
Arland terpaksa menuruti keinginan aneh istrinya demi calon anaknya. Tentu saja, kejam-kejam begitu, dia masih sangat perhatian pada darah dagingnya sendiri. Mereka terpaksa pamit dari pesta walaupun sebetulnya itu baru dimulai, pergi ke indomaret dan segera memberikan apa yang diinginkan oleh Kania.
Namun rupanya tak hanya itu, bumilnya malah melunjak dan meminta yang lain. Lebih tak habis pikirnya mereka harus susah payah mencari pohon mangga di malam yang masih gelap gulita. Kania katanya ngidam mangga, tapi maunya yang diambil langsung dari pohonnya.
"Ada-ada aja, kamu. Jangan-jangan lagi ngerjain aku!" seru Arland cukup frustasi.
"Enak aja kamu bilang ngerjain. Ini tuh benar-benar maunya anak kamu. Kalau ngerjain, itu artinya anak kamu yang ngerjain kamu!" gerutu Kania tak terima.
Kalau sudah menyangkut anak, Arland tak berdaya dan diapun pasrah sambil menghela nafas. "Tapi sebelum itu kita makan malam dulu dan kamu bawakan vitamin dan obat kamu?"
"Hm, bawa," jawab Kania malas.
"Baguslah. Habis makan nanti kamu jangan lupa minum!" peringat Arland dengan tegas.
Mereka pun kemudian menuju sebuah restoran dan berniat makan malam di sana. Selagi pesanan belum datang, Arland keluar sebentar untuk berbicara dengan asistennya di telepon.
"Tunggu di sini. Aku akan pergi sebentar untuk menghubungi Alex," pesan Arland sebelum dia hendak pergi.
"Ngapain?" tanya Kania kepo lengkap dengan bibir yang mengerucut. Entah apa maksudnya melakukan itu.
"Ngapain lagi memangnya, kamu kan katanya mau mangga muda. Ya, aku mau minta Alex untuk mencarinya lebih dahulu. Siapa tahu nanti setelah kita makan, pohonnya akan ketemu," jawab Arland.
Kania pun mengangguk paham dan tanpa sadar langsung mengurai senyuman manisnya. Entah mengapa, walaupun terdengar jutek, Arland yang bilang akan meminta Alex mencarinya lebih dahulu membuat Kania begitu bahagia. Dia merasa Arland sangat perhatian padanya.
"Yasudah, pergilah sana, tapi jangan lama-lama. Aku takut di sini sendirian," jawab Kania asal.
Arland langsung mengangguk dan melakukannya, walaupun dia rasa kalimat terakhir istrinya tak masuk akal.
'Apanya yang sendirian, di situ banyak orang yang makan juga. Yah, walaupun di meja untuk kami, dia memang duduk sendiri di sana saat aku pergi!' gerutu Arland membatin.
➡➡➡
"Oh, kebetulan sekali Pak. Ibu saya mempunyai pohon mangga yang sedang berbuah di depan rumahnya. Bapak ke sana saja, nanti saya akan kirimkan alamatnya dan juga akan menunggu Bapak disana," jelas asistennya Alex memberikan kabar baik, saat Arland sudah mengucapkan perintahnya.
"Baguslah. Istriku pasti sangat senang mendengar itu," jawab Arland setelah merasa lega.
__ADS_1
"Tapi Pak, ada sedikit masalah sepertinya," ujar Alex lagi ketika teringat akan sesuatu.
"Apa itu, katakanlah?" tanya Arland yang mulai mengerutkan dahinya menanti jawaban Alex.
"Pohonnya berbuah hanya di dahan yang paling tinggi. Saya pikir akan sangat susah mengambilnya, terlebih lagi ini malam hari," jelas asistennya Alex.
Sial. Arland kembali dipusingkan masalah baru lagi, dan dia tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu.
'Bagaimana kalau perempuan rese itu memintaku mengambilkan buahnya langsung dari pohonnya nanti? Ah, sial. Itu mungkin saja. Mengingat aku sudah pernah sangat kejam padanya, bisa saja dia memanfaatkan ngidamnya ini untuk ajang balas dendam,' pikir Arland menerka-nerka.
"Yah, itu urusan kamu. Saya tak mau tahu, mangganya harus bisa diambil!" tegas Arland dengan bossy dan seenaknya.
Dia dengan kejamnya malah melimpahkan permasalahannya kepada asistennya itu. Tak bisa menolak, Alex pun terpaksa setuju saja.
"Tapi setelah mendapatkan tolong tempelkan, atau lakukan apapun supaya mangga yang sudah kamu dapatkan itu, berada di dahan yang paling rendah. Lakukan dengan sempurna, sehingga mangganya benar-benar terlihat berbuah di dahan yang paling rendah!" perintah Arland dengan kurang masuk akal, tapi mungkin itu akan membuat Alex repot mencari akal untuk mendapatkan idenya. Supaya bisa memenuhi perintah bosnya.
