
“Oh rupanya Kau memancingku...? ” Alfath ikut naik ke atas tempat tidur.
“Aku ngantuk, mau tidur... ” Alfath memeluk Naya dari belakang. Menciptakan kehangatan yang berbeda.
“Ish... tanganmu jangan nakal. ” Naya menepis tangan Alfath yang menggelitik wajahnya dari belakang.
“Aku mau... ” jantung Naya berdetak lebih cepat. Pikirannya travelling kemana-mana.
“Tidak sekarang. Aku ngantuk, jangan di ganggu...”
“Hei, Aku mau minta dibuatkan makanan, perutku lapar. Kalau tidak makan sekarang bisa-bisa Aku mati. ”
Cih... malunya minta ampun. Naya kira Alfath akan langsung minta jatahnya malam itu juga.
“Tahan dulu, besok pagi-pagi Aku akan memasak untukmu... ” Naya menguap membenamkan dirinya didalam selimut.
...****************...
“Hmm...” Alfath menggeliat. Kemudian mengerjapkan matanya melihat kesamping, Naya sudah tidak ada disana. Alfath kembali menarik selimutnya. Melanjutkan tidur.
“Bangun Fath, sudah jam berapa ini...? nanti Kita bisa terlambat ke kampus. ”
“Ini masih sangat pagi Nay, Aku masih ngantuk... ”
“Ini sudah hampir pukul 07.00. Lihat, Aku sudah rapi. Sarapanmu sudah siap sejak tadi. Kau tau, Aku menepati janji untuk memasak pagi-pagi... ” Naya menggoyangkan tubuh Alfath yang masih terbungkus dengan selimut tebal. Alfath tak kunjung membuka matanya.
“Jangan harap karena tabunganmu sudah banyak, Kamu bisa tidur seenakmu Hei... ” Naya menggelitik perut Alfath.
__ADS_1
“Naya, ini masih sangat pagi... ”
“Ini hampir jam 07.00. Kalau Kau tidak mau bangun, Aku akan pergi ke kampus sendiri saja. ” Naya kesal dengan Alfath yang tak kunjung membuka matanya.
Sret... Alfath menarik tubuh Naya sampai terjatuh kedalam pelukannya. Wajah mereka berhadapan dan hanya berjarak beberapa senti saja. Naya mulai gugup dengan aksi Alfath. Jantungnya mulai tak karuan.
“Aku mendengar suara detakan yang keras, tapi itu bukan jarum jam... ” Alfath memandangi Naya sambil menggodanya. Membuat Naya salah tingkah. Alfath meletakkan tangannya tepat didada Naya. Kemudian ganti meletakkan tangan Naya kedadanya.
“Jantung Kita sama-sama berisik... ”
Aduh... berisik banget sih ini... batin Naya.
“Fath, mungkin sekarang sudah jam 07.00. Kamu mau bangun jam berapa lagi. Kita bisa terlambat mengikuti kelas Prof. Gun. ”
Cup... satu kecupan mendarat di kening Naya. Membuat jantungnya semakin berisik.
Cup... cup... Alfath mencium keningnya berkali-kali. Naya hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata. Tidak berani memandang Alfath.
Cup... Kali ini bukan hanya mendarat dikeningnya saja. Melainkan turun ke bibir ranum Naya.
“Fath... ” sebelum Naya melanjutkan ucapakannya. Alfath sudah ******* bibir Naya. Membuat Naya mengeluh tertahan.
“Emph... ” awalnya Naya ingin menolak. Tapi semakin lama, Alfath justru memperdalam ciumannya. Naya terpaksa harus mengimbangi agar tidak kehabisan napas.
“Emph... Fath... ” Naya mendorong tubuh Alfath agar melepaskan tautannya.
“Ingat... Kuliah...!!! ”
__ADS_1
“Itu urusan belakangan. ” bibir tebal Alfath sudah sempurna mendarat di bibir Naya. Mereka berciuman cukup lama. Sampai pada akhirnya Alfath melepaskan sendiri dan bangkit dari tempat tidur.
“Aku mau mandi dulu... ”
“Kau menyebalkan sekali, kenapa meninggalkan jejak disini sih... ” Naya berdiri di depan cermin melihat bibirnya yang terasa sangat tebal akibat ulah Alfath.
“Itu sebagai tanda kepemilikan. Kalau Aku tidak melakukannya nanti Kamu akan berubah pikiran...” ucap Alfath sebelum masuk kedalam kamar mandi.
...****************...
“Tunggu... ”
“Ada apa sih Fath...? ” tanya Naya sebelum turun dari mobil.
“Cium tangan dulu... ” Alfath menyodorkan tangannya kepada Naya agar dicium oleh istrinya itu. Naya menurut. Kemudian membuka pintu mobilnya untuk turun. Tapi Alfath mengharap lebih. Dia menarik tangan Naya, lantas menutup kembali pintu mobil yang telah terbuka. Dia cium kening istrinya kemudian turun ke bibir. Rupanya Dia sudah kecanduan dengan bibir Naya.
“Satu lagi, beri panggilan sayang untukku...!!! ”
“Apa...? Bapak...? om...? ”
“Mas...!!! ”
“Mas...? itu menggelikan sekali... ” ucap Naya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Aku tidak mau lagi Kau panggil langsung namaku... ”
“Siap Ma...s”
__ADS_1