
“Aku nggak tau, tadi itu tiba-tiba kepalaku kek pusing banget. Sebelumnya sih nggak pernah begitu. ”
“Kecapean kali. Habis ini gue antar pulang aja ya...”
“Nggak usah dianter, Aku bisa pulang sendiri kok. Lagian masih di tungguin sama sopirnya. Oh ya Bella kemana ya Rang? Aku mau pamit pulang nih... ” Rangga menaikkan pundaknya.
“Lo tunggu dulu deh, sama gue mau ngomong bentar sama lo... ”
“Ngomong apa? ” Rangga menatap mata Naya dalam-dalam. Berusaha menyalurkan seluruh perasaannya.
“Nay, lo tau kan seberapa besar rasa cinta ini. Lo juga udah tau, sejak masih sekolah gue udah cinta sama lo. Rasa ini masih sama Nay. Please, buka sedikit ruang saja untuk gue. Lo pasti belum punya pacar kan? setau gue bahkan lo nggak pernah pacaran. Jadi please hargai dikit perasaan gue... ”
Busyet...si Rangga main pegang-pegang tangan Naya... umpat Alfath dari kejauhan.
“Please Rang, jangan kayak gini terus. Cinta itu nggak bisa dipaksain. Jadi sorry sampai kapanpun Aku nggak bisa terima Kamu. Tolong ngertiin ya... ”
“Dengan alasan apa gue nggak diterima? Aku akan lakuin apapun demi Kamu... ”
“Sorry tapi Aku sudah__” ucapan Naya terhenti saat hampir keceplosan bahwa dirinya sudah menikah.
“Jangan bilang kalau lo udah punya pacar...! Lo pasti bercanda kan Nay. Padahal lo tadi udah panggil gue Mas, itu pasti karena udah cinta sama gue kan. Jawab Nay...!!! ” Rangga mengguncang tubuh Naya yang diam.
__ADS_1
“Stop Rang...!!! Aku sudah punya masa depan yang pasti. Dan itu tidak akan pernah bisa dirubah. Jadi please, berhenti mengharapkanku karena itu tidak mungkin. ”
“Katakan siapa Dia...? gue akan datang menemui cowok itu dan bilang, kalau hanya gue yang bisa milikin Naya. ” Rangga berkata dengan nada tinggi. Emosinya meluap.
“Rangga...!!! stop...!!! ”
“Nggak bisa, ini nggak bisa dibiarin. Katakan siapa Dia...? ”
“Gue orangnya... ” Rangga melongo saat mendengar pengakuan itu. Masih berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan Alfath.
“Apa-apaan ini, Gue nggak tau maksudnya apa...? Lo tiba-tiba ngaku jadi pacar Naya, padahal lo itu siapa...? ” Rangga tertawa kecut mendengar pernyataan Alfath. Bella, hatinya bagai disambar petir.
“Gue Alfath. Dan cowok yang dimaksud Naya adalah gue. Kalau lo tanya gue siapa__”
“Bahkan lebih dari pacar...!!! Kita pulang sekarang Nay... ” Alfath menarik lengan Naya, meninggalkan Rangga dan Bella masih mematung ditempat.
“Aku nggak tau ini keputusan yang tepat atau bukan. Tapi Aku nggak tahan ngelihat orang lain deketin Kamu. Apalagi Rangga yang terus berharap nggak ada hentinya... ” Alfath melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Naya terus memandang keluar kaca.
“Sepertinya Kamu terlalu gegabah mengambil keputusan tadi. Aku takut, mereka akan bertindak lebih. ”
“Semoga semua akan baik-baik saja. ”
__ADS_1
...****************...
“Rangga ini tidak mungkin... Hanya Bella yang berhak memiliki Alfath...” tangis Bella pecah di pelukan Rangga.
“Gue juga nggak rela kalau Naya berhubungan sama cowok itu...Gue nggak akan biarin itu terjadi...”
“Sudah gue bilang kan Rang, sejak kemarin pas Kita ketemu mereka di warung pinggiran Gue itu curiga... kenapa mereka bisa makan bareng, pulang bareng lagi... sia-sia perjuangan gue selama ini Rang... ”
“Lo nggak bisa nyerah gitu aja Bell, Kita harus melakukan sesuatu. Kita harus pisahin mereka. Demi cinta gue sama Naya dan lo sama Alfath.”
“Dan ini... ” Bella menunjuk perutnya yang rata dan tetbalut dengan dress agak sempit itu.
Hoek... hoek...
“Bell lo masing sering mual...? lo nggak apa-apa kan...? ”
“Nggak apa-apa gimana...? gue itu tiap hari ngalamin yang namanya morning sickness. Dan itu akibat ulah lo... ”
“Lagian yang ngajak duluan siapa...? kan bukan gue. Jadi gue nggak akan tanggung jawab... ”
“Iya iya, yang penting lo bantuin gue buat dapetin si Alfath... ”
__ADS_1
“Siapa takut... ”