
“Naya... Raisya... tungguin dong. Kita masuk ruangannya bareng aja.” teriak Ayesha yang berlari mengejar kedua sahabatnya.
“Eh kirain nggak ada yang manggil tadi.” ujar Raisya sambil tertawa.
“Kalian sih, jalannya cepet banget. sampai-sampai kakiku nggak mampu ngejar kalian loh, seperti cintaku. Asek...” ucapan Ayesha membuat tertawa pendengarnya.
“Eh ngomong-ngomong kemarin dianterin Alfath sampai mana Nay...? ” tanya Ayesha kepo.
“Ya sampai rumah dong. Masa iya Dia tega ninggalin Naya ditengah jalan. Soalnya menurut prediksi gue Alfath itu orangnya kayak nggak tegaan sih. Beda sama cowok lain. Tapi ini cuma prediksi loh ya, nggak tau juga aslinya gimana.” Raisya sengaja memanas-manasin Ayesha agar Dia berhenti mengharapkan Alfath.
“Hmm... sampai tempat tujuan lah, tapi sebelum itu kita kerumah sakit dulu buat chek up.”
“Ke rumah sakit...? emangnya kenapa kerumah sakit lagi. Kan disini udah di periksa sama Mbak-mbaknya itu.”
Ups keceplosan... umpat Naya dalam hati.
“Emang lo sakit apa sih Nay, sampai harus pergi chek up berkali-kali...? ya ampun, maaf ya kemarin kita sampai nggak tanya soal itu.” seru Ayesha.
“Cuma kecapean aja sih.”
“Beneran ya...!!! awas nanti kalau sampai bohongin kita.”
__ADS_1
“Emang kenapa kalau bohong...? ” Naya sengaja ingin mengetahui ekspresi sahabatnya setelah mengatakan itu.
“Ya berarti lo nggak anggap kita sahabat dong kalau gitu. Yang namanya temenan apalagi sahabatan itu harus cerita kalau ada apa-apa.”
“Nggak semua diceritain kali...” bantah Raisya.
“Nah betul tuh.”
...****************...
Dari kejauhan Bella melihat pemandangan Naya dan teman-temannya.
“Jangan harap bisa hidup tenang Nay, setelah mengambil Alfath dari gue.” tatapannya licik masih mengarah kepada Naya.
“Eh, Alfath...maksudnya gimana ya? Aku nggak ngerti deh.”
“Jangan pura-pura sok polos. Ingat, jangan berani macam-macam sama Naya.”
“Ngomong apaan sih Fath, nggak ngerti deh...”
“Ingat, jangan macam-macam.” Alfath berlalu begitu saja. Bella tersenyum licik.
__ADS_1
...****************...
“Eh tolongin dong... ” Naya tergeletak disana. Kedua sahabatnya berteriak meminta tolong. Mahasiswa yang berlalu lalang ikut mengerubuti mereka. Alfath melihat dari kejauhan semakin penasaran dengan kejadian itu. Dia menyisir gerombolan mahasiswa.
“Naya... permisi, biar Aku bantu...” Alfath menggendong Naya menuju ke klinik.
“Ya ampun Nay, sebenarnya lo ini sakit apa sih...?” Raisya mencemaskan Naya yang masih terbaring belum bergerak. Begitupun dengan Ayesha. Alfath masih berada diruang itu. Duduk di kursi tunggu. Raisya dan Ayesha ikut duduk di sampingnya.
“Fath, Naya tadi bilang kalau kemarin kamu anterin Dia kerumah sakit buat chek up. Kalau boleh tau Naya sebenarnya sakit apa sih Fath...?”
“Iya Fath, kan kemarin yang tungguin Dia disini juga kamu kan. Jadi pasti tau. Please bilang sama kita.” ucap Ayesha memohon.
“Oh itu, seperti yang dokter bilang kemarin di rumah sakit. Nggak ada yang serius kok. Mungkin Dia cuma kecapean dikit. Lagian kalian kenapa nggak tanya Langsung sama Dia...?”
“Kita lupa kemarin belum sempat tanya. Salah kita juga sih, nggak tau banyak tentang Naya.”
Naya, yang dibicarakan mengerjakan matanya. Kepalanya masih agak pusing. Perutnya terasa sangat mual.
“Hei Naya udah bangun...”
“Kalian...? maaf ya selalu bikin kalian repot.”
__ADS_1
“Nggak Nay, udah seharusnya kita lakuin ini. Tapi ini berkat Alfath juga loh, Dia yang tadi nolongin kamu.”
“Hai... udah mendingan...? ” sapa Alfath kepada Naya yang sengaja pura-pura seperti orang baru kenal.