Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Geram, Tapi Perhatian


__ADS_3

Blam!!


Pintu kamar mandi didobrak dengan kuat sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Arland buru-buru masuk dan menghampiri Kania yang ternyata sudah pucat. Tergeletak di lantai dengan lemah dan tak sadarkan diri.


"Sial. Apa yang sudah terjadi kenapa dia bisa sampai begini!"


Arland yang khawatir langsung saja menghampirinya dan menggendong istrinya itu. Tanpa berpikir dua kali dia segera membawanya ke tempat tidur dan memeriksa keadaannya.


Keningnya terasa panas walaupun dia sepertinya habis diguyur air dingin. Bibirnya membiru dan selain itu hampir sebagian tubuhnya terasa dingin. Keadaan itu membuat Arland semakin cemas, dan langsung menghubungi dokter kepercayaan keluarganya.


Sembari menunggu, pria itu mengganti pakaian istrinya dengan yang kering dan menyelimutinya dengan selimut. Kemudian menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.


Anehnya walaupun bibirnya kerap kali mengatakan Kania bukan apa-apa, akan tetapi sejak beberapa saat lalu hatinya justru mengatakan hal lain. Wanita dihadapannya lebih dari apapun untuknya, sayang sekali Arland sepertinya belum menyadari perasaan itu, dan bahkan masih menyangkalnya.


"Aku hanya tidak mau anakku sampai kenapa-napa!" serunya meyakinkan dirinya sendiri.


• • •


"Bagaimana kondisi janinnya?" tanya Arland setelah Nita yang merupakan dokter yang memeriksa Kania memeriksanya.


"Dia tidak jatuh dan tidak ada tanda-tanda pendarahan apapun, atau bahkan bekas kekerasan pada tubuhnya," ujar Dokter Nita dengan serius. "Akan tetapi walaupun begitu kamu harus tetap memperhatikannya. Bukan hanya luka fisik yang bisa membuatnya kenapa-napa atau janinnya bisa dalam masalah. Beban pikiran dan terlalu stress bahkan bisa mengancam janinnya dan Kania bisa saja keguguran," lanjutnya langsung membuat Arland pucat.


Teringat dia memang beberapa kali mengabaikan istrinya dan bahkan tak segan bersikap kasar. Pria itu menyesal, tapi dengan ego yang kuat dia menekankan pada dirinya, kalau dia hanya menyesal sudah membuat calon anaknya berada dalam bahaya dan dia sama sekali tak memperdulikan Kania.


"Jangan membuatnya tertekan agar janinnya baik-baik saja," jelas Dokter Nita membuat lamunan Arland berakhir dan diapun mengangguk menyetujui.


• • •

__ADS_1


Seperginya dokter Nita, Arland masih dengan setia menunggu Kania sampai tersadar. Tak butuh lama kelopak matanya pun bergerak dan Kania pun membuka mata.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Arland perhatian.


"Hanya sedikit pusing dan lemas," jelas Kania walaupun dia bingung mengapa dirinya sudah di tempat tidur padahal sebelumnya di dalam kamar mandi.


Kania tak mau bertanya, karena dia tahu Arland pasti yang membawanya ke sana dan bahkan sudah mengganti pakaiannya.


"Beristirahatlah dan jangan pernah ceroboh seperti tadi lagi. Aku sudah merusak pintu kamar mandi dan tidak bisa dikunci lagi. Aku juga tidak akan pernah memperbaikinya, karena aku tak mau kejadian ini terulang kembali," jelas Arland.


"Terserah kamu saja, aku bukan siapa-siapa di rumah ini jadi suaraku tak penting sama sekali," jawab Kania sebelum kemudian berbalik dan tidur membelakangi Arland.


Arland tentu saja tersinggung dengan hal itu, sebab egonya yang sangat besar. Akan tetapi dia tak bisa marah untuk sekarang ini. Arland tak mau terjadi hal buruk apapun pada Kania, terbayang kata dokter kalau stress bisa mengancam keselamatan bayinya.


