
'Perhiasan yang Mas Arland berikan palsu, tapi bagaimana bisa?' batin Kania bertanya-tanya.
Kania masih tak percaya ketika mendengar ucapan suaminya, siang itu ketika memutuskan untuk menemui sang suami di ruang kerjanya. Namun sekarang sudah tak jadi, karena tiba-tiba saja perasaannya bercampur aduk.
Dia sudah kembali bekerja, dan karena tak dipecat karena hampir dua minggu cuti, orang-orang di sana mulai menggosipkannya. Pegawai yang bekerja dilantai bawah sebagai staff biasa memang tak tahu dirinya, Kania ketika baru menjadi istri Arland memang tak pernah lewat lantai itu, dan tak pernah diperkenalkan pada semua karyawan dan staff di sana sebagai istrinya CEO.
Sehingga hanya beberapa para petinggi yang bekerja di lantai yang sama dengan Arland, HRD dan menager dari divisi-nya yang tahu siapa dia.
"Itu dia anak baru itu, baru beberapa hari kerja, tapi liburnya sudah beberapa minggu. Aneh bangat nggak sih, kenapa karyawan seperti dia tak dipecat?" ujar seseorang terang-terangan menggosipkannya.
Kania masih mencoba sabar, dan menahan diri untuk tak terpancing. Masalah ucapan Arland belum selesai, tapi sekarang sudah ada yang baru.
"Nggak tahu tuh, jangan-jangan dia simpanan manager kita, makanya dia bisa sebebas itu!" seru seseorang lainnya menjawab dan itu membuat Kania geram sekali.
Namun, daripada meladeni, Kania memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya saja. Dia pun menyibukkan diri dan menatap layar komputernya. Kemudian dengan tak lupa dia memasang kencang headset di telinganya dengan volume yang sangat keras, sampai membuatnya tak bisa mendengarkan gosip murah-an tentangnya dari orang lain.
Kania terus begitu, sampai ketua dari divisi-nya menepuk bahunya. "Pak Arland memanggil mu ke ruang kerjanya!" kata menager itu setelah melihat Kania selesai melepas headsetnya.
Kania mengangguk paham dan segera pergi dari sana untuk melakukan ucapan atasannya. Sementara orang yang menggosipkannya segera heboh, tapi karena sang atasan masih di sana mereka menahan diri. Barulah buka suara setelah sang atasan melangkah menjauh beberapa langkah.
"Wah, lihat wanita aneh itu. Sekarang lebih aneh lagi. Masa sih pegawai kelas bawah seperti kita bisa sampai dipanggil langsung oleh CEO perusahaan ini?!" seru seseorang disana.
"Nggak tahu tuh, kayaknya ada sesuatu?" timpal yang lain dan ikut kebingungan.
Samar-samar sang menager yang sudah mendengar ucapan mereka dan tersenyum miring. Biar saja penggosip itu berucap sesukanya, dia pikir mereka akan kapok secepatnya. Ah, ya, diapun sudah muak dengan orang yang dipekerjakan seperti mereka, lebih banyak bicara daripada bekerja.
➡➡➡
"Sudah makan siang?" tanya Arland perhatian.
__ADS_1
Namun bukan hanya untuk basabasi atau pertanyaan saja. Di meja khusus dekat sofa yang biasanya memang dipakai ketika bertamu atau makan siang. Terletak banyak jenis makanan yang beragam.
Kania melihatnya dan dengan polosnya malah terpikirkan sesuatu. 'Apa jangan-jangan itu juga makanan palsu?'
"Jawablah, jangan menunggu kesabaranku habis Kania!" peringat Arland yang segera membuat Kania mendengus kasar.
"Kamu berbicara seperti itu seperti punya kesabaran saja. Kesabaran apa yang habis, kamu selama ini tak punya kesabaran sama sekali!" cibir Kania keceplosan.
Perempuan itu sebenarnya sudah takut di marahi atau dikasari suaminya, tapi kemudian saat menemukan senyuman aneh di wajah suaminya, Kania pun mendesah lega.
"Bibirmu pedas juga. Hm, yasudah lupakan itu, ayo kita makan sekarang," kata Arland dan kali ini dia menghampiri istrinya lalu menarik tangannya. "Aku yakin kamu belum makan. Jangan sampai anakku kelaparan," jelas Arland diakhir kalimatnya membuat Kania berpikir tak mungkin lagi makanannya palsu, sebab itu untuk anak mereka. Setahunya sang suami berubah dan manis belakangan itu memang karena calon anak mereka. Jadi Kania tak perlu khawatir lagi.
'Mungkin cuma perhiasannya saja yang palsu atau kartu yang dia berikan selama ini. Ingin membuatku senang demi keamanan calon anak kesayangannya, tapi tak mau rugi!' batin Kania menebak-nebak.
