
"Apa sih, Mas, pegang-pegang. Tangannya tuh dijaga biar nggak kemana-mana!" gerutu Kania langsung menolak serangan dari Arland.
Arland tentu saja bingung karena dia ingat kalau beberapa menit lalu Kania sendiri yang ingin. Dia bahkan masih ingat jelas bagaimana Kania dihadapan Citra, berbicara manja dengan telapak tangannya yang sudah bergerilya kemana-mana.
Giliran sudah di kamar dan Arland sendiri yang inisiatif, Kania sendiri malah menolak. Dia bahkan terlihat tidak mau dan juga memerah.
"Udahlah Kania, tadi itu yang kamu inginkan bukan? Aku bahkan masih ingat kamu ingin begadang semalaman denganku. Jadi berhentilah bersikap jadi kucing pemalu, mana singa betinaku yang agresif seperti beberapa saat lalu?!" ujar Arland sambil menuntut.
"Nggak!!" Kania langsung menggelengkan kepala tanpa ragu. "Tadi aku sudah bercanda dan lagipula aku sedang hamil muda, seingatku dokter juga menyarankan untuk kita agar tidak begituan juga," jelas Kania menolak.
"Bukan melarang, dokter cuma membatasi supaya kita terlalu sering," kata Arland mengelak. "Ayolah. Lagian kamu yang mulai duluan," lanjut Arland membujuk.
Kania grogi sekaligus juga tak mengerti harus bagaimana lagi. Meremas telapak tangannya dan menundukkan kepala. "Jangan sekarang. Tunggu kandungan lebih kuat, ya!" bujuknya penuh harap.
"Baiklah, tapi ingatlah kalau kamu menolak jangan salahkan jika saat itu aku akan memaksa," pasrah Arland.
"Hm," jawab Kania cuma bisa berdehem. "Dia benar-benar gugup sekarang dan rasanya debar jantungnya sudah seakan mau meledak.
"Tapi walaupun begitu, mulai malam ini biarkan aku tidur di ranjang yang sama dengan mu!" tegas Arland tak mau dibantah.
"Hm," jawab Kania dengan menganggukan kepala dan juga deheman lagi.
Walaupun begitu rupanya Arland sudah terlihat bahagia dan senang. Anehnya tidak cinta, tapi begitu dekat dengan istrinya seperti impiannya saja.
• • •
__ADS_1
"Aku nggak mau pergi sendiri. Aku ingin kita pergi bersama, Baby! Aku trauma kejadian waktu itu, kamu datang dengan istrimu dan tidak mengakui aku ...."
Lyra bersikeras karena tak mau jatuh ke lobang yang sama untuk kedua kalinya. Sementara itu, Arland juga tak bisa datang bersamanya karena hal itu pasti akan merusak rencananya.
"Tapi itu acara sahabatmu, Lyra. Di sana pasti kamu banyak kenalan. Mengertilah, aku tidak bisa pergi denganmu. Istriku berbeda dengan kakaknya yang mantan tunanganku. Dia cerdik dan jika dia tahu aku pergi bersamamu, maka dia pasti akan mengadu pada daddy-ku dan kamu tahu akan berakhir seperti apa nanti!" seru Arland menjelaskan dengan serius.
"Dengan begitu Daddy pasti akan menghapuskan namaku dari daftar ahli warisnya. Kamu mau aku miskin?" tanya Arland memberitahu, tapi dari nada suaranya dia terdengar seperti tengah mengancam.
Lyra langsung menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu aku sangat menyanyangimu sayang, aku tak ingin melihatmu miskin. Bukan karena aku serakah soal uang, tapi aku tak mau kamu hidup menderita," jawab Lyra sambil mengusap lembut pipi Arland.
'Sial. Habis ini wajahku harus dicuci bersih atau jika akan terkena infeksi oleh mahluk aneh ini. Dasar ratu drama, cih ... dia pikir aku goblok mau dibodohin begitu saja? Oh, tidak bisa Lyra. Sekarang kau tidak akan pernah bisa melakukan hal itu padaku lagi,' batin Arland menyeringai.
"Begini saja. Kita akan pergi bersama, tapi tidak dengan mobil yang sama. Supaya kemungkinan istriku tidak akan pernah tahu dan kita bisa bersama," tawar Arland langsung memberikan pilihan yang tidak merugikannya.
