
"Sayang kamu di sini, siapa pria itu?!" tanya seorang laki-laki berjas dengan pakaian rapih menghampiri Lyra.
Orang-orang di sana segera menatap heran, bagi yang dekat dengan Lyra tentu saja agak kaget, karena setau mereka Lyra cuma dekat dengan Ricko atau Arland.
"Siapa kamu, jangan mengaku-ngaku. Aku tidak mengenalimu!" jawab Lyra dengan tegas.
Wajah laki-laki tersebut langsung seperti terkejut mendengar reaksi yang Lyra berikan dan dia segera geleng kepala untuk menepis perkataan Lyra.
"Bagaimana mungkin kamu tidak mengenaliku, Lyra. Kita bahkan sebentar lagi akan menikah. Lihat cincin di jari manismu dan juga di jariku. Itu cincin yang sama dan merupakan cincin pertunangan kita!" jelas laki-laki itu lagi, kali ini membuat semua orang yang di sana tercengang dengan kebenarannya.
Lyra yang tak mengerti bagaimana cincin itu benaran ada di jari manisnya terlihat bingung, tapi Ricko sepertinya langsung menatapnya dengan geram. Sepertinya dia sudah termakan ucapan laki-laki yang mengaku tunangan Lyra itu.
"Aku pikir kamu hanya mendekati Arland untuk uangnya dan juga masa depan kita yang menjanjikan, tapi bagaimana dengan pria ini Lyra. Bisa kamu jelaskan siapa dia?!" bisik Ricko pelan, tapi menuntut.
Dia masih punya urat malu, sehingga tidak terang-terangan mengatakan prihal hubungannya dengan Lyra dihadapan umum. Andaikan dia cukup beruang, dia takkan membiarkan wanitanya mencari pria lain meskipun hanya dijadikan ATM berjalan. Sayang Ricko memang kurang berada. Itulah mengapa dia tak berdaya soal hubungan kekasihnya dengan Arland.
"Aku juga tidak mengenalnya sayang," jelas Lyra berbisik dengan gugup.
"Kenapa kalian malah berbisik begitu. Jangan dekat-dekat dengan pria itu Lyra, atau aku bongkar rencanamu?!" seru laki-laki itu dengan tiba-tiba mengancam.
"Rencana apa, dan kamu ini sebenarnya siapa? Aku tidak mengenalimu!" seru Lyra.
"Jangan main-main Lyra!" seru laki-laki itu lagi. "Kita sebentar lagi akan menikah, karena kita sudah punya--"
"Punya apa?" tantang Lyra tak takut, karena dia memang sebetulnya tak mengenali pria itu dan dia tak pernah menjalani hubungan apapun. "Asal kamu tahu, aku tak takut ancamanmu. Cih, kamu pikir kamu siapa?! Sudah kubilang aku tak mengenalmu!!"
"Oh, begitu rupanya kamu Lyra. Tega-teganya padaku. Baiklah, aku akan mengatakan segalanya, tapi sebelum itu untuk lebih meyakinkan aku akan segera memberikan bukti untuk ucapanku selanjutnya!" jelas laki-laki itu sambil meraih merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar keterangan surat dari dokter bersamaan dengan hasil USG.
Laki-laki itu kemudian memberikannya langsung pada Ricko. "Aku pikir kamu lebih pantas melihatnya lebih dahulu, karena apapun hubungan kalian perlu kamu ketahui siapa dia dan bagaimana kondisinya," jelas laki-laki itu serius.
Ricko langsung bereaksi antara percaya dan tidak, tapi buktinya sudah di depan mata. Sementara itu Arland sudah masuk ke dalam aula pesta membaur dengan tamu undangan yang penasaran dan malah menonton mereka.
"Dasar penghianat. Mulai hari ini kita putus, aku tak sudi menerima perempuan yang sudah hamil anak pria lain!" tegas Ricko dengan lantang.
__ADS_1
"Putus? Kalian pacaran saat ini?" tanya Arland yang tiba-tiba bersuara dan muncul dari kerumunan tamu.
Lyra kaget bukan main, tapi Ricko sudah tak perduli lagi. Karena dia sudah muak dengan Lyra.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat sayang!" tiba-tiba Lyra langsung menghampiri Arland, tapi kemudian tangannya yang mencoba menyentuh Arland langsung ditepis kasar.