➡➡➡
Pulang kerja, Kania segera dijemput supirnya Arland. Tak bisa pulang bersama, sebab suaminya itu masih harus lembur.
"Mbak, bisa dicek lagi nggak? Saya takut kalung saya palsu," jelas Kania kali ini terang-terangan karena sebelumnya dia tak puas dengan hasilnya.
"Maaf Mbak, tapi itu sudah sangat akurat bisa dipastikan keasliannya. Jangan khawatir kalungnya memang asli, Mbak. Jika masih belum percaya Mbak bisa pastikan ke toko lain," jelas pegawai toko emas tersebut.
Kania mengangguk paham, tapi karena tak enak hati cuma memeriksa keasliannya saja, perempuan itu akhirnya membeli sebuah gelang dengan gram yang paling rendah sehingga tentu saja harganya paling murah.
Awalnya dia membayar ingin menggunakan kartu ATM pribadinya, tapi teringat ucapan suaminya tentang perhiasan palsu ketika tak sengaja dia dengar siang itu, rasa penasaran Kania pun muncul.
'Apa aku pake kartunya aja ya, mana tahu ini isinya nggak ada. Mas Arland cuma mau mengerjai aku saja. Hm, kalau nanti nggak bisa kan aku baru pake kartuku saja!' seru Kania membatin.
Perempuan itu pun mencobanya dan menggaruk kepala ketika pembayaran menggunakan kartu berhasil. Namun, dia belum puas. Kania segera ke ATM terdekat dan melakukan penarikan menggunakan dua kartu lainnya untuk memastikan dan dia bahkan mengecek saldonya.
__ADS_1
"Yaampun banyak banget. Ini nggak kerja sampai matipun pasti biaya hidup masih terpenuhi. Mas Arland kaya juga ternyata!" ujar Kania sambil mengusap dada sambil masih memperhatikan kartunya dan juga uang yang barusan dia tarik tunai.
Menyimpannya di dompet dan karena merasa dompetnya penuh, Kania pun ngidam belanja sesuatu.
"Pak kita ke supermarket dulu ya, saya mau belanja bulanan dulu sebelum pulang," ujarnya ketika sudah di dalam mobil kepada sang sopir.
Sebetulnya hanya ingin es krim, tapi karena uangnya banyak Kania pikir tak ada salahnya sekalian belanja bulanan.
Capek belanja bulanan untuk kebutuhan dapur Kania pun pulang, tapi belum sampai di rumah tepatnya masih dijalan yakni di lampu merah. Mobil mereka harus berhenti karena lampu menunjukkan warna merah.
Anehnya entah kebetulan atau tidak, berhentinya tepat disebelah mobil yang Kania sangat mengenalnya. Itu mobil yang kerap kali mengantar jemputnya ketika kuliah.
"Ah, Keenan geli. Hahaha, udah dong. Perhatikan lampunya nanti sudah ijo saja kamu nggak sadar!" seru Karin yang begitu sangat dikenali Kania suaranya.
Dia pun memperhatikan dan menemukan pintu kaca mobil Keenan terbuka. Begitu asiknya dua orang di dalam mobil yang berada di sebelahnya, sampai tak sadar sedang diperhatikan.
Bermesraan bahkan dengan jendela mobil yang terbuka itu, mereka tanpa malu berci-uman.
'Apakah mereka sudah jadian, dan sekarang sudah menjadi sepasang kekasih?' batin Kania bertanya-tanya.
Kania yang menyaksikan itu tak bisa menapik dia segera merasa sesak luar biasa, tapi dia tak berdaya untuk menegur atau protes terhadapnya, sebab dia yang sekarang bukan lagi siapa-siapanya Keenan. Apalagi setelah teringat bagaimana kejinya Keenan menghinanya di rumah sakit karena tahu kehamilannya.
Mata Kania segera berkaca-kaca, lalu dengan spontan dia mengusap perutnya yang masih rata. Tak butuh menahan lama, penderitaannya segera berakhir ketika lampu berubah hijau.
'Keenan kamu bilang aku sudah menjadi perempuan murah-an karena menikah dengan Mas Arland, aku yang begitu mudah melupakanmu dan hubungan kita, bahkan kamu terang-terangan menghinaku!
Lalu apa yang sekarang aku lihat, kenapa kamu seperti itu. Kalian begitu akrab. Kamu dan dia, aku jadi yakin dan bertanya-tanya, apakah kalian sudah lama bersama ataukah baru mulai?' batin Kania kebingungan ditengah rasa kepedihannya itu.
Dia curiga dan merasa janggal dari hubungan antara mantan pacar dan juga mantan sahabatnya. Sekarang Kania bahkan mulai bertanya-tanya sebenarnya siapa yang sudah berhianat diantara mereka. Masih dirinya sendirikah ataukah Keenan juga.
__ADS_1
➡➡➡
TBC