Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
37. Pelan-Pelan Jatuh Hati


__ADS_3

"Kenapa sayang, kamu terlihat murung setelah baru datang," ujar Karin sambil menghampiri kekasihnya Keenan.


Ah, ya. Mereka berhasil jadian setelah Karin sukses menyingkirkan Kania dari hidup Keenan. Berkat bantuan keberuntungan dan juga sedikit tambahan fitnah untuk melancarkannya.


"Kamu bahkan basah setelah dari luar padahal tidak ada hujan," ujar Karin perhatian.


Namun kepalang tanggung terbawa amarah, bukannya bercerita supaya merasa lega, Keenan malah terlihat marah. Dia bahkan dengan tak sungkan langsung melampiaskannya dengan cara mendorong kasar Karin.


"Pergi dari hadapanku jala-ng dan diamlah. Suaramu itu sangat menggangu ku!!" geram Keenan dengan kasar dan tanpa perikemanusiaan.


"Dasar pembawa sial. Apalagi yang kamu tunggu, kenapa kamu masih disini?!" bentak Keenan karena Karin tak kunjung menurut.


Perempuan itu langsung berkaca-kaca, tapi kemudian tak berani melawan. Dia seperti tikus kecil yang tak berdaya. Perhatiannya tak dianggap, tapi dirinya hanya bisa pasrah saja. Kemudian cuma bisa menurut karena tak mau membuat Keenan lebih marah.


"Sial. Kenapa semua perempuan jadi menyebalkan semuanya?!" geram Keenan tiba-tiba terasa pusing dan memijat pelipisnya spontan.


Terbayang wajah Kania yang terlihat marah saat dia ganggu, entah kenapa tanpa Keenan sadari dia menjadi candu. Anehnya dia walaupun baru bertengkar dengan Kania, tapi entah kenapa dia malah merasa rindu.


"Apa aku sudah salah melepaskanmu begitu saja Kania?" tanya Keenan pada dirinya sendiri. "Sial. Setidaknya walaupun sama-sama jala-ng kau lebih cantik daripada Karin yang membosankan dan cerewet sok perhatian itu!" kesal Keenan menyesali keputusannya sendiri.


Sekarang malah dia terpikirkan untuk merebut dan memiliki Kania kembali. Walaupun terlepas dari itu, dia masih menyalahkan Kania sampai sekarang.


"Harusnya waktu itu aku menghukummu Kania, tapi bodohnya aku malah memutuskan hubungan dengannya!" kesal Keenan pada dirinya sendiri.


• • •


'Darimana lagi si jala-ng ini?' Citra menyipitkan matanya dan menyadari kalau Kania membawa banyak barang belanjaan di tangannya. 'Enak sekali hidup perempuan rendahan ini. Setelah aku yang susah payah menyingkirkan kakaknya yang tukang selingkuh itu, adeknya malah kesenangan belanja terus dan dimanjakan tuan Arland!' lanjut Citra membatin.

__ADS_1


'Ah, tapi lihat saja nanti aku tidak akan diam saja dan melakukan sesuatu untuk menyingkirkanmu!' putus Citra yang masih tak bosan berniat menyingkirkan Kania dari hidup seorang Arland.


"Citra!" panggil Kania sambil mendekat kepadanya.


"Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Citra seperti biasa memasang muka duanya.


Kania tersenyum tak bisa untuk tak kagum dengan pembantunya yang luar biasa bisa sekali mengendalikan emosinya dalam raut wajahnya. "Bisa membantuku?" tanya Kania dengan sengaja.


Dia melakukan itu untuk menyingkirkan sejenak Citra malam ini karena hendak bebas dari gangguan pembantunya yang tak mau sadar diri itu. Kania ingin makan malam di rumah berdua dengan suaminya, memenuhi ngidamnya yang dia rasa belum terpenuhi tempo waktu. Memasak untuk Arland dan makan berdua di rumah, tapi sepertinya akan lebih asik jika di dekat kolam renang. Memikirkan rencananya itu, Kania semakin tak sabar saja.


