Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda

Terjebak Pernikahan Rahasia Di Hari Wisuda
BAB 62


__ADS_3

Sore itu, ruangan kerja Alfath di penuhi dengan nyanyian dua insan yang bersatu. Keringat panas bercucuran diseluruh tubuh mereka. Padahal AC ruangan sudah cukup dingin.


“Gimana? seorang preman pembegal berhasil menghabisi korbannya kan...? ” Alfath menaik turunkan alisnya menggoda Naya yang masih terlentang disofa.


“Dasar mesum, terus kalau gini Aku mau mandi dimana...?”


“Dirumah aja nanti sekalian ganti baju terus Kita pergi dinner sama Bella. ”


“Bella terus... ” Naya memanyunkan bibirnya.


“Emang Kamu mau mandi disini? yang ada malah ketahuan banyak orang... ”


“Ini gimana...? sepertinya Aku nggak bisa berjalan.” Naya berusaha bangkit tapi tetap saja meringis menahan rasa perih.


“Masih perih? ”


“Masih lah, bahkan perih banget. Tongkatmu sih terlalu panjang dan besar. Sampai bikin Aku kayak gini. ”


“Tapi Kamu suka kan...? ” goda Alfath kepada Naya.


“Sudah ayo pulang. Aku mau istirahat. ” disaat Naya ingin berdiri, tiba-tiba Dia menjerit.


“Aw... fix nggak bisa jalan. Ini pasti udah bengkak, memar dan apalah pokoknya sakit banget. ”


“Biar Aku gendong aja... ”


“Eits... dilihatin banyak orang nanti. Yang ada seluruh karyawan disini pada ghibahin Aku. Dikira simpanan Kamu lah, apalah... ”


“Oke Aku tau caranya... ” Naya membukatkan bola matanya penasaran dengan solusi yang akan diberikan Alfath.


“Haloo, Herdi... tolong carikan kursi roda dong. Sepertinya Aku pernah melihatnya digudang. ”


“Kursi roda? buat apa pak...? ”


“Naya habis jatuh, saat ini Dia tidak bisa berjalan. Makanya saya minta tolong Kamu untuk mencarikan kursi roda. ”


Ini bukan rumah sakit Pak, mana ada kursi roda dikantor?


“Kenapa nggak langsung dibawa ke rumah sakit aja Pak biar langsung ditangani dokter? ”


“Ah sepertinya tidak perlu. Nanti coba saya urut sendiri pasti sembuh kok. ”


Aneh

__ADS_1


to... tok...


“Masuk... ”


“Permisi Pak, ini kursi rodanya. Sama Saya juga sudah panggilkan ambulans. ”


“Hei... ngapain panggil ambulans segala. Naya baik-baik aja kok. Kakinya cuman keseleo sedikit. Saya hanya butuh kursi rodanya aja Herdi. ” asisten pribadinya itu menghela nafas. Kenapa bosnya bisa jadi aneh begini. Dia melirik Naya yang duduk di sofa dengan sedikit berantakan.


Oh Aku tau, ini bukan sekedar jatuh biasa. Tapi ini dijatuhi Pak Bos...


“Baiklah Pak, saya akan menyuruh ambulans kembali dan ini saya serahkan kursi rodanya. Semoga Bu Naya lekas sembuh... ” Herdi berpamitan kepada Alfath.


“Huft... akhirnya dapat juga... ” Alfath membimbing Naya untuk duduk di kursi roda dengan hati-hati melewati pintu belakang agar tidak ada yang melihat. Tapi dari sudut sana seseorang sedang memperhatikan mereka berdua.


“Itu bukannya Naya? kenapa Dia ada di kursi roda, pake didorong Alfath lagi. ”


...****************...


“Huft... untung kamu agak kurusan dikit. Kalau gemuk pasti udah Aku lempar kaya jumroh... ” Alfath bernafas lega setelah menghempaskan tubuh Naya di atas tempat tidurnya.


“Harus tanggungjawab lah. Siapa juga yang memulai duluan... ”


“Iya, iya... lagian udah beres kan. ”


“Fath... ”


“Baik Mas Alfath, Aku mau tanya sesuatu... ”


“Tanya apa dedek Naya...? ”


“Hiih... geli. kenapa harus panggil begitu sih? Aku tuh lebih rela diteriakin di telinga daripada harus dipanggil begitu. ”


“Tanya apa Naya...? ” Alfath sengaja berteriak tepat ditelinga Naya seperti apa yang dikatakan.


