
"Kau benar-benar perempuan breng-sek!!" umpat Arland begitu mereka sudah di rumah saat ini.
Tampaknya walaupun sudah usai beberapa menit lalu, tapi seperti Arland tak bisa melupakan apa yang sudah dilakukan Kania dan juga apa yang sudah pria itu lakukan pada Kania.
Perasaannya masih kacau. Antara membenci dan tak terima. Kedua hal itu yang paling membekas bagi Arland dan membuat Arland kesal, marah dan juga tak terima dalam sekaligus. Sialnya di malah sangat pusing sekarang.
"Apalagi yang kau tunggu, sana ambilkan salep atau apapun. Sial bahkan hal sekecil ini pun kau tak bisa diandalkan, padahal aku begini juga gara-gara kegoblokanmu!!" bentak Arland marah.
Kania menurut, tak mood untuk mendebat suaminya. Sebenarnya bukan hanya tak mood, tapi dia juga masih memikirkan Keenan.
Masih tak menyangka jika laki-laki yang benar-benar sangat di cintainya itu, bisa begitu kejam kepadanya.
Kania tahu dia salah sudah menutupi pernikahannya dari Keenan, tapi apakah adil jika pria itu langsung menyalahkannya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Kania juga masih sangat terhina oleh perlakuan dan ucapan Keenan kepadanya. Pria itu bahkan seperti tak punya kemanusiaan sampai begitu tega mempermalukannya di hadapan orang banyak.
Mengingat itu, air mata Kania langsung menetes. Dia terisak dalam kegiatannya mencarikan kotak obat untuk suaminya.
Tubuhnya bahkan terasa lemas apalagi mengingat kalau dalangnya dari pengetahuan yang setengah milik Keenan adalah Karin sahabatnya. Perempuan itu yang ternyata sudah buka suara dan dari perlakuannya di restoran itu, Kania bisa menyimpulkan kalau perempuan itu tengah sengaja menghasut Keenan.
"KANIA!!" teriak Arland menggema.
Membuat Kania terburu-buru mengambil obatnya lalu menghapus air matanya dan kemudian menghampiri suaminya.
"Ch, ternyata kamu habis menangis makanya lama!" gerutu Arland kesal saat melihat sisa lelehan air mata Kania dipipinya. "Dasar cengeng!!" lanjut Arland yang tak diperdulikan Kania.
Apapun hinaan dan perkataan kasar Arland, rasanya itu tak sebanding dengan perkataan Keenan kepadanya. Itu lebih sakit dan lebih mempengaruhinya.
Namun jangan heran, mungkin hal itu terjadi karena Keenan masih lebih berarti untuk Kania untuk saat ini.
Sementara itu, disisi Arland sebetulnya dia cukup terenyuh menyaksikan Kania yang sedang bersedih, tapi egonya yang besar membuatnya menahan diri untuk perduli.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi. Cepat obati lukaku! Ini semua karena aku sudah membelamu, jadi tahu dirilah untuk balas budi!" tuntut Arland dengan ketus.
Kania mengangguk dan melakukannya. Pertama dia membersihkan luka memar yang kini membiru di rahang dan sudut bibir Arland dengan alkohol.
"Ssttt ... argghhh. Sakit! Pelan-pelan Kania!" peringat Arland kesal karena merasa sakit.
Perhatian Kania tiba-tiba teralihkan dan dia pun jadi memperhatikan lukanya Arland. Mendengar rintihan suaminya yang ke sakitan. Membuat Kania langsung memastikan sesuatu. Dengan polosnya dia mencoba alkohol ke kulitnya dan merasakan sensasi dingin, tapi selain itu tentu saja rasanya biasa saja.
"Tidak sakit kok," ujarnya dengan lugu.
"Tentu saja. Kamu tidak mempunyai luka yang terbuka dikulitmu, jadi mana mungkin sakit. Ch, kamu ini gimana sih, hal ini saja tidak tahu. Jangan-jangan dulu pada saat SMA kamu suka bolos di pelajaran biologi, makanya hal itu saja tidak tahu?!" gerutu Arland menebak dengan asal.
