
Kania sudah sangat putus asa dan juga kecewa. Hatinya sesak berdenyut nyeri dan juga perasaannya hancur. Merasa tidak adil dengan kejadian yang dia alami.
Rasanya seperti dihimpit keras dan susah bernafas. Dengan perasaan yang dialami itu, kedua bola matanya menunjukkan netra yang berkaca-kaca. Dia tak tahan lagi dan air matanya pun tumpah dalam seketika.
Kania sudah tak perduli lagi. Rasa sakit mendorongnya untuk melampiaskan. Sesampainya dia di dalam kamar, perempuan itu segera melepaskan amarahnya dengan cara membuang dan menghempaskan barang yang bisa di jangkaunya.
Blam!!
Brak!!!
"Aaarrggh! Kenapa jadi seperti ini, kenapa nasibku jadi hancur begini. Hiks-hikss, kenapa setelah ayah pergi rasanya sulit untuk menggapai bahagia sekarang ini?!" histeris Kania berteriak pilu.
Dia benar-benar hancur saat ini. Terlebih ketika ia di ingatkan kejadian beberapa jam lalu. Saat sudah puas bertengkar hebat dengan saudara angkatannya Tiara, ibunya tiba-tiba datang, tapi bukannya untuk membelanya, perempuan paruh baya itu justru mengomelinya.
Sebelumnya niatnya kesana adalah untuk pertolongan, memohon agar orang tuanya satu-satunya itu membantunya lepas dari Arland.
Namun setelah mendengar ucapan dan mengusirnya, rasanya Kania kecewa luar biasa.
'Kenapa kemari dan dimana suamimu? Kamu harusnya datang bersamanya atau setidaknya jangan menciptakan keributan di sini. Pulanglah Kania, kasihani wanita tua ini dan biarkan aku beristirahat tanpa gangguan pertengkaran kalian!'
'Apa kamu tak dengar ucapanku? Pergi dan jangan pernah berani datang kemari tanpa suamimu. Kalian saling mencintai bukan, maka harusnya harus saling bersama-sama terus!'
'Pergi Kania! Pergilah, aku sudah muak mendengar omongan kosongmu dan juga penjelasan palsumu. Tua-tua begini, aku juga tak mau dibodohi terus oleh anak seperti kamu!'
Menghapus air matanya, kemudian terduduk lemas dan merasa tak berdaya. Mendadak Kania rindu dengan sosok yang belum lama pergi.
"Ayah kenapa nasib Kania seperti ini. Tak ada siapapun yang mau mendengarkan Kania, dimata orang-orang dan bahkan ibu, Kania adalah makhluk yang jahat dan paling berdosa."
Linangan air matanya tak berhenti dan terus mengalir dengan derasnya.
"Kenapa setelah Ayah pergi, nasib buruk ini malah mendatangi Kania, Ayah?"
__ADS_1
"Hiks-hikss! Tidak ada yang percaya denganku, semuanya memandangku munafik dan perempuan buruk yang selalu dihina juga bebas direndahkan. Hiks-hikss! Kania, tak tahan lagi ayah. Kania ingin ketemu ayah saja!!" isaknya pilu mengeluarkan uneg-unegnya.
➡➡➡
Sementara itu, Arland yang kembali diganggu Lyra yang datang ke kantornya siang itu. Moodnya menjadi sangat buruk dan juga kacau. Masih bertambah buruk walaupun tak lama setelah dia usir halus Lyra pergi dari sana.
Kania yang tak datang siang itu untuk mengantar makan siangnya, memancing menjadi geram dan juga marah.
Buru-buru pulang untuk melampiaskannya. Kemudian ketika menemukan kamar mereka kacau dengan Kania di dalamnya maka Arland pun tak bisa menahannya lagi.
"Bangun perempuan breng-sek!!" geramnya menarik rambut Kania yang ketiduran di lantai.
Istrinya itu tentu saja langsung tersadar dengan paksa dan langsung mengaduh kesakitan.
"Auchhh, ssttt ... lepaskan!!" ujar Kania spontan.
Arland langsung mengabulkannya, tapi bukan untuk berbaik hati, melainkan agar bisa lebih menyiksanya lagi. Mendorong Kania ke tempat tidur kemudian mengungkung dan mencengkram kasar rahangnya.
