Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Tak Bisa Baik hati


__ADS_3

Kania ketiduran di dalam gudang. Terlihat mengenaskan dengan beberapa bagian tubuhnya yang membiru, wajahnya yang sembab dan bahkan rambutnya yang kusut.


Dia terlihat menyedihkan, tak ubahnya seperti korban yang baru saja mengalami pemerkaushaan. Tak bisa tidur nyenyak, sesekali dia terlihat gelisah dan tak nyaman dalam tidurnya.


Bahkan tak butuh lama, diapun terbangun karena ketidaknyamanan itu. Melihat sekitar dan mengingat semua yang terjadi. Hatinya sesak, tapi kali ini Kania tak mau menangis lagi. Menguatkan perasaannya, Kania bangkit dan mengenakan pakaiannya.


Melihat beberapa barang rusak yang tidak dipakai lagi di simpan di sana. Kania jadi terpikirkan sesuatu. Mungkin ini berat untuknya, tapi dia tak punya pilihan.


Memangnya Kania bisa kemana lagi, setelah ibunya tak mengijinkan dirinya pulang tanpa suami, dan kemudian Arland sendiri justru malah menetapkannya di sini, di dalam gudang dengan kejamnya.


Mau tak mau, Kania yang tidak punya pilihan pun memutuskan untuk pasrah dan mulai tinggal di sana. Beranjak untuk membersihkan gudang.


Melihat spring bed yang per besinya keluar, Kania menghampirinya dan memeriksanya. Ternyata masih bisa dipakai, walaupun nanti akan terasa mengganggu karena dua per besinya sudah keluar.


Namun beruntunglah, Kania tak hanya menemukan itu. Rupanya di dalam kardus yang ada di sana, terdapat alas kasur yang masih bagus walaupun sudah lusuh.


Untuk pertama kalinya setelah harinya yang buruk, Kania akhirnya mengulas senyumnya. Walaupun sudah mengalami hal yang sangat buruk, ternyata dia masih bisa mendapatkan sesuatu yang membuatnya beruntung. Barang-barang bekas di gudang, hanya itu, tapi dia cukup bersyukur.


"Setidaknya walaupun berantakan penuh debu dan lainnya. Aku masih bisa menggunakannya setelah dibersihkan!"


Dengan tubuh yang ngilu dan terasa sakit, diapun bergegas membersihkan. Cukup lama dan membuat Kania sangat penat karenanya.


Setelah terlihat layak untuk ditinggali, perempuan menyedihkan itu pun menghampiri tempat tidur seadanya dan berbaring dengan sangat lelah di sana.


"Akhirnya selesai juga!"


➡➡➡


Hari berlalu begitu saja. Sudah seminggu juga Kania tinggal di gudang dan dia mulai terbiasa.


Anehnya selama seminggu ini juga dia tak bertemu Arland. Pria itu bahkan tak terlihat di rumah atau dimanapun.


Namun, Kania tak terlalu memperdulikannya. "Bagus juga tidak ada dia, kenapa aku harus perduli? Setidaknya aku bisa sedikit bebas dan menikmati hiburan."


Perempuan itu tersenyum dan menyeringai senang. Tak lama berlalu, diapun mendapatkan kabar yang sangat bagus. Rupanya lamaran kerja yang pernah dia ajukan sebelum menikah mendapat panggilan kerja.


Kania tersenyum senang dan lebih lebar lagi. "Kalau aku sudah cukup uang untuk menyewa kontrakan, aku akan pergi dari neraka ini secepatnya!" ujarnya dengan antusias.


Walau selama ini dia kelihatan tak berdaya melawan Arland, tapi sebetulnya Kania juga punya rencana. Dia tak begitu bodoh sampai harus memikirkan akan terus-menerus tinggal dan bertahan di sisi pria kejam itu. Kania pun ingin bahagia, walaupun sekarang rasanya mungkin itu susah.


➡➡➡

__ADS_1


Tiga hari kemudian. Arland akhirnya pulang dan langsung mencari Kania yang ternyata ada di dapur.


"Bereskan pakaian di dalam koperku, dan segera kirimkan dua bingkisan yang yang aku bawakan dari Bali, untuk ibuku dan ibumu!" jelas Arland tak mau di bantah.


Kania tak mau protes atau memancing amarah suami kejamnya itu, dia menurut saja walaupun kesal.


Melihat ada sebuah koper berukuran besar, dia segera membawanya naik ke kamar suaminya.


"Tuan Arland sudah pulang dari dinasnya, Nyonya?" tanya Bi Surti saat melihat koper besarnya Arland.


Kania segera mengangguk dan membenarkan, tapi dari pertanyaan asisten rumah tangganya diapun mulai mengerti sekarang. Selama sepuluh hari lebih Arland tak di rumah, ternyata pria itu sedang ke Bali untuk urusan pekerjaan. Pantas saja.


"Biar saya bantu, Nyonya!" seru Bi Surti menawarkan diri.