Siapa sangka kalau tebakannya yang asal itu ternyata benar. Kania memang suka membolos ketika pelajaran biologi atau jika tidak, maka dia tidur saat pelajaran itu berlangsung. Gadis itu kurang suka dengan biologi. Baginya pelajaran yang satu itu sangat membosankan, ditambah dengan guru yang mengajar saat itu selalu saja menggunakan metode ceramah. Lengkap sudah hal yang membuat Kania dulu enggan belajar biologi.
"Kenapa malah garut-garut kepala?!" tanya Arland menginstruksi kegiatan Kania yang tiba-tiba berhenti membersihkan lukanya dan malah beralih menggaruk kepala.
"Jangan-jangan ucapanku benar lagi? Kamu beneran suka bolos saat pelajaran biologi?!" tanya Arland dengan nada tak percaya dan sedetik setelahnya Kania mengangguk dengan polosnya.
"Astaga, Kania?!!"
➡➡➡
Malamnya Kania tak bisa tidur karena terpikirkan ucapan Keenan yang menyakitinya. Dia gelisah dan merasa pusing.
Berulang kali dia mencoba memahami perasaan Keenan dan berusaha memakluminya. Dia tak lagi berpikir buruk padanya. Kania dengan lugunya bahkan berpikir kalau Keenan mungkin karena marah dan tak terima, makanya mengatakan hal itu.
Sehingga walaupun masih sakit dengan kata-kata buruk pacarnya, Kania tak menyalahkannya lagi.
"Wajar saja jika Keenan begitu. Siapapun yang melihat foto pacarnya begitu intim dengan orang lain pasti sangat tak terima. Dia pantas mengatakan itu padaku!?" serunya dengan dada yang sesak dan terus memberikan pengertian pada hatinya yang sudah sangat kecewa.
"Mungkin beberapa waktu ini dia pasti masih sangat marah dan membenciku, tapi dilain waktu dan Keenan sudah lebih tenang. Aku akan menjelaskan hal ini kembali dan aku yakin Keenan pasti mau mengerti!" ujar Kania pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kau terlalu percaya diri! Sadarlah laki-laki sudah membuangmu dan bahkan sudah menghinamu habis-habisan. Hubungan kalian sudah tak terselamatkan lagi!" ujar Arland tiba-tiba saja sudah ada disisinya dan membuat Kania syok karena terkejut.
Entah kapan pria itu ada di sana, tapi mungkin itu pasti saat Kania melamun tadi.
"Jadi perempuan jangan terlalu naif dan terlalu bodoh!" seru Arland kali ini menasehati.
"Sebetulnya aku tidak perduli dengan hubungan kalian, selain ingin kau dan dia harus berakhir, tapi Kania setelah melihat dari sikapmu ini sepertinya aku juga harus tegas. Seperti ucapanku tempo waktu. Aku tak suka milikku di sentuh orang lain dan aku benci berbagi!!" tekan Arland di tiap kata dalam kalimatnya.
Kania meneguk ludahnya kasar, tapi kemudian dia tak bisa menahan dirinya lagi. Walaupun gemetar pada Arland, kali ini perempuan itu mencoba untuk berani.
"Aku tidak bodoh dan aku bukan milikmu. Andai saja kita tak menikah, mungkin semua ini takkan terjadi. Andai kau tidak bej-at, Keenan juga tidak akan pernah menghinaku kasar seperti tadi!!" ujar Kania mencoba melawan Arland.
"Oh, ya? Kau yakin?" tanya Arland meremehkan, tapi Kania kemudian pun mengangguk saja.
"Tapi aku tidak perduli. Kenyataannya sekarang kau ini milikku dan aku peringatkan dengan status itu jangan coba-coba lagi temui laki-laki itu, atau lain waktu aku takkan sesabar ini!" seru Arland dengan serius memperingatkan.
"Bajing-an. Aku tidak pernah menjadi milikmu!!" bentak Kania dengan tiba-tiba.
Namun Arland tak marah dan dia justru tersenyum sambil menyeringai aneh.
"Kau benar, tapi tidak untuk besok pagi!" seru Arland sambil menatap Kania dengan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Kania dengan polos dan karena ia memang tak mengerti.
Namun sedetik kemudian, Arland tanpa suara, langsung menjawab dengan Kania. Menarik gadis itu tiba-tiba kemudian memaksa gadis itu mengerti ucapannya lewat perbuatan.
"Besok dan selanjutnya kau takkan berani berkata begitu lagi!!" seru Arland tak terbantahkan.
➡➡➡
TBC
__ADS_1