Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Menyingkirkan Jejak Lyra


__ADS_3

"Kamu ini aneh sekali. Hampir tiap malam maunya makan malam diluar!" komentar Arland saat mereka sedang menunggu makanan pesanan mereka tiba.


"Aku ngidam Mas dan asal kamu tahu artinya itu bukan aku yang minta, tapi anak kamu. Artinya anak kamu dong yang aneh," balas Kania tak terima dikatain aneh.


"Enak saja kamu ngomong begitu. Anakku tidak aneh dan jika benar itu keinginannya berarti dia keren. Karena maunya makan di restoran bintang lima terus, dia benar-benar menempatkan diri dengan baik sebagai calon pewaris tahta!" seru Arland malah berbalik mengatakan hal lain untuk membela calon anaknya.


"Kok bisa gitu sih? Kalau aku yang ingin, aku aneh, tapi kalau anak kamu yang mau malah keren?!" todong Kania tak terima.


"Itu karena dia anakku dan di dalam darahnya mengalir darahku, secara tidak langsung dia bagian dari ku Kania. Tentu saja dia sangat keren karena mengikuti kebiasaan ku yang merupakan ayahnya, sementara kalau kamu--" Arland sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi yang ditimbulkan istrinya. Melihat Kania menantikan ucapannya, maka diapun melanjutkan. "Kamu jelas saja aneh. Kere tapi doyan makan di restoran mewah, bukankah itu agak janggal kedengarannya," jelas Arland dengan wajah tanpa dosanya.


Membuat Kania tentu saja sangat menyesal karena sudah menanyakannya. 'Sial. Suami kejam ini benar-benar tidak punya hati sama sekali!' geram Kania membatin.


Sakit hati atas ucapan suaminya, Kania sudah jelas merasakannya, tapi bukannya mogok makan dia malah lebih rakus dari pada biasanya. Dia melampiaskan emosinya lewat makanan yang kemudian sudah datang.


"Benar-benar unik, kamu Kania. Padahal sudah aku beri makan tiap hari, tapi badan masih kurus dan juga selera makanmu cukup bagus!" ujar Arland antara pujian atau bahkan hinaan.


Kania yang mendengar itu semakin terpancing dan semakin bersemangat menghabiskan makan malamnya.


Namun Arland tak mempermasalahkan selera makannya Kania. Malahan dia justru terpancing dan tanpa sadar makan banyak juga. Setelah kekenyangan, Arland baru merutuki aksinya dan menyalahkan Kania.


"Ini semua karena mu. Aku harus banyak berolahraga weekend ini untuk menjaga berat badan dan juga tubuh atletis-ku. Kalau tidak kamu bisa bosan dan melirik mantanmu!" ujar Arland dengan mudahnya.


"Enak saja. Kamu pikir aku penghianat, gini-gini kalau aku tidak terjebak menikah dengan pria kejam sepertimu, aku sangat setia. Aku bahkan tidak berpikir untuk pergi dari sisimu!" tegas Kania tanpa sadar mengutarakan niatnya dan itu membuat Arland senang sekalipun dia masih datar saja.


•••


Pagi-pagi Arland sudah didatangi oleh Lyra dengan wajah sembabnya. Bekas air mata terlihat membekas di pipinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Lyra?" tanya Arland pura-pura khawatir.


Namun bukannya menjawab, Lyra malah langsung memeluknya dan lanjut menangis dengan sesegukan. Arland membiarkannya saja, demi rencana dan juga dia tak menapik dia sangat suka Lyra yang begitu.


Barulah setelah Lyra menangis cukup lama, Arland menuntut lagi penjelasannya.


"Ak-aku baru di rampok. Bahkan baru saja hampir diper-kausha! Hiks-hiks, untung saja ada warga dan menyelamatkanku, tap-tapi kalung darimu hilang Baby," jelas Lyra sambil masih sesegukan.


"Apa?" tanya Arland pura-pura terkejut. "Bagaimana bisa, dan kenapa hal buruk itu sampai terjadi kepadamu?" tanya Arland.


