
Naya langsung menyelinap masuk kedalam mobil Alfath. Tanpa meninggalkan jejak kecurigaan kepada orang lain.
“Kangen...” Naya memeluk Alfath dengan erat. Seakan tidak ingin Ayah dari anaknya itu menjauh.
“Sama... kamu maafin Aku kan...? ”
“Nggak...” cetus Naya sembari membenamkan wajahnya di dada bidang Alfath.
“Ih... jadi pengen nyubit aja... ” Alfath mencubit hidung Naya sampai Dia merasa kesakitan.
“Nggak mau maafin kalau tiap hari selalu dibikin rindu... ” Naya menatap lamat-lamat wajah suaminya. Kemudian langsung mengecup bibir seksi kesukaannya. Alfath hanya melongo. Kenapa Naya semakin agresif seperti itu. Batinnya.
“Kamu mulai ya, jangan bikin Aku jadi lapar sayang...” tatapannya mengiba kepada Naya. Karena setiap kali bersentuan dengan istrinya, si Alfath junior selalu tidak bisa diam. Dia tau saat ini harus puasa terlebih dahulu, tidak boleh egois karena demi keselamatan dua nyawa penting yang ada dalam hidupnya.
“Yuk... katanya mau jalan...? terus kalau begini terus kapan jalannya...? ” Naya melepaskan tangannya yang melingkar dileher Alfath. Mobil itu melaju dengan santai. Alfath sengaja agar memiliki banyak waktu untuk berbincang-bincang dengan sang istri.
“Kita mau kemana sih...? ”
“Aku akan bawa kamu ke lokasi yang tidak akan diketahui Papa.”
“Kemana...? ”
“Udahlah nanti juga tau sendiri. Kamu pasti bakal suka kok.” Naya tidak banyak tanya, Dia menikmati pemandangan yang ada disepanjang jalan.
__ADS_1
“Jangan diam aja dong Nay, kan ini moment langka buat kita.” Alfath berusaha untuk mencairkan suasana.
“Aku lagi males bicara. Kamu aja deh yang cerita, nanti Aku jadi pendengar setianya.”
“Dari tadi juga Aku, kenapa...? kamu nggak suka ya Aku ajak pergi tanpa sepengetahuan Papa...?”
“Bukan kok, justru Aku suka karena beberapa hari ini lagi bosan dirumah terus.”
“Nah udah sampai... ” mobil Alfath berhenti di depan sebuah bangunan.
“Ayok... ” Alfath membukakan pintu untuk Naya. Semenjak Naya berusaha untuk bisa menerima pernikahan mereka, rasa cinta Alfath kepada Naya menjadi berlipat ganda.
Alfath menggandeng Naya untuk menuju ke sebuah paviliun. Udara yang sejuk membuat Naya bisa menghirup nafas dengan leluasa.
“Suka banget, baru sekali kesini langsung jatuh cinta. Ini milik kamu sendiri...? ” Alfath mengangguk. Bangunan yang megah berserta paviliun itu adalah hasil pembelian Alfath sendiri. Dia sengaja merahasiakan dari keluarganya karena bangunan itu sewaktu-waktu akan dijadikan sebagai tempat untuk mencari ketenangan.
“Kamu mau makan apa...? ”
“Apa aja deh.” celetuk Naya sembari menikmati udara yang segar.
“Nay... ” Alfath memeluk Naya dari belakang. Aroma kehangatan yang akhir-akhir ini tidak bisa didapatkan Naya kini bisa dirasakan kembali.
“Maafkan Aku Nay, sampai detik ini masih belum bisa menemukan pelakunya... ” Alfath membisikkan ditelinga Naya.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Kamu pasti bisa kok, nggak boleh nyerah ya Ayah... ” Naya mengusapkan telapak tangan Alfath ke perutnya yang masih rata.
“Demi kalian, Aku tidak akan tinggal diam.” suara Alfath berubah menjadi berat. Tanpa memberikan aba-aba, Dia langsung menyes*p leher putih Naya. Suasana di sana memang sangat mendukung. Naya hanya pasrah dan menghayati aksi yang dilakukan suaminya.
Setelah membuat jejak kepemilikan yang cukup banyak di leher Naya, aksi Alfath semakin dalam dan menuntut. Hingga akhirnya sebelah lengan dress Naya berhasil di turunkan.
“Stop... jangan lakukan disini, ada tempat lain yang lebih tertutup nggak...? ” Naya menahan aksi Alfath yang sudah tidak sabar untuk melahap segala sesuatu dari tubuhnya.
Alfath menggendong Naya menuju ke sebuah kamar dan membaringkan istrinya diatas tempat tidur. Di mulainya aksi orang dewasa yang sangat didambakan Alfath akhir-akhir ini. Begitupun dengan Naya, saat dipisahkan oleh orang tuanya, Dia harus menahan rasa rindu akan sentuhan-sentuhan yang diberikan Alfath.
Ahhh
Naya menjerit saat Alfath memainkan pucuk dua pepaya gantungnya dengan bergantian. Setelah merasa puas bermain meskipun Alfath tidak boleh menembus gawang pertahanan, akhirnya mereka tumbang dan saling berpelukan.
“Aku tidak akan membiarkan Papa memisahkan kita lagi.” bisik Alfath sambil mengecup kening Naya berkali-kali.
...****************...
“Aku nggak mau makan ini... ” Naya merajuk setelah melihat makanan yang tersaji di meja.
“Kamu mau yang mana sayang...? tadi kamu bilangnya terserah...? ”
“Nggak mau, Aku tidak suka bau semua makanan ini... kamu aja yang makan semuanya...!! ” Alfath melongo saat mendengar Naya yang terus merajuk.
__ADS_1