
Alfath menuntun Naya yang masih lemas untuk bertemu dr. Fadli di rumah sakit.
“Permisi...”
“Silahkan masuk... ” Alfath dan Naya langsung menghadap dr. Fadli.
“Eh ternyata lo. Gimana kabar lo ikan sepat? ”
“Ya seperti yang lo lihat. gue baik-baik saja.”
“Bagus dong kalau gitu. Terus ini jadi siapa yang mau diperiksa...?” mata Alfath mengarah ke arah Naya yang pias akibat menahan rasa mual. Alfath membimbingnya naik ke atas brankar.
“Kapan Anda terakhir menstruasi Nyonya? ”
“Sebulan yang lalu dok.” tutur Naya dengan lemah sambil memejamkan mata.
“Selamat Anda saat ini sedang hamil Nyonya. Usia kandungannya baru dua minggu. Jadi janinnya masih sangat kecil dan rentan. Tolong kesehatannya dijaga, jangan terlalu capek dan sering begadang.” Naya mengangguk mengerti. “Berarti Aku beneran hamil, ya Allah Aku nggak tau harus bersikap bagaimana... ” batin Naya.
“Selamat, kecebongnya udah jadi. Gitu dong gentle, jangan lupa dijaga ya istrinya. Saat ini kandungannya masih rentan dan lemah. Sama kurangi... ” dr. Fadli menggantungkan ucapannya sambil berdehem.
“Aku mengerti maksudnya.”
“Bagus. Kalau bisa jangan lakukan dulu selama trimester awal. Karena itu akan berbahaya. Ingat ya, merawat istri hamil itu nggak mudah. Bisa saja Dia berubah menjadi manja, sensitif, atau akan bertindak yang aneh-aneh.” Alfath mendengarkan penuturan dr. Fadli dengan seksama. Ini akan menjadi pengalaman baru baginya. Dia memperhatikan Naya yang masih ada di atas brankar dengan mata terpejam.
Hoek... Naya terbangun saat dirasa perutnya semakin bergejolak tidak karuan. Alfath membantunya ke kamar mandi.
“Hiks... hiks... kenapa mual sekali Fath...? ” Naya merengek. Air matanya lolos begitu saja.
“Sabar sayang, ini sudah biasa terjadi diawal masa kehamilan.”
“Aku beneran hamil ya...? jadi kita beneran nikah Fath... ? ” beberapa pertanyaan Naya sontak membuat Alfath terkejut karena dirasa itu pertanyaan yang konyol dan tidak perlu ditanyakan.
“Naya... pertanyaan macam apa itu? ”
“Ayo pulang.” rengeknya dengan manja.
__ADS_1
“Kalau kita makan dulu gimana...? atau ke taman dulu mungkin...?”
“Nggak. Aku maunya pulang.” baiklah apa sih yang nggak buat Naya. Batin Alfath tanpa protes. Sepertinya saat ini Dia harus meluangkan banyak waktu untuk Naya.
Sampai dirumah Naya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tidak butuh waktu lama akhirnya terpejam juga. Alfath menatap wajah istrinya lamat-lamat kemudian mengusap perut yang masih rata.
“Semoga kamu bisa menerima kenyataan Nay.” Alfath meninggalkan Naya sendirian dikamar. Karena Dia harus pergi ke kantor sekarang juga.
...****************...
“Kamu dimana Fath... cepetan pulang, Aku sudah muntah berapa kali sore ini.” Naya menelepon dari seberang sana dengan nada yang manja seperti anak kecil. Entah kelakuannya sudah berubah, padahal baru hari itu Dia tau kalau hamil. Padahal Naya adalah si paling gengsi untuk urusan seperti itu.
Ceklek... pintu kamarnya dibuka dari luar. Naya berpura-pura tidur. Selimutnya diangkat sampai ujung kepalanya.
“Naya, Aku bawa makanan kesukaan kamu lo. Belum makan dari kan...?”
