
Lelah menuruti ngidam bumil, Arland masih tak bisa beristirahat. Bahkan setelah mereka sudah di rumah dan dalam keadaan akan tidur. Dia tak bisa memejam dan justru bangkit setelah memastikan Kania tidur.
"Pastikan Lyra masih di sana dan perhatikan penghianat itu. Aku akan segera ke sana!" seru Arland menghubungi anak buahnya.
Dia bergegas setelah menegaskan hal itu. Diam-diam pergi tanpa sepengetahuan Kania istrinya.
"Aku akan menjemputmu sialan, tapi jangan senang dulu. Aku hanya ingin bermain lebih lama lagi!" seru Arland sambil tersenyum miring.
Tak lama berselang, pria itupun sampai di sebuah klub malam ternama. Tempat orang-orang elit pergi ketika tak sanggup menyelesaikan masalah. Lyra ada di sana dan Arland sudah memastikannya.
Baru masuk dia sudah menemukannya di depan meja Bar dan meminum sesuatu di sana, tapi Lyra sepertinya belum banyak minum karena dia masih terlihat cukup sadar.
"Breng-sek, kenapa kesini? Belum puas mempermainkan aku, hahh?!" geram Lyra begitu menemukan Arland tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya.
Tak menjauh, Arland malah meraih pergelangan tangan Lyra. Lalu mengusapnya seperti tengah menyalurkan penyesalannya.
"Ini tak seperti yang kau duga, Lyra. Aku tak bermaksud seperti tadi, ta--" Arland terdiam, sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Lyra. Melihat Lyra sepertinya penasaran dan juga keliatannya mudah dipengaruhi, meski hanya dengan topeng palsu wajah sendunya. "Ak-aku tidak berdaya Lyra. Mama sudah curiga dengan hubungan kita yang masih bersama meski aku sudah menikah, dan Papa langsung mengancam tidak memberi warisan jika terus mempertahankanmu," jelas Arland.
Padahal sejak menikah orang tuanya diam saja, terlebih lagi saat mengetahui menantu mereka Kania hamil. Orang tuanya itu lebih anteng lagi. Mungkin sudah firasatnya orang tua, mereka bisa tenang karena tak lagi merasakan bayang-bayang Lyra pada anak mereka.
"Aku--" Arland kembali terdiam dan membuang wajahnya. Pura-pura terlihat kecewa dan kemudian meraih alkohol lalu meneguknya, menyempurnakan sandiwaranya.
"Aku bukannya lebih mementingkan harta, Lyra. Aku lebih mementingkanmu, kamu tahu sendiri seberapa dalam perasaanku padamu," jelas Arland melanjutkan.
"Tapi kamu tidak harus seperti tadi juga Baby, kamu tidak seharusnya sekejam itu. Apalagi apa semuanya ini, perhiasan palsu dan pakaian murahan?!" geram Lyra sakit hati sambil menepis tangan Arland. "Aku kecewa sama kamu!"
"Stop, Lyra. Jangan seperti ini, aku tak bisa mendengarmu begini. Kalau hal itu aku juga tak tahu, aku tidak mungkin begitu. Ingat selama ini aku juga memberimu yang terbaik dan termahal. Aku tidak mungkin punya niat mempermalukanm," jelas Arland dengan tegas.
Lyra memikirkan ucapannya dan menganggukkan kepala mempercayainya. Kemudian secara tak terduga diapun berhambur memeluk Arland. Tak berdaya menolak demi kelancaran rencananya, Arland pun dengan perasaan jijik menahan diri.
__ADS_1
"Aku sangat malu, Baby. Aku malu di pesta tadi dan sangat sakit melihatmu yang datang bersama istrimu, padahal kau sudah janji kita akan bersama malam ini!"
'Sayang sekali aku malah sangat senang Lyra, tapi itu belum cukup. Tunggulah pembalasan lain yang akan membuatmu lebih tak punya muka. Perempuan rendah-an, ini akibatnya berani berselingkuh dibelakangku!' batin Arland merasa menang.
"Mereka menghinaku, mempermalukanku setelah seseorang mengatakan perhiasan pemberianmu palsu dan itu memang benaran palsu. Aku sudah mengeceknya setelah pergi dari sana dengan perasaan terhina," ujar Lyra lagi melanjutkan bercerita.
