
Harinya Kania selalu berlalu dengan sulit, air mata dan juga perasaaan sesak. Sudah begitu Kania tak punya tempat untuk mengadu atau sekedar berkeluh kesah tentang perasaannya itu.
Dia hanya bertahan dengan menahannya sendiri. Menelan bulat-bulat ucapan pedas dan tak enak yang setiap kali keluar dari bibir suaminya sendiri.
Kemudian saat dirinya menerima panggilan telepon dari Keenan. Mungkin itulah satu-satunya yang membuat dia bahagia. Apalagi saat kekasihnya itu mengajaknya untuk bertemu.
Kania bahkan seperti biasanya sebagaimana dia belum menikah, berdandan dahulu sebelum menemui kekasihnya.
Namun kali ini agak berbeda, dia mungkin harus sembunyi-sembunyi menemui Keenan agar Arland tak mengetahuinya dan menjadi marah.
Dengan perasaan berbunga-bunga, Kania pun pergi tak sabaran untuk menemui kekasihnya. Hari ini dia bermaksud untuk jujur dan memberitahu Keenan, kemudian setelahnya memohon pada pria supaya membawanya pergi sejauh mungkin dari Arland.
Pergi dengan bahagia bersama dan mungkin mereka akan memulai hidup baru yang indah.
"Keenan!!" seru Kania sambil setengah berlari menghampiri, lalu kemudian memberi pelukan.
Brakk!!
Tiba-tiba saja tubuh Kania terdorong kebelakang, kemudian dengan keras terjerembab jatuh terhempas pada lantai yang keras.
"Auchhh! Apa yang kamu lakukan Keenan?" tanya Kania dengan tak mengerti.
Dia baru saja mendapatkan perlakuan tak enak dari ke kekasihnya. Di dorong kasar tanpa perasaan, sampai membuat tubuhnya kesakitan dan juga langsung merasakan perasaan yang tak mengenakkan.
"Apa yang aku lakukan? Kau masih berani bertanya begitu Kania?!" geram Keenan terlihat marah.
Pria itu bahkan tak perduli kalau sekarang mereka menjadi tontonan orang-orang yang ada di sana. Ah, ya, mereka saat ini sedang di restoran favorit keduanya.
"Apa maksudmu?" tanya Kania kini dengan kedua bola mata yang diselimuti oleh air mata.
"Breng-sek!! Kau bahkan masih berani berkata seperti itu. Masih berpura-pura tidak tahu?!" geram Keenan marah dan kemudian dengan tak tahan dia melemparkan sesuatu tepat ke wajah Kania.
"Lihat itu murah-an. Apa setelah melihatnya kau masih berpura-pura lagi?!" bentak Keenan dengan marah.
__ADS_1
Dengan gemetar dan perasaan yang sudah bercampur aduk, Kania pun meraihnya. Mengambil benda yang dilemparkan Keenan kepadanya sambil menghinanya, yang tak lain adalah sebuah foto.
Kania meneguk ludahnya kasar dan langsung mengerutkan dahi, begitu melihat fotonya dengan Arland yang sedang di dalam mobil. Kania tak mengingat kejadian itu, tapi kemudian dia ingat tuduhan ibunya sebelum menikah.
Firasat kania mengatakan fotonya mungkin adalah saat dia dan Arland yang baru pulang dari klub. Kania memang lupa kejadiannya, tapi dari penjelasan ibunya dan fotonya jelas sudah semuanya. Dia dan Arland saat itu cukup tak senonoh. Pantas saja ibunya gigih supaya dia menjadi pengantin pengganti.
Namun tak hanya itu ada foto yang lain juga. Kania mengambilnya dan melihatnya. Foto pernikahan dan juga foto mesra yang berlatar di tempat umum. Kania ingat kejadian foto ketiga. Itu terjadi pada saat Arland memaksanya.
Tak tahan lagi, perasaannya yang mendadak kacau pun membuat air matanya runtuh dan jatuh ke pipinya.
"Tidak usah bersikap seolah orang yang tersakiti begitu, Kania. Aku sudah sadar kau itu tak ubahnya perempuan munafik dan penghianat yang tak tahu malu!!" hina Keenan membuat orang-orang yang menyaksikan mereka, tadinya iba pada Kania kini ikut menatap merendahkan.
Walau begitu tak ada di sana yang mau ikut campur, mereka hanya terus menjadi penonton setia dan tak ada yang hendak melerai.