Dia mengeratkan cengkramannya, menyebabkan Kania merasakan sakit di rahangnya. Perempuan itu spontan menitihkan air mata, tapi sekarang Arland tak perduli itu. Tak tersentuh ataupun kasihan melihatnya. Pria itu bahkan sudah tampak seperti tak punya hati dan perasaan samasekali saat ini.
"Breng-sek!! Jangan kau pikir karena kita menikah, kau akan menjadi nyonya dan bersikap seenaknya. Biar ku beritahu seperti apa posisimu saat ini!!"
Arland bangkit dari tubuhnya Kania. Menariknya ikut bangkit dan memaksanya segera mengikuti. Kania terseok-seok kesulitan mengikuti langkah panjangnya.
Ketika turun tangga, Kania hampir saja terjatuh, tapi Arland masih tak perduli itu.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka ke ruang belakang rumah. Di dekat kamar pembantu, atau tepatnya gudang. Keduanya masuk ke sana dan Kania segera mengerutkan dahi tak mengerti maksudnya.
"Mulai sekarang kau tinggal di sini! Aku tidak perduli kalau gudang ini berdebu atau mungkin sarangnya mahluk aneh, tikus dan juga kecoa.
Tak perduli walaupun dingin ataupun tak ada ranjang disini. Mulai sekarang malam-malammu akan dihabiskan di gudang ini!!" tegas Arland dengan kejam.
__ADS_1
Kami segera melotot tak terima itu, tapi sebelum protes Arland menyerangnya di sana dan memaksakan kehendaknya lagi.
Pria itu barulah berhenti setelah mendapatkan maunya. "Menangis saja, aku tak perduli. Kau pikir air mata busukmu itu bisa berguna untuk membuatku tersentuh? Sayang sekali itu malah membuatku semakin muak denganmu!!"
"Kamu pantas mendapatkan hal ini. Perempuan penghianat sepertimu yang tak tahu diri, memang tak pantas diperlakukan sebagai istri, tapi pembantu dan pemuas nafsu!!" seru Arland menghina tanpa perasaan.
➡➡➡
Sementara itu, disisi lain, Mayang ibunya Kania merasakan perasaan yang tak mengenakkan.
"Apakah aku sudah terlalu kasar dan kejam pada Kania?" ujarnya sambil merasa bersalah.
"Tidak, Bu. Ibu nggak salah. Kania memang harus diperingatkan supaya tak semena-mena," jawab Tiara.
Sebenarnya Tiara sebagai seorang saudara juga sedikit merasa bersalah, tapi sepertinya egonya lebih besar dan kecewa membelenggunya sudah terlalu dalam.
"Tapi Ibu jadi mencemaskan adik kamu sekarang, Nak," jelas Mayang tak bisa membohongi perasaannya sendiri.
Kecewa boleh saja, tapi sebagai seorang ibu tentu saja dia cukup peka terhadap anaknya. Hanya saja dia tak menyadari perasaannya. Rasa tak mengenakkan dalam lubuk hatinya tentang Kania, tak membuatnya sadar atau berpikir kalau hal yang buruk sedang terjadi pada putrinya.
"Mereka saling mencintai, terlepas dari sepertinya mereka sedang ada masalah makanya tadi Kania kesini. Rumah tangga memang begitu, Bu, tapi aku yakin Arland pasti akan memperlakukan Kania dengan baik," ujar Tiara memberikan penjelasan dengan kesimpulannya sendiri.
Dia pikir saat mengingat bukti nominal transfer dan hadiah-hadiah Arland untuk perempuan lain saat mereka masih jadi tunangan ada untuk Kania hari itu. Arland sangat memperlakukan adiknya dengan baik sebelum menikah atau saat keduanya menghianatinya diam-diam. Jadi sekarang tak mungkin Kania menderita.
"Ibu harap juga begitu, karena jujur saja sekecewa-kecewanya Ibu sama dia, Kania tetap adik kamu anaknya ibu, dan ibu tak bisa berhenti untuk tidak mencemaskannya," ujar Mayang memberitahu.
Namun meski begitu, diapun bersikeras mengenyahkan perasaan buruk terhadap Kania. Ingat bagaimana intimnya anak dan menantunya itu saat dia pergoki perselingkuhan mereka, Mayang pun terpengaruh perkataan Tiara. Dia pun sekarang berpikiran sama. Tak mungkin Kania bersalah saat bersama orang yang dicintainya, terlepas dari apapun maksud anaknya itu terus menyangkalnya.
➡➡➡
TBC
__ADS_1