
“Apa yang membuatmu badmood...? ” tanya Alfath untuk memecahkan keheningan.
“Seberat inikah dinikahkan secara paksa oleh orang tua...? ” tatapan kosong Naya dan kata-kata yang di ucapkan begitu miris. Hati Alfath seperti di sayat-sayat saat menatap gadis yang ada di hadapannya itu. Dia juga merasakan hal yang sama namun apa daya mereka berdua yang seperti permainan wayang. Alfath diam sejenak.
“Kita punya misi yang sama. Hanya membahagiakan kedua orangtua kan...? ”
“Kalau membahagiakan orangtua tidak begini caranya. Itu keinginan Kita agar orang tua bahagia. Tapi Kita lupa dengan kebahagiaan kita sendiri. ” air matanya sudah mulai menetes. Alfath tidak tega melihat Naya.
“Sudah Nay, Kita sama-sama berada di posisi yang sulit... ” Alfath menggenggam tangan Naya, berusaha menenangkan.
“Aku tuh terkadang ngerasa kayak wayang gitu. Apa-apa selalu di atur. Di suruh begini begitu. Aku tuh udah capek hidup kek gini terus. Terlalu banyak tekanan, tuntutan. Aku nggak bisa bebas memilih jalan hidupku sendiri. Aku capek...” kini tangisnya semakin pecah. Alfath mengubah posisi duduknya disamping Naya. Hatinya ikut kelu tapi tidak bisa mengungkapkan.
Kita sama Nay...
“Kamu boleh pukul Aku atau apa untuk meluapkan kesedihanmu. ”
“Hiks... hiks... ” Justru Naya memeluk Alfath dengan erat. Dia menangis sejadi-jadinya di dada bidang laki-laki itu. Meluapkan segala kecamuk rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Alias Nano-nano. Dia meluapkan amarah, kesal, juga sedih yang bercampur jadi satu.
“Menangislah, luapkan semua perasaanmu. Jika Kamu butuh tempat sandaran, tentu ada Aku yang selalu bersamamu. ” entah mengapa. Tidak ada hujan, tidak ada badai juga angin ribut. Seperti ada aliran yang bisa menenangkan Naya. Perlahan tangisnya mulai reda.
__ADS_1
“Nasib Kita sama Nay. Aku juga masih berusaha berdamai dengan diriku sendiri. ”
“Aku... Aku tidak bisa berdamai. Padahal Aku selalu mencoba, tapi tetap tidak bisa. Bahkan Aku lama-lama merasa kalau orangtuaku jahat. Mereka jahat... ” tangis Naya masih dalam dekapan Alfath.
“Ada Aku Nay, Kamu bisa menganggapku sebagai sahabat atau menjadikanku teman cerita. ”
“Yakin? ” Naya melepaskan pelukannya dari Alfath. Meyakinkan apa yang baru saja diucapkan Alfath.
“Tentu saja. ”
“Mulai saat ini Aku akan menjadikanmu sahabat sekaligus teman cerita. Kau sepertinya orang yang tepat yang bisa memahamiku. Karena nasib Kita sama. ” Naya menjentikkan jari kelingkingnya. Alfath paham apa yang harus Dia lakukan dalam perjanjian dengan sahabat.
“Terus perjanjian Kita yang kemarin? ”
“Lupakan dan anggap tidak pernah ada. Kita mulai dengan perjanjian yang baru. ” Naya mengangguk lega.
“Jadi kerumah Papa Mama nggak? udah agak malam sih ini... ” Alfath melirik jam tangannya.
“Nggak jadi. Anggap saja Aku tidak ingin pergi kesana. Kita pulang... ”
__ADS_1
“Gara-gara Kamu nih, Aku nggak jadi makan... ” protes Alfath dengan wajah kesal.
“Ya udah buruan di lanjut. ”
“Udah nggak mood. ”
“Aku juga jadi lapar kalau begini. ” ucap Naya dengan malu-malu.
“Dasar cewek. Banyak jaimnya.” Ledek Alfath kepada Naya. Naya mencubit perut Alfath gemas.
“Bawa pulang aja sekalian Aku, laper banget. ”
“Siap sayang. ”
“Hey stop. Sahabat. Ingat, sahabat. Oke. ”
“Siap sahabat. ”😅
Malam itu mereka pulang dengan membawa status baru dalam hubungan Mereka. Sebuah persahabatan.
__ADS_1