
Pulang dari pantai, Arland terlihat gembira. Dia terlihat lengket pada Kania dan hampir tak lepas merangkul istrinya. Tidak peduli Kania protes dan juga rewel.
"Kalau begini terus aku nggak bisa ngapa-ngapain Mas!" gerutu Kania sebal.
"Yasudah kamu tidak usah melakukan apapun, Kania. Kamu begini saja. Sudah itu lebih dari cukup," jelas Arland sambil menarik kepala Kania agar bersandar di bahunya.
Kania mendesah kasar, tapi dia menurut saja. Meski tidak tahu apa alasan suaminya berubah dan tiba-tiba manja. 'Huhh, apa dia kesambet salah satu penunggu pantai itu ya?!' batin Kania berpikir keras.
"Lepasin dong Mas, aku mau mandi. Kamu juga bukan?" kata Kania mencoba mengingatkan.
"Mandi sih, tapi bisa nanti-nanti saja. Ini masih sore dan aku masih mau meluk kamu," jelas Arland membuat Kania pusing.
"Nggak bisa begitu dong, aku gerah lagian dan juga sesak di peluk begini terus. Lagipula apa Mas nggak malu, Bi Surti dan Citra melihat ke sini loh?" balas Kania mengingatkan.
"Apa yang salah dengan hal ini. Kita suami istri, Kania. Berhenti rewel, nikmati saja!" ujar Arland semakin merapatkan dirinya pada Kania.
Kania akhirnya menyerah dan membiarkan Arland melakukan maunya, dan lama-lama dia mengantuk juga jatuh tertidur.
"Ch, katanya sesak dan tidak nyaman, tapi ujung-ujungnya malah ketiduran begini. Kania-Kania!" seru Arland gemas.
Akan tetapi sedari tadi Citra yang sedang di sana untuk merapikan sesuatu benda, sesekali melihat ke arah mereka dan menjadi geram dengan hal itu. Dia menggigit bibirnya sendiri dan menatap marah tanpa sepengetahuan siapapun.
'Sial. Mereka pergi dari sini saat berantam, kenapa pulang-pulang malah mesra begini?!' geram Citra tak terima. 'Bisa sekali jala-ng itu menggoda Tuan Arland sampai luluh begitu!'
Citra tak tahan lagi menyaksikan pemandangan dihadapannya. Berdiri dan beranjak dari tempatnya kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya.
Pergi ke dapur dan menemukan Sisi sedang menyiapkan makan malam di sana. Tak bisa melepaskan amarahnya pada Kania dia bermaksud melakukannya ke Sisi.
"Oh, jadi kamu di sini jala-ng kecil. Cih, memasak apa kamu?" tanya Citra dengan nada main-main bermaksud untuk mempermainkan Sisi.
"Kak Citra kenapa sih, datang-datang langsung marah?" tanya Sisi yang sebetulnya bisa menebak mengapa Citra demikian. Sudah pasti karena majikan mereka, tapi Sisi pura-pura bodoh amat juga tidak tahu.
"Bukan urusan mu!" geram Citra. "Sudah sana mending buatkan aku jus!"
"Malam-malam begini?" tanya Sisi dengan nada tak percaya.
__ADS_1
"Banyak nanya. Udah cepat buatkan. Ch, lama-lama aku gedeg sama kamu!" seru Citra memaksa.
"Hm," jawab Sisi pasrah.
• • •
Arland sengaja menyiapkan sesuatu untuk Kania. Sesuatu hal yang istimewa, makan malam romantis dan juga kalung berlian. Anehnya setelah bersikap kasar dan kejam, dia berubah lagi seperti bunglon. Hal itu pun hanya karena jam tangan yang Kania beri, padahal bukan dengan uang Kania juga, masih menggunakan uang Arland sendiri. Akan tetapi apresiasi terhadap istrinya itu terlalu besar.
"Tidak perlu keluar, aku ingin kita makan malam di sini saja. Lagian itu buang-buang uang," ujar Kania saat bari keluar dari kamar mandi dan mendengar suaminya bicara dengan asisten pribadinya Alex.
"Berlebihan apanya, kamu lagi ngidam Kania!" seru Arland dengan serius.