“Aduh, kok masih tidur sih. Naya... ini hampir maghrib, nggak baik lo tidur jam segini.” Alfath menarik selimut Naya. Ternyata yang didalam selimut malah tersenyum lebar.
“Yah pura-pura... ” Alfath tergelak mengejek saat melihat Naya senyum-senyum.
“Bawa apa itu... ? ”
“Ini sangat bau. Hoek... Aku nggak mau ini.” Naya menutup hidungnya dan memberikan bungkusan itu pada Alfath lagi.
“Ini sambal terong kesukaan kamu yang di pinggir jalan.”
“Bukan. Ini nggak kayak biasanya. Bau terasi banget... ” Naya lari ke kamar mandi, menumpahkan isi perutnya yang sudah terasa sangat pahit. Alfath menyusul dan memijat tengkuknya.
Hoek... hoek... tubuh Naya sangat lemas. Bahkan Dia tidak mampu lagi untuk berjalan karena isi perutnya kosong melompong.
Alfath menggendong sampai kasur. Kemudian membaringkan Naya dan menyelimutinya agar tidak kedinginan. Karena tadi Naya sempat merasa kedinginan.
Kasihan banget Naya kalau gini...
Naya terlelap lagi sampai pukul 23.00 malam. Perutnya yang keroncongan mengajaknya untuk bangun. Alfath belum tidur, masih memeriksa beberapa berkas penting.
__ADS_1
“Aku laper Fath... ” Naya menarik lengan Alfath yang duduk di sampingnya sambil memeriksa beberapa lembaran.
“Kamu laper...? sebentar ya Aku carikan makanan di dapur. Atau Aku carikan keluar. Kamu mau apa...? ”
“Hmm... enggak tau.”
“Sambal terong yang tadi juga masih utuh. Lupa nggak Aku kasih ke Mbok Jah. Sekarang sepertinya beliau sudah tidur.”
“Nah, gini aja deh...gimana kalau Kamu aja yang makan sambal terong itu? ” Naya menaik turunkan alisnya. Sebenarnya Dia sengaja ingin mengerjai Alfath karena penasaran kenapa sampai segitu takutnya.
“Ogah. Mending Aku kelaparan daripada makan sambal terong. Hiih... ” ucap Alfath sambil bergidik.
“Nggak bisa gitu dong, ini anak kamu loh yang minta. Kata orang-orang, kalau nggak diturunin nanti bakal ileran deh. Ayolah please, ayoo... Aku suapin deh.” rengek Naya.
“Naya, bisa yang lain nggak... ? ”
“Nggak bisa. Ini namanya ngidam. Dan itu harus diturutin. Ayolah... ” Naya sudah menyodorkan sesendok sambal terong ke mulut Alfath.
“Kamu aja ya yang makan. Soalnya ini tadi kan belinya buat kamu.” Alfath membalikkan arah sendok itu kemulut Naya tapi ditolak oleh istrinya itu.
“Anak kamu mau Papanya yang makan itu. Soalnya Mamanya lagi mual.”
“Naya, terus kamu nggak makan dong...? ”
“Enggak, soalnya Aku maunya cuma makan kamu.” ucapan Naya sungguh membuat Alfath terkejut. Apa segitu berubahnya saat perempuan sedang hamil. Padahal biasanya Alfath yang selalu memancing. Tapi kali ini Naya yang memulai duluan.
“Hak... buka mulutnya. Ini enak lo rasanya.” Naya memasukkan sendok itu dengan paksa kedalam mulut Alfath.
“Di kunyah dong. Nanti keselek kalau langsung di telan.” Alfath yang masih merem tidak bisa membayangkan bagaimana tidak enaknya rasa tetong, kini terpaksa harus menuruti kata istri hamilnya.
Ternyata enak beneran...
“Tuh kan enak.”
“Biasa aja tuh.” Alfath gengsi untuk mengakui jika rasa sambal terong itu sangat lezat.
__ADS_1
...****************...
“Tunggu saja pembalasanku.” seseorang dari seberang sana tersenyum puas. Misinya akan segera tercapai.