"Ak-aku juga tidak tahu, Baby ... semalam ketika aku ingin membantu dan menjemput sahabatku di klub malam. Tiba-tiba saja mobil yang kubawa untuk membawanya pulang, dihadang dan beberapa preman memaksa kamu keluar.


Mereka segera merampas kalungnya dan bahkan hampir melakukan hal yang buruk, jika saja tidak ada warga yang masih bangun jam itu dan kebetulan lewat dan menyelamatkan kami. Warga itu baik sekali dan langsung menghubungi polisi untuk tiba. Sehingga preman itu takut dan melarikan diri.


Tap-tapi kalungnya benar-benar hilang Baby. Bagaimana sekarang?" tanya Lyra yang sebetulnya tidak sedih. Dia begitu cuma agar Arland bersimpati dan berharap menggantinya dengan kalung yang baru.


"Jangan sedih lagi. Bagaimana pun juga itu musibah. Aku bahkan tidak mengkhawatirkan kalungnya, tapi kamu. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Arland pura-pura khawatir.


"Aku baik-baik saja Baby, tapi aku benar-benar tak bisa tenang setelah kejadian itu," jelas Lyra merengek.


"Tidak apa-apa sa-Lyra," jelas Arland hampir saja mengatakan sayang, tapi tak jadi karena teringat Kania yang cemburu dan dia jadi tak sampai hati walaupun itu cuma pura-pura.


"Pulanglah dan tenangkan dirimu. Untuk masalah kalung aku akan berikan yang baru dan dua kali lipat lebih mahal dari itu!" tegas Arland membuat Lyra bahagia dan Arland menyadarinya.


'Cih. Itukan maumu gadis sialan. Cih, dasar mata duitan. Harta terus yang ada dikepalamu!' batin Arland mampu menebak apa yang Lyra pikirkan.


"Baiklah, Baby. Aku akan pulang dan beristirahat. Sepertinya kamu benar. Aku memang membutuhkan itu. Oh, iya. Aku hampir saja melupakannya. Minggu depan salah satu sahabatku akan menikah, kamu maukan ikut dengan ku ke sana untuk menemaniku?"

__ADS_1


Arland berpikir sejenak, kemudian dengan agak ragu mengangguk menyetujuinya.


"Terimakasih Baby, aku yakin kamu pasti mau dan mengusahakan yang terbaik. Hm, aku pulang dulu, kamu kerjalah yang semangat!" seru Lyra memberi semangat.


Namun Arland seperti biasa tak bisa senang lagi dengan itu, terkecuali hanya muak mendengarnya.


"Jaga dirimu baik-baik Lyra, jangan sampai kejadian semalam terulang lagi," ujar Arland basabasi dan juga tak serius.


Lyra mengangguk saja, sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Fiuh, akhirnya monster penghianat itu pergi juga!" lega Arland sambil kemudian membuka jasnya.


Dia tak tahan dengan bekas parfum Lyra yang membekas pada jasnya, karena hal itu membuatnya kesal dan selalu teringat dengan penghianatannya.


"Dia pakai parfum apa lagi, kenapa aromanya jadi sangat menyengat akhir-akhir ini!" gerutu Arland kesal.


Bukan aroma parfumnya yang berubah, tapi suasana hati Arland. Sungguh, cinta dan benci sudah mengubah segalanya. Dulu suka sekarang tersiksa.


"Sepertinya aku harus mandi bersih untuk mengenyahkan semua ini. Cih, benar-benar mengganggu sekali! Seharusnya dia tak usah datang tadi!" lanjut Arland menggerutu.


Tak tanggung-tanggung, pria itu malah menyuruh OB atau OG untuk membersihkan ruangannya. Mensterilkan ruang kerjanya itu dari bau parfumnya Lyra.


"Jangan sampai ada yang kelewatan!" tegas Arland serius.


Setelah mengatakan itu pada OB dan OG di perusahaannya, Arland benar-benar pulang untuk mandi dan mengganti pakaian. Tak bisa dia bayangan betapa tersiksanya dia dipeluk Lyra si penghianat baginya itu. Sangat menyiksa dan dia sangat menyesalinya.


•••

__ADS_1


TBC


__ADS_2