
Sepanjang siang, hingga malam Kania hany bisa tidur, atau tepatnya gadis itu ketiduran setelah bertengkar dengan Arland.
Dia bahkan masih tak sadar kalau dirinya terkunci di dalam kamar. Terbangun karena merasa tidurnya cukup dan juga perutnya yang meronta lapar.
Namun, karena gerah. Kania putuskan untuk terlebih dahulu mandi dan menyegarkan tubuhnya. Selesai dengan itu dia mengenakan pakaian dan tak lupa serangkaian perawatan untuk menjaga tubuhnya. Hanya perawatan singkat dan sekedar menggunakan body lotion, untuk yang lainnya Kania akan melanjutkan ketika ingin tidur kembali nanti.
Berjalan ke pintu dengan tak sabar ingin turun ke dapur. Dia lapar karena cuma sarapan dengan sedikit tadi pagi dan tidak makan siang.
Cklekk!
Tiba-tiba keningnya mengerut merasakan sesuatu yang berbeda. Mengulangi dan melakukan kembali mencoba memutar knop pintu, sayangnya Kania justru mendapatkan hasil yang sama.
Meneguk ludahnya kasar di sertai dengan mengerutkan dahinya heran.
"Apa mungkin Mas Arland mengunci aku di sini?" ujarnya menebak-nebak.
Mencoba kembali dan akhirnya Kania putus asa. Diapun tersadar dan sangat yakin kalau dirinya benaran dikunci di dalam kamar.
Tubuhnya melemas menghadapi fakta itu. Merosot kemudian terduduk menopang tubuhnya ke pintu.
"Yatuhan ... Laki-laki itu benar-benar kejam. Tega sekali dia mengunciku di sana. Apa belum cukup merusak teleponku yang baru aku beli dengan uang tabungan sendiri?"
Tanpa sadar air matanya kembali menetes karena itu. Dia merasa sakit di ulu hatinya dan jug perutnya.
Dua jam masih dalam keadaan yang sama, sampai beberapa menit kemudian dia merasakan dorongan dari luar pintu. Kania segera bangkit dan berdiri.
Arland segera muncul dan terlihat masuk ke dalam. Memandang aneh dan langsung memperhatikan Kania dengan dahinya yang mengerut.
"Habis menangis lagi?" tanya Arland memastikan.
Namun seharusnya dia tak bertanya, karena jawabannya sangat jelas sekali di depan matanya. Pipi yang sembab, mata memerah dan juga bengkak.
"Berapa jam Kania cengeng, sudah berapa lama kau menangis?" tanyanya lagi dan kali ini sangat jelas sekali kalau dirinya sedang mengejek.
"Apakah sejak aku pergi dan kau masih tak terima HP murah-an itu pecah dan rusak? Ckckck, dasar cengeng. Benda rusak saja kau tangisi!" serunya sambil mengangkat tangan, tapi bukan untuk menampar melainkan untuk memberikan sesuatu pada Kania.
__ADS_1
Itu sebuah kotak persegi panjang dan di dalamnya terdapat Handphone keluaran terbaru dan sangat mahal.
"Itu lebih mahal dari HP-ku, tapi ambillah kau berhak mendapatkan karena kau istriku," jelas Arland.
Namun rupanya hal itu tal semestinya bisa mengobati hati Kania yang terluka karenanya.
"Jadi kamu pikir ini adalah ganti dari HP-ku yang sudah kamu rusak?" tanya Kania dengan getir.
Dia tak bisa menerimanya begitu saja, ataupun senang dengan penghinaan suaminya. Dia bahkan merasa rendah dengan itu dan terhina, karena secara tak langsung Arland mengejeknya tak mampu.
"Ya. Kau pikir apalagi dan setelah aku pikir lagi. Kau memang perlu menggunakan itu. Barang mahal supaya orang lain tidak perlu menghinaku, karena mempunyai istri yang menggunakan barang murah-an. Lagipula apa kata orang nanti apalagi jika sampai tahu jika barang murah itu pemberian dari selingkuhanmu?" jelas Arland semakin merendahkan Kania.
Gadis itu mendengus kasar. Apa suaminya ini memang sudah tak punya hati. Sampai setega itu berkata demikian pada istrinya sendiri.
