Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 46


__ADS_3

Lanjut... Lanjut... 😅


“Selamat... ” Dr. Fadli menyalami Alfath. Membuat Alfath membulatkan matanya tidak mengerti maksud dari ucapan Dr. Fadli.


Beneran ini...???


Jantung Alfath sudah tidak karuan saat menerima kabar dari Dr. Fadli. Hatinya ingin menolak tapi juga ingin hal itu segera terjadi.


“Selamat, istrimu tidak mengalami sakit yang serius. Dia hanya masuk angin...


Huft... Alfath menghembuskan nafas lega. Tapi masih bisa didengar oleh Dr. Fadli.


“Suka ngeprank orang lo... ”


“Lho gimana sih, bukannya senang malah marah-marah... ”


“Ya gimana dong, gue kira Dia hamil... ”


“Lo sih, baru sekali celup aja udah minta jadi. Kecebong lo itu masih tersesat... ”


“Hmm... ” Alfath mendengus kesal atas ledekan Dr. Fadli.


“Atau jangan-jangan juniormu itu loyo, makanya nggak pernah pengen... Hahaha... atau ukurannya terlalu kecil hingga Naya kurang suka. Hahaha... sini gue suntik biar mengembang ukurannya... ” ledek Dr. Fadli terus-terusan sampai muka Alfath seperti kepiting bakar.


“Cih... Dokter laknat lo ya, awas aja nanti nggak akan gue bayar, biar kelaparan sampek tujuh turunan... ”


“Lo kan Sultan, gampang lah totalan akhir. Entar kalo tiba-tiba saham lo jadi milik gue gimana... ? ”


“Udah... udah... jadi Naya kapan boleh pulang? ”


“Nyantai lah, biar Dia enakan dulu. Lo nggak kasihan apa Dia masih lemes gitu. Jaga yang baik, jangan diajakin begadang terus, perempuan itu nggak baik kalau tidur larut malam. Bisa-bisa kayak gitu lagi Dia... ” Dr. Fadli menepuk pundak Alfath kemudian keluar menemui pasien lainnya.


...****************...


“Ingat kan apa kata dokter tadi, Kamu nggak boleh begadang terus, apalagi sampai lewat tengah malam. Bisa-bisa Kamu kena angin duduk nanti. ” Ucap Alfath menceramahi Naya selama perjalanan pulang dari rumah sakit.


“Hmm... ”


“Apalagi kebiasaan Kamu begadang sambil minum kopi. Itu tidak baik buat cewek Nay, . Kecuali laki-laki, losss sampek pagi nggak tidur juga nggak apa-apa... ”


“Nggak juga tuh... ”


“Loh iya di bilangin kok ngeyel Kamu... ” Alfath mengacak rambut Naya gemas.


“Nyatanya juga banyak artis laki-laki yang mati akibat kena angin duduk tuh... ”


“Iya juga. Pokok intinya adalah begadang itu tidak baik buat kesehatan. Titik. ”


“Iya... iya ngoceh mulu dari tadi. Sampai telingaku terasa gatal tau. ”


“Eh, eh Aku mau itu dong... ” Naya menunjuk sebuah warung pinggiran yang bertuliskan “PECEL LELE”.


“Oke Kita akan beli makan, tapi jangan yang itu ya...”


“Kenapa...? ”

__ADS_1


“Itu cuma makanan warung Nay, apalagi pecel lele nggak baik buat kesehatan Kamu saat ini. ”


“Terus ngapain kalau pecel lele? itu makanan favorit Aku tau... ”


“Iya tapi itu nanti akan bikin perut malah sakit. Sambalnya pasti pedas. ”


“Ayolah please, turutin untuk kali ini saja. Oke...? ” Naya memelas, memohon kepada Alfath.


“Okelah kalau begitu. Nanti kalau sakit perut Aku nggak akan tolongin Kamu loh... ”


“Lagian yang sakit perut kan Aku, bukan Kamu... ” Alfath menepikan mobilnya memarkirkan di dekat lokasi warung pecel lele. Naya sangat bersemangat menuju warung itu. Alfath menyusul di belakangnya.


“Kamu mau pesan apa aja Nay...? ”


“Pecel lele sama es jeruk. ”


“Pak pecel lelenya dua ya, sama es jeruknya juga dua. Dimakan disini ya Pak... ” Alfath memesan kepada Bapak-bapak si penjual yang fokus memasukkan lele kedalam wajan besar.


“Asyiap boss. Silahkan ditunggu dulu ya... ”


“Oke Pak. ”


“Loh Den... ” Bapak itu memanggil Alfath yang sudah membalikkan punggungnya menuju ke arah Naya.


