
“Nay, lo kenapa pucat banget...? ” Raisya yang duduk disebelah Naya mendesak penasaran.
“Nggak apa-apa... paling cuma kecapean aja. Udah, Kamu perhatiin tuh Prof gun. Biar nanti pas ditanya nggak bengong. ”
“Nggak bisa gitu dong... lo sakit Nay...? ” Raisya berbisik dengan lirih tapi ternyata masih bisa didengar oleh Prof Gun.
“Kamu...!!! yang berisik, silahkan buat penelitian tentang materi hari ini...!!! ”
“Aduh... sial... ” Umpat Raisya tertahan. Ayesha yang duduk di belakangnya ingin tau apa yang dilakukan Raisya. Dia menggerak-gerakkan kaki Raisya dengan kakinya. Tapi ternyata yang kena adalah sebuah besi elemen dari kursi yang menyebabkan kegaduhan dalam ruangan.
Klontang...
“Hei... Kamu juga ya, kenapa berisik...? ”
“Maaf Prof... ” ucap Ayesha menunduk.
“Ada tugasnya ya. Sama dengan teman kamu tadi. Oke... ”
Huhu... kenapa jadi gini...
Kelas Prof Gun telah selesai. Tiba saatnya jam istirahat. Seperti kebiasaan Naya dan sahabat-sahabatnya selalu menghabiskan waktu makan bakso paklik Salam.
“Eh si Rangga yang baru masuk itu kemana ya...? kok udah nggak kelihatan lagi... ” tanya Raisya membuka percakapan.
“Iya juga ya... berani-beraninya Dia mahasiswa baru udah berani bolos. Tapi dilihat-lihat Dia nggak kalah tampan lo sama Alfath... ” ucap Ayesha menambahkan.
“Kalian itu selalu aja bahas cowok. Bisa nggak sih sekali-kali bahas apa kek... tugas atau apa gitu... ” gerutu Naya kepada dia sahabatnya. Tapi memang benar, akhir-akhir ini Rangga tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Apalagi setelah kejadian malam itu. Saat Alfath menyatakan bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan Naya. Bella juga semakin menjauh saat bertemu dengan Naya. Bahkan Dia sempat mengatakan jika pertemanannya dengan Naya dianggap putus.
__ADS_1
“Baik tuan putri Naya, sang mahasiswa berprestasi di kampus... ” Raisya cengar cengir.
“Nay, lo sakit...? kenapa lo lihatin mulu baksonya...? ”
“Nggak tau, Tiba-tiba kayak nggak mood gitu... ”
“Lo pasti lagi setres ya...? katakan apa yang bikin lo setres... Lo bisa kok cerita sama Kita... ”
“Tapi Aku nggak tau, penyebabnya apa. Tiba-tiba aja gelisah, terus nggak mood gitu... ”
“Jangan-jangan lo patah hati ya...? ”
“Enggak jug. Ngapain harus patah hati haah... ”
“Yakali aja. Mungkin kecapean, atau apa gitu Nay... dari tadi lo juga kelihatan murung... ”
“Terus bakso lo...? ” Raisya melongo saat Naya meninggalkan baksonya begitu saja.
Saat mereka bertiga berjalan menuju ruangan, tiba-tiba kepala Nay terasa sangat pusing. Dia menyandarkan kepalanya di tembok terlebih dahulu.
“Nay, lo kenapa...? ” tanya Ayesha dan Raisya panik. Dan benar saja dalam hitungan detik Ayesha menangkap tubuh sahabatnya yang terjatuh.
“Naya... kebiasaan sih kalau sakit masih aja masuk. ”
“Eh... eh tolongin dong kakak... ” Raisya menghentikan segerombolan mahasiswa yang berlalu lalang.
“Ngapain Dia...? ”
__ADS_1
“Kebetulan banget, tolongin Naya dong Fath... Kita bawa Dia ke klinik kampus aja... Kita nggak kuat menggendong Dia nih... ”
“Naya...? ” seketika Alfath langsung panik. Tapi Dia masih bisa menjaga batas agar orang lain tidak ada yang curiga. Alfath menggendong Naya ke klinik kampus.
Untung nggak terlambat
“Jadi gimana Mbak keadaannya...? apa terjadi sesuatu sama Dia... ? ”
“Maaf sebelumnya, Anda apanya Naya ya...? ”
“Kalau disini Saya teman seangkatannya Mbak... ”
“Sepertinya Naya sedang hamil. Tapi saya belum bisa memastikan soalnya janinnya masih terlalu kecil. ”
“Apa...? Dia hamil Mbak...? Anda nggak salah kan...? ” seorang tenaga kesehatan itu mengangguk takzim. Suasana hati Alfath bercampur aduk. Entah bahagia atau sedih tidak bisa diartikan.
“Naya... Kamu kenapa sampai gini... ? ” tanya Ayesha tergopoh-gopoh menyusul keruangan itu. Naya menggeliat, dan mengerjapkan matanya.
“Alhamdulillah akhirnya Kamu siuman... ”
“Kenapa Aku disini...? ” Naya mengamati ruangan sekitar. Betapa terkejutnya saat mendapati Alfath ada diruangan itu juga.
Apa semua orang sudah tau tentang Aku dan Alfath...?
Raisya mengerti tatapan Naya kepada Alfath. Dia berusaha menjelaskan sebaik mungkin agar Naya tidak marah karena tadi digendong Alfath.
“Jadi begini Nay... ” Raisya berdehem ingin mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1