"Maafkan aku Lyra, aku benar-benar tak tahu itu. Sungguh aku pun tak mengerti bagaimana bisa perhiasan yang minta kirimkan untukmu adalah palsu, tapi jangan khawatir, besok aku akan selidiki itu. Akan mencari tahu siapa yang sudah seberani itu melakukannya dan bermain-main denganku!" tegas Arland menjelaskan dan Lyra pun mengangguk percaya.
"Ya, aku sangat mengharapkannya. Ini bukan masalah uang, tapi sayang sekali jerih payah dan hasil kerja kerasmu Baby, malah ditukar dengan perhiasan palsu, dan aku percaya mana mungkin kamu sengaja mengirimkannya," jawab Lyra yang akhirnya luluh.
➡➡➡
Arland tersenyum puas, karena lagi-lagi dia sudah berhasil mengelabui calon mantan kekasihnya itu yang penghianat. Setelah mengantarkan Lyra pulang, di sinilah dia, di rumahnya sendiri.
Membuka kancing baju yang terasa mencekik, kemudian melemparkan kunci mobilnya sembarang ke arah sofa. Arland sedikit melirik istrinya yang sudah tidur. Melihatnya masih begitu pulas, Arland tersenyum menyeringai.
"Alkoholnya sangat menyengat, Kania bisa marah jika besok dia mencium baunya," ujar Arland mundur dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Ah, ya. Dia mandi malam walaupun cuacanya dingin dan sudah terlalu larut. Arland pikir dia harus membersihkan tubuhnya dari bau alkohol ataupun sentuhan jejak Lyra yang sekarang terasa menjijikkan untuknya.
Selesai dengan acara mandinya, Arland langsung mengenakan pakaiannya, tapi hanya bawahan. Setelahnya dia cuma mengeringkan rambut sedikit lalu mengambil tempat di sebelah Kania, sebab sudah tak tahan dengan kantuknya.
Tak lama berselang, Arland pulas dengan cepat, tapi kemudian justru Kanialah yang terbangun.
"Astaga. Apa ini?!" Kania langsung mengucek matanya ketika, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang basah dan lembab.
Dia tersadar karena hal itu. Ternyata tangannya tak sengaja menyentuh kepala Arland yang masih basah. Kania terpaksa bangun dan bangkit dari tempat tidur, sambil kemudian mendumel kesal.
"Sudah dibilang ini kasurku sekarang, tapi suami kejam ini masih seenaknya saja. Berani-beraninya tidur disebelah ku, dan apa juga itu tadi. Rambut basah, dia baru mandi malam, dasar gila. Ch, tak tahu cuaca lagi dingin apa, dan juga sih rambutnya nggak dikeringkan juga sih?"
__ADS_1
Anehnya walaupun kesal dan marah, Kania malah bangkit lalu mencari hairdryer, yang kemudian dia gunakan untuk mengeringkan rambut suaminya. Ah, ya, tak lupa juga handuk.
Brak!
Kania mengangkat kepala Arland, setelah menarik kasar bantal yang sudah basah karena rambut suaminya. Arland terkejut dan dengan mengantuk dia membuka mata.
"Tidur saja sepuasmu biar aku yang menyelesaikan ini!" omel Kania kesal. "Dasar pemalas, bukannya mengeringkan rambut setelah tidur, tapi malah langsung tidur. Sudah begitu mana pakaian kamu lagi, Mas? Nggak tahu cuacanya lagi dingin, hahh?" omel Kania kesal.
Anehnya Arland cuma menyeringai mendengar itu, lalu seolah tak perduli dia kembali memejamkan mata.
"Dasar suami kejam yang pemalas. Cih, balik tidur lagi!" ujar Kania sambil mendengus kesal.
Setelah selesai dengan rambut suami yang pendek itu, memang tak memakan lama karena sudah jelas pasti cepat keringnya apalagi dengan bantuan hairdryer. Kania masih tak bisa diam, karena dia menemukan sesuatu yang membuatnya lebih emosi.
"MAS ARLAND!!" geram Kania berteriak.
Arland tersentak terkejut dalam tidurnya, kemudian dengan mengantuk dia menatap Kania.
"Apa liat-liat, sudah tidur lagi sana!" geram Kania kesal.
Arland yang mengantuk cuma bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian menguap dan tidur lagi.
"Dasar bajing-an malah balik tidur lagi!" omel Kania marah, padahal baru saja dia yang menyuruh suaminya tidur lagi.
Lalu dengan kesal, dia menatap dan membereskan sesuatu yang menyulut emosinya itu. Apalagi memangnya, pakaian kotor Arland yang berserakan di lantai dan memasukkan ke dalam keranjang cucian.
•••
TBC
__ADS_1