"Ini bukan soal harga, tapi kerja keras. Aku membeli HP-ku dengan jerih payah dan juga tabunganku. Jadi berhentilah mengatakan itu dari Keenan!" tegas Kania serius.
"Oh, jadi mantanmu itu Keenan. Ah, iya aku lupa, aku memang tadi siang melihat Keenan bersamamu. Keenan Putra Adam Malik CEO perusahaan ADAMS. Wah, hebat juga seleramu. Aku tak menyangka salah satu rekan bisnisku adalah selingkuhan istriku sendiri!" seru Arland menekan tiap kata dalam kalimatnya.
"Ka--"
"Sstttt ... Aku tidak mau denger pembelaan dari mulut busukmu Kania. Abil Handphone ini, kenakan dengan baik. Jangan berani merusaknya atau kau akan tahu akibatnya!" tegas Arland tak mau di bantah.
"Aku bilang kau membutuhkannya!" balas Arland tak mau kalah.
"Tidak!" jelas Kania tegas dan singkat.
Arland menyugar rambutnya kebelakang. Mendesah kasar sebelum kemudian menarik kencang tangan Kania. Menyebabkan tubuh ringkih itu harus bertabrakan dengan tubuh kokoh dan berototnya.
"AMBIL KANIA!!" bentak Arland sambil merengkuh pinggang istrinya erat. "Berhenti main-main dan membuatku marah!!" tekannya menyurutkan keberanian Kania.
Mengangguk pelan, gadis itu pun menyerah dan pasrah, tapi kemudian Arland yang tak puas segere menuntutnya dengan paksa.
"Aku rasa semakin kemari rasanya semakin manis!" seru Arland menatap permukaan bibir istrinya. "Tapi sudahlah. Sekarang aku mau mandi, pergi siapakan air hangat dan juga pakaianku!" katanya dengan tanpa hati mendorong Kania menjauh.
➡➡➡
__ADS_1
"Perempuan sialan! Kemari kau!!" geram Arland dari dalam kamar mandi.
Kania terkejut dan langsung meringis takut. Berpikir kali ini apa lagi yang membuat suaminya itu marah. Tak mau membuat Arland semakin marah, Kania pun kesana dan menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Kania ragu dan dengan nada suara pelan.
"Ada apa, ada apa? Masih berani tertanya. Kemari!!" Arland segera menarik Kania, kemudian memaksa kepalanya menunduk sampai tenggelam ke dalam bathtub yang terisi air.
"Apa yang kau rasakan, dingin bukan?!" geram Arland sambil menarik kepala Kania ke atas.
"Ak--"
Belum juga menjawab, gadis itu kembali dia tenggelamkan ke dalam bathtub yang berisi penuh air.
"Dasar perempuan tak berguna. Menyiapkan air saja kau tak becus!!" geram Arland akhirnya melepaskan Kania, tapi sesudah itu dia mendorongnya cukup keras.
Perlakuan itu, cukup untuk mencubit hati Kania. Dia bukan hanya merasa teraniaya, tapi juga sangat sesak hatinya.
Namun karena sadar mendebat Arland pun salah dan membuatnya semakin dilukai. Dengan hati yang besar Kania pun mengalah.
"Ak-aku akan menggantikannya!" serunya dengan hati yang bergetar sakit.
"Gantilah! Itu memang sudah seharusnya dan jangan menangis saat melakukan itu. Karena aku benci pemandianku menjadi asin!!" tegas Arland dengan tanpa hati.
Blamm!!
Pria itu bahkan berlalu sambil menutup pintu dengan menghempaskannya kasar sampai bersuara.
Sementara itu, Kania menghela nafasnya kasar. Meringis dan mengeluhkan perutnya yang belum terisi makanan seharian ini.
Sesak, perih dan lapar. Itulah yang dia rasakan saat ini, tapi meski begitu dia tetap harus menyiapkan keperluan suaminya dahulu. Tak berani melawan apalagi setelah dua tiga kali bertengkar seharian ini, rasanya tenaga Kania sudah cukup terkuras ke sana.
Menghapus pipinya dan membereskan sisa linangan air mata yang merembes begitu saja. Kania bangkit sambil menahan perasaannya
Tak berani mengeluarkan air mata sekalipun itu sulit, tapi Kania berusaha untuk mewujudkan perintah suaminya. Jangan sampai pemandiannya asin.
__ADS_1
➡➡➡
TBC