
“Ada hal penting yang harus Kita bicarakan Nay... ” wajah Alfath berubah menjadi serius.
“Sepenting apa...? ”
“Nanti saja. Tidak disini. ”
...****************...
“Naya kemana ini...? ” Ayesha dan Raisya celingukan memperhatikan kesana kemari, mencari keberadaan Naya.
“Perasaan tadi disini sih. Terus sekarang kemana...? ”
“Bentar, coba Aku chat dulu. ”
Raisya
Nay Kamu dimana? Kita udah nyampek kampus nih.
Cling... Ponsel Naya yang ada di pangkuannya bergetar. Dia sejak tadi sudah tertidur. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Alfath segera meraih ponsel itu. Ada panggilan video call dari Raisya dan Ayesha. Di tunggunya hingga pangggilan itu berakhir sendiri.
Naya
Ma'af man teman. Aku nggak sempat ngabarin kalian. Sorry ya Aku mendadak harus pulang. Ada hal penting yang harus Aku selesaikan sekarang juga.
“Yah Naya... ”
“Kenapa Ra...? ” Ayesha menunjukkan chat dari Naya.
“Ya udah deh lain kali kalau gitu” Ayesha menuliskan di papan tombol ponselnya meskipun sebenarnya agak kecewa.
“Ya udah kalau gitu Kita nongki berdua aja. ” ucap Raisya dengan berat hati.
“Nggak asyik ah kalau cuman Kita berdua. Lagian Kita juga udah sering nongki bareng kan. ”
“Daripada nggak jadi, malah sia-sia Kita bolak balik kesini ambil motor tadi. ”
“Ya udah deh.” Ayesha menyanggupi ajakan Raisya.
...****************...
Naya dan Alfath baru saja sampai dikantor. Alfath berjalan didepan kemudian di ikuti Naya di belakangnya. Herdi menyambut mereka berdua di depan.
“Nah gitu dong bos, Nyonya sekali-kali diajak main kekantor. Biar Kita semua kenal dan bangsaq buayawati itu tau kalau Pak Bosnya yang cakep ini udah milik orang lain. ”
“Hussh... ngomong apaan. ” Alfath hanya bersalaman dengan Herdi kemudian berjalan menuju ruang kerjanya di susul Naya. Mereka berdua menjadi pusat perhatian para karyawan.
“Bapak sama siapa itu? ”
“Nggak tau, tumben bawa perempuan kesini. ”
__ADS_1
“Iya, mungkin calon sekretaris baru. ”
“Hey, ngawur Kamu. Masih ada Pak Herdi. ”
“Mungkin lebih tepatnya calon istri, bukan sekretaris. ”
“Hah... Masa iya, terus Aku gimana? ”
“Kalau mimpi itu jangan ketinggian. Kamu itu siapa. ”
Para karyawan sibuk membicarakan Alfath. Beberapa juga ada yang menyapa dan mununduk.
“Selamat siang Pak... ” Alfath tidak menjawab. Dia hanya fokus berjalan menuju keruang kerjanya. Tatapannya dingin. Sangat berbeda dengan biasanya.
Dia benar-benar berbeda kalau di sini...
“Masuk... ” Alfath membukakan pintu sebuah ruangan untuk Naya. Naya menurut. Alfath mengikuti di belakangnya.
Ruangan yang cukup besar itu di desain dengan interior yang sangat menarik. Sepertinya memang sengaja di desain Alfath senyaman mungkin agar Dia juga nyaman saat bekerja. Naya langsung duduk disofa. Alfath duduk di kursi kerjanya.
“Hal penting apa yang mau Kamu bicarakan? ” Naya memulai percakapan di ruangan yang hening itu.
“Sebentar. ” Alfath melepas jasnya kemudian meletakkan di kursi. Menyisakan kemeja yang di lipat sampai siku. Lantas Dia ikut duduk disamping Naya.
Deg... Mau apa Orang ini?
Naya menggeser posisi duduknya agar jauh dari Alfath.
“Aduh, Aku lupa kenapa tadi tidak ngabarin Mereka. ” Suaranya pelan tapi masih bisa didengar Alfath.
“Siapa? Ayesha? ”
“Iya. Gara-gara Kamu Mereka pasti nungguin Aku lama tadi. Aku juga keduran lagi. Kasihan Mereka pasti kecewa. ”
“Dia udah tau kalau Kamu pulang duluan. ” Naya membulatkan matanya.
“Maksudnya? Aku tadi lupa belum ngabarin Mereka. ”
“Udah Aku kabarin kok. ” Jawab Alfath dengan santai sambil berselancar dengan ponselnya.