Oleh sebab itu, daripada mengamuk dan mengomeli Kania, dia memilih naik ke atas tempat tidur dan memeluk Kania posesif. "Tubuhmu dingin, biarkan aku memelukmu," jelas Arland sambil menempatkan wajahnya dibagian belakang leher Kania.


Pria itu tertohok dan anehnya kali ini dia sakit hati mendengarnya, padahal sebelumnya dia yang sudah mengecam istrinya demikian.


"Bisa apa penghangat ranjang mu ini selain menurut kepadamu?!" ujar Kania dengan sengaja merendahkan dirinya dihadapan Arland.


Tak ada jawaban dari Arland selain pelukan yang semakin terasa erat. Arland bahkan dengan reflek menghirup aroma tubuh yang dihasilkan tubuh istrinya untuk meraup ketenangan.


Sementara itu air mata Kania sudah menetes karena lagi-lagi dia tak bisa menahan diri. Dia sakit hati dan berpikir segitu tak perdulinya Arland sampai dia bahkan tak mau menjawab apapun.


• • •


Pagi hari, Arland bangun lebih dahulu. Menatap istrinya yang masih pulas dan tersenyum entah apa sebabnya. Merapihkan anak rambut yang berantakan di wajah Kania, kemudian mengecup pipinya dan beralih mengusap pipinya.

__ADS_1


"Bagaimanapun kamu ternyata masih mempunyai laki-laki lain diluar sana atau bahkan sudah menghianatiku seperti yang Lyra lakukan, aku tidak akan melepaskanmu. Kamu memang selalu berhasil membuatku marah, tapi walau begitu kamu adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan laki-laki lain mengambilmu Kania!" ujar Arland posesif sekaligus terdengar egois.


Mengusap pipinya kemudian menatapnya cukup lama dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kania bahkan sampai terbangun, tapi Arland masih saja tak melepaskan pandangannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kania bingung dan spontan menjauhkan kepalanya dari Arland. Jujur saja dia cukup kaget menemukan suaminya begitu intens dalam menatapnya.


Arland tak langsung menjawab, tapi kemudian dia terlihat begitu aneh di mata Kania karena senyum misterius yang dia lakukan. "Menatapmu tidak masalah bukan?" ujarnya lembut.


"Kenapa masih bertanya, aku istrimu dan kamu berhak melakukan hal itu," jelas Kania membuat Arland senang, tapi belum juga menikmati kebahagiaannya itu, wajahnya langsung berubah begitu Kania melanjutkan ucapannya. "Atau tepatnya aku cuma sebatas penghangat ranjangmu yang bersembunyi dibalik status istri. Tak lebih dari itu dan harusnya memang begitulah, kamu berhak melakukan apapun!"


Wajah Arland langsung berubah, dia menatap keberatan, akan tetapi lagi-lagi dia cuma diam dan tak menyangkal ucapan Kania tersebut seolah membenarkan, kalau memang benar begitulah adanya hubungan antara mereka.


Arland bangun dan bangkit dari tempat tidur. "Jika kamu masih merasa lemas, kamu tidak usah ke kantor hari ini. Beristirahatlah dan jangan membuatmu kelelahan untuk hari ini," jelas Arland sebelum kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Begitu selesai, dan sudah rapih dengan setelan pakaian kerjanya. Keduanya sarapan di kamar bersama. "Aku akan pulang cepat dan kita akan periksakan kandunganmu setelahnya," jelas Arland memberitahu.


Setelah sarapan Arland berangkat, tapi kali ini dia bertingkah seperti suami yang sayang istri. Begitu sampai di kantor dia tak lepas terus menghubungi Kania.


"Ada apa sih, Mas. Aku baik-baik saja dan kalau kamu begini terus kenapa tidak pulang sekalian!" seru Kania terlihat kesal, kemudian menutup panggilannya begitu saja.


Kania menghela nafasnya kasar. "Ada saatnya Mas Arland begitu perhatian, tapi lebih sering membuat sakit hati," ujar Kania sambil kemudian mendesah kesal dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


• • •


TBC

__ADS_1


__ADS_2