“Keras banget sih... ”


“Perempuan, sulit diartikan. Katanya rela ternyata cuma bercanda. Huh... ” Alfath berkata lirih tapi masih bisa didengar oleh Naya.


“Bilang apa tadi...? ”


“Mau tanya apa Naya...? ”


“Kamu emang beneran cinta sama Aku...? ” pertanyaan yang Naya lontarkan jelas membuat Alfath tersenyum getir.

__ADS_1


“Pertanyaan macam apa itu...? itu tidak pantas ditanyakan. ”


“Kan cuma mau tanya. Masak nggak boleh. ”


“Justru itu pertanyaan yang seharusnya Aku tanyakan ke Kamu. Apa Kamu sudah mencintaiku? ”


“Hmm... Aku mau mandi dulu. Tapi tolong anterin kekamar mandi dulu. ”


“Nggak. Sebelum menjawab pertanyaanku Kamu tidak boleh mandi. ”


“Alfath, tubuhku sudah lengket akibat ulahmu. Sekarang malah dilarang mandi. ”


“Jawab dulu. Tinggal bilang sudah atau belum aja kok susah. ”


“Maaf Aku belum bisa menjawab.” Alfath menghembuskan nafasnya dengan keras. Dia sudah menduga pasti istrinya akan menjawab seperti itu seperti sebelum-sebelumnya. Daripada membuang tenaga untuk menanyakan hal yang belum pasti, Dia langsung menggendong Naya menuju bath up.


“Kenapa masih disini...? ”


“Aku akan memandikanmu, karena kondisimu seperti itu. ”


“Tidak usah. Aku bisa sendiri kok. Lagian yang sakit kan cuma bagian ini saja. ”


“Diam Naya, Aku tidak suka penolakan. ” dengan cekatan Alfath langsung mengisi bath up dengan air hangat dan juga menggosok punggung Naya dengan sabun. Seluruh bagian belakang telah selesai. Tinggal bagian depan.


“Bersandar... ” tiba-tiba nada bicara Alfath menjadi berat. Seperti sedang membentak. Naya menjadi heran dengan sikap Alfath yang mendadak berubah.


Alfath menggosok bagian depan Naya dengan lembut. Tiba di area bukit kembar, Naya langsung menutup tubuhnya dengan kedua tangan. Tapi Alfath menyingkirkan dengan kasar. Dia juga sedikit memainkan puncaknya yang membuat Naya melenguh.


“Fath... ” Alfath hanya diam saja. Tatapannya dingin. Naya bingung kenapa sikap suaminya berubah hanya dalam sekejap saja.


“Kamu marah...? ”


“Enggak.”


“Kamu kalau capek itu istirahat. Kan udah Aku bilang, Aku bisa mandi sendiri. ”


“Diam... ” Alfath hanya mengatakan itu dengan nada agak tinggi. Membuat Naya semakin bingung. Dia hentikan gerakan tangan Alfath yang masih memandikannya. Tapi tangan Naya ditepis oleh Alfath. Dia seperti tidak sabaran agar cepat selesai. Seluruh tubuh bagian atas Naya sudah bersih. Tinggal yang bawah. Alfath menggosokkan tangannya kedalam bagian inti Naya. Hal itu tentu menimbulkan sensasi aneh bagi Naya.


“Euh... perih... ” Alfath tidak memperdulikan Naya yang sedikit meringis. Tangannya masih cekatan membersihkan bagian bawah. Dia memperdalam gosokannya hingga Naya mengeluarkan suara laknat kesukaan Alfath.


“Fath, hentikan... ” Alfath tidak menghentikan aksinya. Justru Dia ikut masuk kedalam bath up.


“Ini sempit Fath, kenapa Kamu ikutan masuk juga.” tatapan Alfath kini semakin buas. Matanya memerah seperti menahan amarah.

__ADS_1


“Biar Kamu tidak meragukanku lagi. Cintaku itu sangat besar, tapi entah hatimu itu terbuat dari apa. Sampai detik ini masih tetap ragu denganku.” Alfath menyesap bibir Naya dengan buas. Adegan panas itu terulang lagi di kamar mandi.


__ADS_2