"Iya, tapi nggak harus sampai booking satu restoran penuh, Mas Arland. Lagipula aku juga hanya ingin makan diluar, itu pun nggak harus ke restoran, makan di warteg atau dijalan juga bisa. Pokoknya kan makan diluar," terang Kania.
"Kamu pikir anakku calon anak jalanan sampai boleh makan makanan jalanan begitu, hah?!" sarkas Arland galak.
Kania mendesah kasar. 'Baru aja manis, udah mulai lagi sikap angkuhnya. Mas Arland ini sudah seperti bunglon, huhh!' batin Kania sebal.
"Terserah Mas saja. Hm, tapi sekarang mandi sana. Katanya mau pergi, aku sudah siapkan air hangat untuk berendam sebentar," jelas Kania memberitahu.
Arland menganggukan kepalanya dan menurut. Sementara itu Kania tiba-tiba saja merasa haus. Melihat ke nakas dan menyadari tak ada air putih di sana dia pun terpaksa turun ke dapur.
"Sisi tolong buatkan minuman asam untukku," kata Kania begitu tiba di dapur.
Dia langsung duduk dan meneguk air putih. Sebetulnya dia hanya ingin air putih awalnya, tapi saat melihat Citra minum jus dia jadi ingin juga. Apalagi tenggorokannya agak sreg dan air liurnya terasa pahit, karena belakangan ini sering muntah.
"Baik nyonya bagaimana jika jus mangga?"
Bukan Sisi yang mengatakan hal itu, tapi Citra yang mendahului. Anehnya memang begitu, entah apa maksud asisten rumah tangga yang satu itu.
"Tidak saya saja, Kak Citra. Kan Nyonya Kania maunya saya," ujar Sisi menawarkan diri.
"Iya. Biar Sisi saja. Lagipula kamu sedang minum jus, lanjutkan saja. Saya tak mau mengganggu mu," jawab Kania.
"Nyonya tidak mengganggu saya. Tidak masalah biar saya saja yang membuatkannya," jelas Citra memaksa.
__ADS_1
"Maaf Citra, tapi saya sedang ingin buatan Sisi dan terima kasih untuk perhatiannya," jawab Kania mencoba ramah.
"Nyonya apa-apaan sih, kenapa harus Sisi, apakah nyonya pikir saya akan meracuni Nyonya?!" kesal Citra tiba-tiba membentak Kania.
Kania memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing. "Anggap saja begitu. Terserah kamu saja, tapi yang terpenting sekarang saya cuma mau minuman yang Sisi buat," jelasnya tak ambil pusing.
"Tidak bisa gitulah. Mentang-mentang pembantu, Nyonya tidak boleh memperlakukan saya semena-mena!" kata Citra dengan geram.
"Bagian mana dari kalimat saya yang semena-mena? Saya cuma ingin buatan Sisi, apakah itu salah?!" balas Kania tegas.
"Halah, Nyonya pasti sengaja supaya saya merasa terhina," jawab Citra.
"Terserah!" acuh Kania tak mau meladeni Citra. Beralih ke Sisi diapun meminta pesanannya lagi. "Si bisa cepetan buatnya kan?" tanya Kania.
"Bisa, Nyonya," jawab Sisi seraya melakukan perintahnya.
Melihat itu Citra jadi tak terima, akan tetapi buruknya lagi dia melihat tanda berupa bercak di leher Kania dan dia menjadi marah.
Byurr!
Dengan sengaja Citra menumpahkan minumannya di lantai jalan yang mungkin akan Kania lalui.
Plak!!
"Saya sudah sabar dan menahan diri dari tadi. Apa-apaan in--"
"Kania!!" teriak Arland tiba-tiba saja sudah di sana. Terlihat marah karena melihat Kania sudah menampar pipi Citra. "Kamu kenapa sih, seenaknya begitu. Walaupun pembantu dia juga manusia Kania!" lanjut Arland menyeru mencoba menasehati istrinya.
"Aku tahu itu tap--"
"Cukup! Aku tak mau mendengarkan penjelasanmu dan lain kali aku tak mau melihat kamu begini lagi!!" tegas Arland tak mau dibantah.
"Mas--"
"Kania!!"
__ADS_1
• • •
TBC