“Bapak... Aduh, Bapak yang kemarin kan...? ”


“Iya Den, masak udah lupa sih. Ah iya sih Bapak lupa kalau jaman sekarang anak-anak muda udah pada punya penyakit pikun. Setelah Bapak baca di internet ternyata gara-gara kebanyakan makan micin, royco, masako dan sebagainya. ”


“Ah masak gitu sih Pak...? ” Alfath menahan tawa karena omongan Si Bapak.


“Berarti masakan disini higenis ya Pak, nggak pake micin dan kawan-kawan... ”


“Tentu den, Bapak selalu menjaga kebersihan makanan demi kesejahteraan bersama. ”


“Nah itu apa Pak...? ” Alfath menunjuk sebuah bungkusan yang berisi bubuk penyedap. Mereka berdua tertawa bersamaan.


“Fath... ” Naya memanggil Alfath yang tengah bercanda ria dengan penjual pecel lele.


“Iya, ada apa? ”


“Aden sama siapa itu...? cantik. ”


“Ah itu, itu... sepupu Pak... ”


“Kirain istrinya... ”


“Sini... ” Naya memberikan isyarat kepada Alfath untuk segera duduk.


“Saya mau duduk dulu ya Pak. ” untung Naya memanggilnya. Alfath bisa menghindari pertanyaan dari si Bapak.


“Oke Den, silahkan. Siapa juga yang nyuruh pelanggan makan sambil berdiri... ” Alfath sudah duduk disamping Naya.


“Ngomongin apa emang, kok kayak seru banget sampe ketawa-ketawa gitu Bapaknya...? ”


“Hahaha... Bapaknya lucu sih. ”

__ADS_1


“Kok kaya akrab banget... ”


“Iya jadi kemarin pas Kamu nyuruh Aku beli pembalut Itu belinya disini. Soalnya minimarket udah pada tutup. ”


“Hah, ini mah warung pecel lele. Masak jual pembalut...? ”


“Tuh lihat... ” Alfath menunjuk etalase jualan. Ada barang yang bungkusnya berwarna warni, ada yang pink, orens, hijau. Naya menutup mulutnya saat benar apa yang dikatakan Alfath. Ada barang kebangsaan. Muka Naya memerah.


Tak lama kemudian Bapak penjual menghidangkan dua piring pecel lele dan dua gelas es jeruk segar di hadapan Alfath dan Naya.


“Selamat menikmati den dan nona cantik... ”


“Terimakasih Pak... ”


“Panggil aja Pak Sholeh atau Mang Sholeh juga tidak keberatan. ”


“Siap Pak... ”


“Ini Bapak sajikan juga menu spesial, sambal terong... ”


“Wah, enak banget tuh... ” Naya kegirangan melihat Pak Sholeh menghidangkan sepiring sambal terong yang sangat menggoda.


“Terimakasih Pak... ” Naya berterimakasih kepada Pak Sholeh. Alfath menutup hidungnya saat melihat sambal terong.


“Kamu kenapa...? ”


“Kamu suka terong? ” Naya mengangguk.


“Please Nay, jangan makan di depanku kalau makan terong. ”


“Kamu nggak suka? ”


“Jelas-jelas Aku tutup hidung gini. ” Alfath kesal dengan pertanyaan Naya yang konyol.


“Ini cuma terong, bukan jengkol. Ngapain tutup hidung segala. Aneh kamu tuh ya. ” Naya langsung melahap sambal terong yang ada di hadapannya.


“Hoek... ” Alfath lari keluar dari warung dan muntah. Naya masih sibuk menyantap sambal terong dengan khidmat.


“Huh...dasar orang aneh. ” Alfath kembali dengan muka pias. Mengambil jatah pecel lelenya kemudian pindah ke kursi lain yang membelakangi Naya. Dia menyantap pecel lelenya dengan lahap sampai habis tidak tersisa.


“Ayo, Aku udah selesai. ”


“Singkirkan piringmu yang ada terongnya dulu. Aku tidak mau melihat makanan itu. ” Naya menurut memberikan isyarat kalau Dia telah melakukannya. Alfath membayar kepada Pak Sholeh.


Naya melihat dua orang sedang masuk kedalam warung Pak Sholeh. Berpegangan tangan mesra sambil bercanda ria.


Siapa itu? kok kayak kenal


“Udah ayok. ” Naya mengabaikan Alfath. Dia masih penasaran dengan sepasang orang tadi Kepala kepalanya tertutup hoodie dan memakai masker. Alfath menarik tangan Naya. Orang itu melihat Naya.


“Naya...”


“Kamu... ”


Ada yang tau nggak, Kira-kira siapa itu...??😱

__ADS_1


__ADS_2