"Maaf, Pak, tapi apa gunanya melakukan itu?" tanya Alex penasaran.
"Lakukan saja dan jangan banyak bertanya!" tegas Arland dengan tak mau di bantah, kemudian dia menutup telepon dengan sebelah pihak.
"Istri Pak Bos yang hamil, tapi aku malah ikut direpotkan!" gerutu Alex berani setelah menyadari teleponnya sudah berakhir.
Benar-benar menjengkelkan, tapi sebagai anak buah, Alex bisa apa selain menurutinya.
➡➡➡
"Beneran Mas, pohon mangganya sudah ketemu?" tanya Kania memastikan dengan penuh semangat.
"Tentu saja, Kania. Untuk sesuatu yang bersangkut paut dengan calon anakku, aku sudah pasti mengusahakan yang terbaik. Pohon mangga yang berbuah itu bukan apa-apa, jika mau aku bahkan akan memberikan apapun untukmu," jawab Arland berbangga dan menyombongkan dirinya.
Padahal pohon mangganya mudah ditemukan, kerena Kania sedang beruntung atau kebetulan memang di depan rumah ibu asistennya Alex ada pohon mangganya dan juga sedang berbuah. Dasarnya Arland saja yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membanggakan diri.
Sementara saat ini, Kania yang tak tahu itu sudah mengangguk-anggukan kepala, seraya menatap suaminya kagum. Dia pikir itu begitu hebat, karena setahunya memang sedang tidak musim mangga.
"Ya. Untuk hal yang seperti ini kamu memang tak bisa diragukan Mas. Lagian untuk ukuran CEO yang punya kekuasaan dan banyak harta, masalah kecil begitu apa sulitnya untukmu," jelas Kania.
__ADS_1
"Kamu menghinaku?" tanya Arland yang anehnya malah merasa tersinggung. Dia merasa ucapan Kania seperti tengah meremehkan dirinya.
"Astaga, siapa yang meremehkan kamu sih, Mas? Aku lagi muji tau. Memuji kemampuanmu yang satu itu!" seru Kania langsung menjelaskan.
"Awas saja, kalau berani meremehkanku!" peringat Arland dengan segera.
Kania langsung geleng-geleng kepala. Suami kejamnya ini memang aneh, selain suka seenaknya rupanya dia suka berpikiran negatif. Ah, tapi sudahlah. Arland dan segala sisi darinya adalah ujian ilahi, harus punya stok sabar berlimpah agar bisa menghadapinya.
Kania tak menjawab lagi, dia tak mau mereka berakhir berdebat dan membuatnya pusing. Setelahnya hanya ada keheningan, karena keduanya kompak diam.
Tak lama pesanan mereka tiba dan mereka segera menyantap makan malam dengan lahap. Sepertinya mereka sudah sama-sama lapar malam itu.
"Minum obatnya sekarang!" kata Arland akhirnya buka suara setelah makan malam mereka selesai.
Kania tak membantah dan menurut saja, lantas melakukannya. Setelah selesai makan malam, keduanya pun pergi ke alamat yang ternyata sudah Alex kirimkan.
Sampai di tujuan, Alex sudah menunggu mereka. Orang tuanya Alex, karena malam sudah hampir larut tak keluar lagi, karena sudah tertidur.
"Dimana mangganya?" kata Arland langsung ke poin inti.
"Ada di sebelah sana Pak," jelas Alex sambil menunjukkan dahan rendah yang terdapat beberapa ranting mangga berbuah di sana.
Bisa dihitung berapa buahnya dan itu sangat kontraks dengan dahan yang tinggi dan banyak buahnya di atas sana.
"Aneh sekali, kok pohonnya bisa berbuah cuma berbuah sedikit di bagian situ?" tanya Kania mengungkapkan keheranannya.
Arland langsung menatap Alex dan mengodenya supaya memberikan alasan yang masuk akal.
"Begitulah Bu. Mau bagaimana lagi, ada banyak anak-anak di kompleks ini dan suka mengambil mangga ibu saya ini," jelas Alex memberitahu.
Kania mengangguk paham saja, tapi kemudian tersadar akan sesuatu ketika mendengar kata ibu.
'Pantas saja Mas Arland bisa cepat menemukan pohon mangga ini, toh kebetulan ternyata. Ch, padahal tadi sudah sangat menyombongkan diri sekali,' batin Kania rasanya ingin menarik rasa kagumnya yang sebelumnya pada Arland, sebab sudah bisa cepat menemukan pohon mangganya.
➡➡➡
__ADS_1
TBC