"Kamu pikir, aku juga sudi memiliki wanita yang mempunyai satu, dua, oh bukan, tapi tiga pria dalam sekaligus. Rupanya di dunia ini bentuk play girls itu seperti kamu? Ckckck, aku cukup terkejut!" seru Arland geleng-geleng kepala.
Prok-prok!
Laki-laki yang mengaku tunangannya pun bertepuk tangan, lalu tertawa hambar. Sepertinya pria itu memang sangat handal dalam berakting. Tak sia-sial Arland membayar mahal untuk memuluskan rencananya.
"Hebat. Tiga pria satu wanita. Ckckck, baiklah akupun tak sudi dengan mu. Jangan-jangan anak dalam kandungan mu bukan anakku lagi!" timpal laki-laki yang mengaku tunangannya Lyra itu berhasil memperkeruh suasana.
Tamu undangan yang mengenali Lyra pun mulai bergosip dan membicarakannya.
"Aku tidak menyangka, Lyra yang keliatan terhormat punya tiga laki-laki sekaligus!"
"Murahan sekali dia!"
"Keren apanya? Keliatan jalangnya itu baru benar!!"
Lyra geleng-geleng kepala, dia sangat malu dan terpojok saat ini. Bahkan ingin menghilang dari sana sekaligus. Saat mencoba meraih Arland dia kembali ditepis, begitu pun dengan Ricko kekasihnya yang sebenarnya.
Lyra beralih pada laki-laki yang sudah mengaku jadi tunangannya, kemudian menatap tajam. "Ini semua karena kamu. Dasar bajing-an!!" ujar Lyra sebelum tiba-tiba lari dan kabur dari sana.
Laki-laki yang mengaku tunangannya itu langsung mengangkat bahunya acuh. "Kenapa jadi salahku, diakan yang sudah menjadi play girls?!" ujar laki-laki itu serius.
• • •
Selesai dengan urusan Lyra, Arland merasa lega dan sekarang tak sabar menemui istrinya Kania. "Alex apakah sudah kamu siapkan hadiah untuk istriku?" tanya Arland ketika sudah berhasil menghubungi asistennya itu.
"Sudah Pak. Anda bisa mengambilnya di meja Bapak. Saya sudah menyimpannya di sana," jelas Alex.
__ADS_1
"Baiklah aku akan segera ke sana dan juga akan segera mengirimkan bonus atas kerjamu yang sangat memuaskan. Ah, ya, tapi sebelum itu tolong panggil Kania supaya menemuiku di ruang kerjaku!" seru Arland memberi perintah.
"Baik Pak dan terimakasih untuk bonusnya," kata Alex membalas.
"Itu pantas kamu dapatkan," jelas Arland.
• • •
"Sial. Apalagi sih, Mas Arland ini. Berapa kali aku bilang untuk tidak memanggilku lewat orang lain. Ada HP yang lebih praktis, tapi dia malah masih menggunakan jasa manual lewat asistennya!" geram Kania sepanjang perjalan menuju ruang kerja suaminya.
"Padahal tadi pagi katanya mau pergi entah kemana, tapi sore ini sudah kembali saja. Apa urusannya sudah beres ya?" kata Kania masih menggerutu.
Sesampainya di ruangan Arland Kania langsung duduk dan menunggu dengan bosan di sofa. Arland tiba dengan beberapa orang dibelakangnya dan sedang membawa sesuatu.
"Taruh di sana," jelas Arland pada dua orang yang membantunya membawa sesuatu itu.
Setelah menaruhnya orang-orang itu pun pamit pergi, sementara Arland lanjut membereskan apa yang dibawanya di atas meja di depan sofa yang sedang Kania duduki.
"Apa itu?" tanya Kania sambil menatap sesuatu Arland bereskan.
"Makanan. Ibu hamil sepertimu membutuhkan nutrisi yang baik dan juga enak," jelas Arland membuat Kania berbinar.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Ambillah, ayok kita makan sekarang dan jangan membuang waktu lagi!"
"Tapi ini masih sore, belum waktunya makan malam?"
"Ayolah Kania, ini makanan enak. Apa kamu masih perlu memperhatikan waktu makan dan mengabaikan semua ini?"
Kania langsung menggelengkan kepala. Dia tidak perduli itu dan dia langsung saja memakannya tak sungkan lagi. Tanpa tahu kalau sebenarnya makanan itu adalah bentuk perayaan Arland atas keberuntungannya sudah berhasil membuat Lyra hilang muka sepenuhnya. Dia bahagia karena sudah berhasil menyingkirkan Lyra dari hidupnya.
• • •
__ADS_1
TBC