• • •
Sampai di pesta dan melakukan rencana mereka pergi dengan mobil yang berbeda terjadi dengan lancar. Namun, Lyra yang tiba duluan tak menemukan Arland di sana walaupun sudah menunggu setengah jam lamanya. Beberapa tamu yang mengenalnya bahkan sudah menyapanya dan mengajak masuk bersama, tapi dia masih bersikeras menunggu Arland.
Hampir satu jam, tapi Arland masih belum tiba dan Lyra sudah beberapa kali menghubunginya, tapi Lyra sama sekali tak mendapatkan jawaban apapun.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Lyra. Ayo kita masuk bersama saja!" seru Ricko.
Dia adalah laki-laki yang sama dengan yang orang yang pernah di pergoki Arland sedang memadu kasih dengan Lyra, dan pria inilah yang sebenarnya pacar sebenarnya bagi Lyra. Arland baginya cuma ATM berjalan saja dan tak lebih dari itu. Ah, ya. Selain itu Ricko juga adalah teman sekolahnya Lyra selama SMA dan mereka berhubungan jauh sebelum mereka mengenal Arland.
"Kamu jangan ngaco, Arland juga ikut kemari dan tolong jangan terlalu dekat. Jangan membuat Arland curiga dengan hubungan kita," kata Lyra memperingatkan.
__ADS_1
"Ayolah Lyra. Dia takkan datang. Pria membosankan itu pasti sekarang terjebak dengan pekerjaannya yang tiba-tiba ada dan sangat penting sampai tidak bisa ditinggalkan," kata Ricko membujuk.
"Darimana kamu tahu, jangan sembarangan!" kata Lyra memperingatkan.
"Aku tidak sembarangan. Ini bukan sekali dua kali dia lakukan padamu, tapi berulang kali. Ayolah, jangan jadi perempuan bodoh, setidaknya dalam waktu beberapa tahun terakhir ini kamu sudah belajar untuk memahaminya. Pria membosankan itu akan terus-terusan melakukan hal yang sama tanpa bosan!" jelas Ricko dengan serius.
Lyra pun mempertimbangkan dan mengingat apa yang sudah terjadi. Memang benar selama ini apa yang sudah dikatakan Ricko. Selama menjadi pacarnya, ATM berjalannya itu lebih sering sibuk daripada bersamanya. Oleh sebab itu akhirnya Lyra pun setuju dan mengangguk lalu tanpa ragu menggandeng tangan Ricko. Keduanya masuk ke dalam aula pernikahan, tanpa sadar kalau dari jauh Arland sudah menonton mereka.
"Cih, dasar murah-an. Berani sekali melakukan ini padaku bahkan setelah mengajakku!" geram Arland marah.
Dia bukannya cemburu, tapi kepada lebih tak terima dengan perlakuan Lyra yang mempermainkan. Mungkin sekarang cintanya bahkan benar-benar hilang berganti benci yang mendalam. Satu hal yang ada dalam dirinya adalah balas dendam walaupun sebetulnya itu tidak diperbenarkan, tapi Arland benar-benar tak bisa tenang jika tidak melakukannya.
"Kamu sudah menemukan orang yang aku perintahkan semalam?" ujar Arland bertanya pada Alex yang kini sedang dihubungi olehnya.
"Sudah Pak. Dia akan segera masuk jika Bapak sudah setuju," jawab Alex.
Arland menganggukkan kepala meski tak bisa dilihat oleh Alex. "Bagus, tapi tunggulah sebentar. Biarkan dua bedebah itu menikmati pestanya dahulu baru suruh orang itu masuk dan mengacaukan kesenangan Lyra!" seru Arland serius.
Pria itu segera tersenyum devil. Memikirkan bagaimana jika sebentar lagi Lyra akan kembali dia permalukan. Membayangkan wajah menderitanya. Arland jadi tak sabar.
"Selamat menikmati penderitaanmu Lyra, aku harap setelah ini kamu tobat atau setidaknya mengakui kesalahanmu, tapi jika tidak maka biarkan aku terus-menerus membuatmu malu!' batin Arland tersenyum menang.
• • •
TBC
__ADS_1