
Pukul 07.00 pagi Naya baru menggeliat. Mengucek matanya kemudian meraba nakas samping tempat tidurnya. Mencari benda pipih kesayangan semua orang.
“Hah... Jam tujuh...? ” wajahnya langsung panik. Dia segera bangkit tapi ternyata__
“Aw... Sakit... ” bagian bawahnya terasa perih. Dia mendapati pakaiannya berceceran di mana-mana. Kemudian Alfath masih meringkuk disampingnya.
“Hah... apa yang sudah terjadi...? ” Naya memutar otak. Mengingat-ingat kejadian semalam. Dan__
“Tidak... tidak... ” Dia ingat kejadian itu. Semalam Dia sangat menikmati. Mukanya sudah merah menahan malu. Alfath baru saja membuka matanya. Mendapati tubuhnya yang polos begitu juga Naya yang menutup tubuhnya dengan selimut.
“aaa... tidak... ” Naya memukul Alfath dengan guling sambil air matanya menetes. Nyawa Alfath juga sudah pulih. Betapa rakusnya Dia semalam menikmati tubuh Naya.
“Nay, maafkan Aku... ”
“Hiks... hiks... ” Alfath langsung mendekap Naya.
“Kenapa ini bisa terjadi sih... ? ”
“Nay, Aku sungguh minta maaf. Semalam Aku seperti orang kelaparan. ”
“Kenapa Aku juga tidak menolak. Hiks... hiks... ”
“Sepertinya Bella sengaja memasukkan sesuatu kedalam minuman yang diberikan kepadaku tadi malam. Sampai tubuhku terasa sangat panas. Ada gejolak tuntutan tersendiri untuk melakukan hal itu. Untungnya Aku langsung menyadari Nay. Kalau tidak, pasti Aku sudah melampiaskan ke sembarang orang. ”
“Kau? merasa ada yang aneh kan? ”
__ADS_1
“Iya.” Naya langsung melepaskan Dekapan Alfath.
“Fix, Kita sama-sama di jebak. Aku juga merasakan hal yang sama. ” tatapan Naya berubah menjadi sedih. “Ini sesuatu yang memalukan. ”
“Kau harus hati-hati dengan laki-laki yang baru datang semalam itu. ” bola mata Naya langsung membulat. Dia setuju dengan pendapat Alfath. Rangga memang menyukai Dia sejak masih sekolah. Semalam juga Dia mengatakan sesuatu yang membuat Naya takut.
“dulu Dia mencintaiku. ”
“Sampai sekarang. ” Alfath menambahkan. Membuat Naya terkejut.
“Dia jahat. ”. “Kau sekarang harus jujur padaku. Ada hubungan apa Kamu sama Bella...? ”
“Nay, Aku sama Bella tidak ada hubungan apa-apa. Dia selalu saja mengejarku, tapi Aku tidak suka. Percaya pada sahabatmu ini. ”
“Nay, ini bisa dibicarakan baik-baik. Dan ini tidak seperti apa yang Bella katakan semalam. ”
“Kalau, Kamu masih menganggap Aku sahabat. Kau harus cerita. ”
“Nay, ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan sembarangan. Tolong mengertilah... ”
“Ok, Kita tidak ada lagi kata sahabat. ”
“Berarti resmi suami istri. ” Naya melotot.
“Tidak... tidak... Pernikahan ini hanya sepihak. Jadi tidak bisa di katakan suami istri. ”
__ADS_1
“Tapi semalam Kita sudah melakukan hubungan suami istri kan...? ”
“Tapi itu semua bukan kemauan dari Kita. Atau bisa jadi hanya kemauan dari Kamu. ”
“Lalu kenapa Kamu tidak menolak? ” Naya diam mati kutu.
benar juga ya...
“Nay dalam hukum manapun, kalau dua orang sudah resmi menikah itu halal melakukan persetubuhan.”
“Ya udah ceraikan Aku sekarang juga... ”
“Tidak. Kalaupun cerai, masih tetap ada masa iddah untuk Kamu karena termasuk hukum sudah di sentuh suami. Soalnya itu untuk menunggu dari pihak perempuan antara hamil atau tidak. ” Naya hanya diam. Kenapa hidupnya semalang ini. Dia bergegas ingin turun dari tempat tidurnya.
“Aw... ” bagian bawahnya sangat sakit. Dia menjerit didepan Alfath.
“Kenapa...? ” Alfath terkejut saat melihat ketempat tidurnya banyak bercak darah yang sudah mengering. Berarti Naya memang perempuan baik-baik. Buktinya kesucian itu direnggut oleh Alfath sendiri.
“Ini sakit banget. Kalau begini, Aku bisa telat ke kampus. ” tanpa aba-aba Alfath langsung menyambar tubuh polos Naya, menggendong tubuh mungil itu ke kamar mandi.
“Lepaskan, Aku bisa jalan sendiri. ” Naya memberontak. Tapi apa daya Dia yang sudah di masukkan kedalam bathup oleh Alfath. Pintunya di tutup, Alfath masih berada dalam kamar mandi itu.
“Kau kenapa masih disitu heeeh...? ”
“Mau mandi lah, nanti telat masuk kelas. ”
__ADS_1