“Hah...? ” Naya membuka ulang pesan tadi, kemudian menscroll keatas. Dan benar Dia menemukan pesan terkirim darinya yang tak lain adalah kerjaan Alfath.
“Kenapa nggak bilang sih, main buka-buka handphone orang aja... ” Naya mendengus kesal kepada Alfath.
“Orang tidur mana bisa dibangunin...”
“Ya udah sekarang to the point aja, jadi mau bicara apa tadi? ”
“Jadi begini... ” Alfath mengatur napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraannya. Tapi situasi berubah seketika ketika pintu diketuk dari luar.
__ADS_1
Tok... tok... tok... Naya langsung beranjak dari sofa kemudian bersembunyi masuk kesebuah ruangan yang ada dalam ruang tersebut. Tak lama kemudian pintu itu di buka padahal Alfath belum memberikan isin untuk masuk.
“Bella? ”
“Hai Fath, Kamu hari ini sibuk nggak...? ” perempuan bertingkah seperti cicak itu lagi-lagi langsung menempel ketubuh Alfath. Naya mengintip dari dalam ruangan karena mendengar Alfath menyebut nama perempuan itu.
Jadi ini tujuannya Dia mengajakku kesini?
Naya mengumpat dalam hati karena merasa dipermainkan oleh Alfath. Sedangkan Perempuan didepan sana semakin menjadi, Dia meliuk-liukkan tubuhnya menggoda Alfath. Membisikkan sesuatu di telinga Alfath, kemudian menaikkan dreesnya yang kurang bahan itu di hadapan Alfath.
Menjijikkan... Jadi Aku disini hanya mau ditontonkan pemandangan menggelikan ini?
Sebenarnya Naya sudah tidak betah diruangan itu. Ingin segera keluar menghirup udara segar dan meluapkan segala amarah yang bergemuruh didalam dadanya.
Tok... tok... tok
Pintu ruangan itu diketuk lagi. Membuat Bella menghentikan aksinya menggoda Alfath.
Huft... Akhirnya, Perempuan laknat ini berhenti menggodaku
“Masuk... ”
“Mohon ma’af Pak, klien yang ada agenda meeting hari ini sudah datang. Mereka sudah menunggu Bapak. ” untungnya Herdi datang tepat waktu. Alfath sejak tadi sudah muak dengan ulah Bella, mau diusir berapa puluh kali juga tidak mempan.
“Kamu tau sendiri kan, Aku harus meeting. Sekarang juga Kamu keluar dari ruangan ini. ”
“Aku mau ikut... ” rengek Bella dengan manja.
“Tapi Mbak, sudah peraturan di perusahaan Kami selain yang bersangkutan tidak boleh ikut masuk ruangan. ” ucap Herdi menambahkan yang membuat emosi Bella meluap.
“Hiiihhh...” Dia langsung pergi meninggalkan ruangan itu seketika.
“Huft... Kau datang sangat tepat waktu. Terbaik emang. ” Alfath menepuk pundak Herdi. Akhirnya bisa bernafas lega, bebas dari gangguan makhluk hidup yang aneh.
“Asistenmu ini memang cerdas bos. ”
“Darimana Kau tau Bella datang kesini? ”
“Tadi Aku melihat Dia masuk ke ruangan Bapak. Jadi Aku segera menyusun strategi biar Dia segera pergi dari sini. ”
“Terbaik. Aku akan kasih Kamu bonus tambahan bulan ini. Kerjamu selalu memuaskan. ”
“Itu harus Pak. ” urusan Bella beres. Tapi ternyata muncul masalah baru lagi.
“Oh jadi tujuannya Kau mengajak Aku kesini biar melihat kemesraan kalian berdua? Aku mah jijik kalau melihat hal seperti itu. ” Naya muncul dari dalam ruangan dengan penuh amarah. Alfath yang menyadari Naya di belakangnya langsung berbalik badan.
“Bu... bukan itu Nay... ”
“Lalu apa?... kalau Kau ingin mesra-mesraan sama Bella silahkan, tapi nggak usah Kau tunjukkan kepadaku... ” tak terasa airmata Naya sudah membasahi pipinya yang kemerahan akibat menahan emosi.
__ADS_1
“Nay, ini salah paham. Ada hal lain yang mau Aku bicarakan... ”
“Nggak usah, semuanya sudah jelas. ” tanpa pikir panjang Naya meninggalkan ruangan itu dengan penuh airmata. Dia menghentikan taksi didepan sana.