"Tolong jangan keluar kamar dan berkeliaran di rumah ini untuk malam ini saja. Bisa?" tanya Kania terang-terangan. "Saya akan bayar kamu untuk satu malam ini saja dengan nilai yang sama dengan nominal gajimu. Hanya tidak keluar kamar malam ini dan kamu bisa mendapatkan uang dengan cuma-cuma," lanjut Kania serius.


Kania pikir dengan uang mungkin saja Citra mau menurut dan dia berharap saja.


"Tapi kenapa Nyonya, kenapa saja tidak boleh keluar kamar?" tanya Citra.


"Kamu boleh membawa camilan ke kamar supaya tak bosan, atau mungkin kamu keluar saja malam ini dengan pacarmu. Kencan mungkin?!" saran Kania berbicara dan akhirnya Citra cuma bisa mengangguk dengan pasrahnya.


'Sial. Kenapa bedebah ini semakin menjadi saja. Dia benar-benar keterlaluan!' geram Citra.


Memangnya dia bisa apalagi untuk mencegah Kania dan rencananya. Terang-terangan? Citra pikir jika begitu dia pasti akan di usir. Tak bisa berbuat banyak apalagi Kania yang mendadak, membuat Citra cuma bisa menurut saja, apalagi sekarang dia memang sedang membutuhkan uang. Jadi dia cuma bisa pasrah.


Sementara Bi Surti, perempuan paruh baya itu tak perlu susah payah dibuat mengerti. Apalagi katanya putrinya yang sedang sekolah sedang pulang hari ini karena liburan, jadi dikamar menghabiskan waktu berdua dengan anaknya sendiri bukanlah hal yang susah.


Lagian Kania cuma butuh dapur dan area kolam renang saja. Dia tak peduli jika Bi Surti keluar sebenarnya, apalagi perempuan itu bukan pengganggu menurutnya. Toh, bagi Kania yang pengganggu itu hanyalah Citra karena dia curiga Citra suka pada Arland.


• • •

__ADS_1


"Aku sudah menyiapkan air untukmu mandi di dalam," jelas Kania begitu keluar dari kamar mandi.


"Kenapa perhatian sekali hari ini. Tumben," komentar Arland.


Kania mendengus kasar. "Tidak perhatian aku dibilang istri tidak berguna, giliran inisiatif sendiri masih ditanyakan. Sebenarnya mau kamu apa sih Mas?" tanya Kania langsung ke poin inti.


"Galak sekali. Padahal aku tidak keberatan," komentar Arland yang semakin terbiasa menahan diri demi bayinya. Kalau saja tidak sudah dia tenggelamkan Kania karena geramnya.


"Bukan begitu, ah, tapi sudahlah. Cepatlah mandi lalu turun ke bawah. Aku menyiapkan sesuatu di sana untukmu," jelas Kania sepertinya menyimpan sesuatu untuknya.


Arland curiga dan menatap aneh Kania. "Ada apa denganmu sih?"


"Tidak apa-apa. Anggap saja aku sedang mengidam makanya berbuat baik kepadamu," jelas Kania.


Padahal sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu dengan Arland dan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan janinnya. Itu murni dari lubuk hati Kania. Siapa yang tidak bawa perasaan coba, akhir-akhir ini suaminya yang kejam itu walaupun masih sama galaknya, tapi suka sekali memperhatikan dirinya.


Apa-apa diberikan walaupun belum diminta, kalung dan bahkan malam itu dimana Kania mengambek karena Citra, sebetulnya tengah malam dia turun ke dapur dan menemukan piring yang ada bekas masakannya di sana. Tidak habis memang, tapi menyisakan sedikit. Ketika mencoba dan merasakan cita rasanya yang buruk, anehnya Kania malah tersenyum, karena pikir Arland memakannya dan itu benar saja ketika di lain waktu dia menanyakannya.


Mungkin itu sederhana, tapi bagi Kania itu sangat berharga. Arland yang menghargai masakannya sungguh membuat Kania bahagia.


Sekarang dia cuma mau membalas semua itu dan sepertinya dia pelan-pelan sudah jatuh hati tanpa sadar pada suaminya sendiri.


• • •


TBC


• • •

__ADS_1


__ADS_2