naya... ” Alfath menarik lengan Naya.


“Kangen... ” disaat Naya reflek akan memeluk Alfath, suaminya itu menahan gerakannya. “Ssttt, jangan disini. Nanti dilihatin orang... ”


“Kamu sih mulai duluan... ” Naya terkekeh sendiri melihat ekspresi wajah suaminya yang agak gugup karena ulahnya.


“Huft... untung Prof Gun belum datang... ” Naya menghembuskan nafas lega dan langsung mengambil posisi duduk di samping Ayesha.


“Naya, kamu selalu bikin kita khawatir deh... ”


“Kenapa emangnya...?”


“Ya tadi kita mengira kamu bakalan absen karena sakit lagi...” dengus Ayesha melihat wajah Naya yang cengar cengir menatapnya berbicara.


“Sorry ya udah bikin kalian khawatir. Tadi Aku agak telat soalnya nungguin Papa, sekalian bareng ke kantor. Makanya agak lama, soalnya Papaku itu super rempong kalau milih outfit.”

__ADS_1


“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Masih sakit nggak...? kok bibirmu masih terlihat pucat...?” Naya menggeleng.


“Nggak kok, Aku baik-baik saja.”


“Semoga kamu nggak bohong Nay, meskipun nggak mau cerita sakit kamu yang sebenarnya.” Naya menggenggam tangan sahabatnya. Berusaha menyalurkan energi positif bahwa Dia tidak sedang berbohong.


“Selamat Pagi... ” suara itu tiba-tiba mengejutkan seluruh mahasiswa yang sedang riuh di dalam ruangan.


“Pagi Pak... ”


“Ada pengumuman penting untuk kalian, Prof Gun hari ini tidak bisa masuk karena cucunya sedang sakit...”


“Alhamdulillah...” sahut salah satu mahasiswa yang membuat semua orang melongo karena ucapannya.


“Astaghfirullah, maksudmu apa...? ”


“Jadi ada tugasnya nggak Pak... ? ”


“Untuk sementara hari ini beliau belum mengirimkan tugas.”


“Alhamdulillah... ” ucap seluruh mahasiswa dengan serempak.


Alfath mengirimkan pesan singkat kepada Naya. Ini adalah kesempatannya untuk bisa berduaan dengan istrinya.


Jalan yuk... Naya langsung tekejut saat membaca pesan itu.


Kayak ABG aja. hehe...


Ayolah sayang, Aku kangen banget sama kamu. Tapi jangan bilang ke Papa ya kalau kita bertemu bahkan jalan bareng. Please...


Setelah mengirim pesan itu, Alfath langsung keluar dari ruangan. Naya mengerti, Dia juga ikut menyusul.


Aku tunggu dimobil ya...

__ADS_1


__ADS_2