Melihat usia asisten rumah tangga itu yang tak lagi muda, Kania segera menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Biar saya saja, Bi. Bibi tolong siapkan makan malam untuk Mas Arland saja dan juga jangan lupa teh dan beberapa makanan manis terlebih dahulu. Dia pasti sangat kelelahan setelah perjalanan panjang dan mungkin belum makan apapun hari ini," kata Kania menebak-nebak.


Sebetulnya dia bukan perhatian pada Arland, tapi dia kasihan pada Bibi. Ucapannya itu semata-mata hanyalah cara agar wanita paruh baya itu tak memaksakan diri untuk membantunya membawa koper besar itu naik tangga dan menjadi sangat kesusahan.


➡➡➡


Di kamar, Arland langsung rebahan di sofa sambil memainkan HP-nya. Sementara Kania sedang membereskan pakaian suaminya. Tidak ada yang bersih di dalam koper, sehingga dia pun menaruhnya ke dalam keranjang cucian.


Kania mengangguk paham dan memperlihatkannya kepada Arland. "Yang ini?"


"Ya. Kamu pergilah suruh sopir untuk segera mengirimkannya pada mama dan ibu kamu," jelas Arland mengingatkan sambil kemudian berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Kania menurut saja, tapi kemudian tanpa sengaja ketika dia membereskan pakaian terakhir Arland yang masih di dalam koper. Kania menemukan kotak perhiasan dan menemukan itu milik wanita.


Tak mau bermasalah karena hal itu, Kania pun buru-buru menutup kotak perhiasan itu dan menaruhnya di meja nakas sebelah tempat tidur. Dia tak mau Arland sampai marah karena sudah terlalu lancang membukanya.


➡➡➡


Arland keluar setelah menyelesaikan mandinya. Pria itu segera menghampiri ranjang dan mengambil pakaian yang Kania sediakan di sana. Menggunakan dan memasangnya dengan cepat.


Kemudian dia melihat kotak perhiasan yang yang dibelinya ada di nakas. Menghampirinya kemudian mengambilnya.


Membuang handuknya sembarang di kamar, pria itu segera keluar kamar dan turun ke lantai bawah.


"Kania!" seru Arland dengan lantang memanggil istrinya.

__ADS_1


"Dimana kamu Kania?!" panggilnya lagi dan kali kedua ini, istrinya pun muncul dan keluar dari dapur, kemudian menghampirinya.


"Ada apa, Mas?"


"Darimana saja kamu?"


Keduanya saling menatap, tapi tak berlangsung lama. Pada saat Kania memutus tatapan antara mereka, perempuan itu segera menemukan kotak perhiasan yang sempat disentuh dan dilihatnya isinya.


Mendadak Kania menjadi gugup dan takut dimarahi oleh suaminya. Dia takut Arland kasar dan berbuat kejam lagi kepadanya. Kania meneguk ludahnya kasar kemudian meremas tangannya sambil menundukkan kepalanya.


"Apa kamu sudah mencoba perhiasan ini?" tanya Arland membuat Kania semakin gugup lagi.


Perempuan itu kemudian memejamkan mata sejenak sambil menggelengkan kepalanya ringan. Dia benar-benar takut sekarang dan mundur perlahan karena sangking takutnya.


Melihat itu Arland menghela nafas, kemudian secara tak terduga dia segera meraih tangan Kania dan menyeret paksa istrinya ke kamar mereka.


Sungguh rasanya Kania ingin kabur saja, tapi pengalaman jika dia berontak membuatnya takut.


Blam!


Arland segera membanting pintunya kasar dan menguncinya. Kania pikir kali ini pria itu akan memaksanya kembali, tapi kemudian Arland malah membawanya ke depan kaca rias.


Membuka kotak perhiasannya kemudian memakaikannya pada Kania secara tak terduga.


"Sudah ku duga, perhiasan ini pasti cantik jika kamu mengenakannya!" seru Arland sambil mengusap pipi istrinya.


Dia tersenyum, tapi pertama kalinya Kania merasakan kalau pria itu terasa hangat dari biasanya.


"Ini untukmu, aku sengaja membelinya karena aku ingin," jelas Arland, tapi malah membuat Kania lebih bingung lagi.


Sebetulnya apa yang sudah memasuki tubuh Arland sampai bisa seperti itu. Sepuluh hari lagi, dia masih kejam tanpa perasaan. Lalu ketika pergi tanpa tanpa pemberitahuan, pulang-pulang dia malah bersikap manis begini.


Kania hampir saja tersentuh dengan perlakuan itu. Namun ternyata Arland memang tak sebaik yang dia pikirkan.


Ketika Kania berbalik hendak memungut handuk yang sembarangan di sana, Arland langsung menghancurkan dugaan positifnya.


"Tapi jangan pernah meninggikan dirimu karena itu Kania. Aku memang sengaja membelikan untukmu, tapi bukan karena untuk menyenangkanmu. Aku hanya tak mau malu jika suatu ketika kau ikut menemaniku ke acara-acara tertentu, kau malah memalukan karena terlihat gembel.


Aku sebagai laki-laki sukses dan punya banyak harta, tentu saja tak mau diejek karena aku tak mampu membeli apapun untuk istrinya!!"


➡➡➡

__ADS_1


TBC


__ADS_2