Namun tiba-tiba saja seseorang diantara mereka yang akhirnya bangkit, tapi seperti sebelumnya dia bukan untuk melerai. Orang itu bahkan datang sepertinya untuk memperkeruh keadaan.
"Sabar Keenan, jangan habiskan tenagamu untuk marah pada perempuan tukang selingkuh, yang bahkan mengambil calon suami kakaknya sendiri!" seru perempuan itu sembari mengusap bahunya Keenan.
Dia adalah Karin sahabatnya yang paling dekat dengannya selama ini, dia satu-satunya teman yang dia miliki.
"Apa ini kenapa kamu ada di sini juga, Karin?"
Keenan mendengus dan menyeringai sinis pada Kania. "Dialah yang sudah membuka mataku tentang seberapa jala-ngnya kamu!!" tukas Keenan dengan tegas.
Air mata langsung begitu lancarnya mengaliri pipinya Kania. "Tapi kenapa kau lakukan ini, Karin?"
"Kenapa kau bilang. Oh, jadi kau ingin menyembunyikan kebusukanmu selama ini?" kata Keenan yang malah menjawab Kania.
"Karin sudah benar melakukan hal itu. Mengungkapkan perselingkuhanmu di belakangku. Aku jadi menyesal mengapa memperlakukanmu dengan baik dan bahkan sangat menjaga kehormatanmu. Tahu betapa jala-ngnya kamu aku jadi terpikirkan kenapa dulu aku tidak mencoba tubuh jala--"
Bugg!
Bugg!
__ADS_1
Dua pukulan tiba-tiba langsung bersarang di rahang dan perut Keenan dan membuatnya menghentikan kalimatnya sebelum selesai.
"Berani kamu berpikir seperti itu tentang istriku?!!" geram Arland tiba-tiba sudah ada di sana.
Sebenarnya dia sebelumnya memang sudah di sana. Mengikuti Kania sejak dia sadar istrinya itu hendak pergi diam-diam.
Dia juga sebenarnya sudah sangat marah mengetahui Kania menemui pacarnya dan bahkan langsung memeluknya, itulah mengapa Arland membiarkan Keenan mendorong Kania tadi.
Namun semakin lama menjadi penonton diam-diam, dia menjadi tak tahan. Apalagi saat menyaksikan adegan yang tak dia duga, Arland malah menjadi murka.
Walaupun benci istrinya yang sudah mau berselingkuh darinya, tapi menyaksikannya dihina. Itu seperti merasakan dirinya sendiri yang dihina.
Itulah mengapa pada akhirnya Arland bangkit dari persembunyian pada saat mengamati pertemuan pasangan kekasih. Ah, bukan, tapi mungkin mantan kekasih tepatnya.
"Oh, ternyata kamu. Bajing-an yang sudah merusak perempuan hina ini!!" geram Keenan sambil mengusap rahangnya yang habis dipukul oleh Arland.
"Rusak? Kau sendiri tadi bilang bahwa selama bersama kau menjaga dan menghormati Kania, lalu bagaimana dia bisa rusak. Apa karena aku pernah menci-umnya di tempat umum? Tapi kenapa, bukannya kami suami-istri. Harusnya itu bukan masalah!" kata Arland dengan tegasnya, tapi dengan sekilas dia sempat menatap sinis Kania.
Membela perempuan itu sekarang bukan berarti dia memaafkannya.
Sementara itu Keenan terdiam, tak tak tahu harus menjawab apa. Arland benar juga. Mereka suami istri lalu apa yang salah dengan adegan yang ada di foto-foto itu.
Namun kemudian Keenan tak bisa diam saja. Tak mampu menjawab dengan ucapan dia menjawab dengan memukul Arland.
"Bajing-an tutup mulutmu. Itu pantas untukmu!!" seru Keenan setelah berhasil memukul Arland.
Sementara itu Arland juga tak bisa pasrah saja. Perkelahian pun tak terelakkan. Keduanya pun membuat tempat tersebut rusuh dengan saling memukul, dan bahkan semakin rusuh ketika Keenan mulai main alat dengan meraih kursi dan hendak memukul Arland.
Namun beruntunglah Arland sigap menghindar dan kini orang-orang di sana yang awalnya cuma jadi penonton, pun tak tahan juga dan segera memanggil keamanan untuk melerai.
➡➡➡
TBC
__ADS_1