Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Pergi


__ADS_3

Dengan perasaan yang luar biasa buruk Kania kembali ke kamarnya dan buru-buru berganti pakaian, tak mau memperdulikan suaminya yang lebih perhatian pada pembantunya itu. Arland masuk setelah selesai dan membawa minuman yang mungkin Kania inginkan.


"Kamu kenapa sih, hobi sekali marah-marah? Kamu sedang hamil Kania, tidak bisakah demi anak kita kamu lebih sabar atau setidaknya bersikap baik pada Citra?"


Kania tak menjawab melainkan meraih HP-nya dan bersikap mengacuhkannya. Arland geram lalu merampasnya. "Bisa kamu dengarkan aku sebentar?!"


"Tidak!!" bentak Kania marah dan juga kedua bola mata yang berkaca-kaca.


Arland heran, tapi disaat yang bersamaan dia tak tega kepada istrinya itu. Sulit melihat air mata Kania, tapi dia saat yang sama dia juga tak mau Kania semena-mena. Arland hanya ingin yang terbaik, itu saja.


"Kania ayolah dengarkan aku! Maaf jika kamu tersinggung saat aku membentakmu dihadapan Citra dan Sisi. Aku hanya tak mau kamu kasar," jelas Arland berusaha sabar.


Kania mengangguk saja dan saat Arland mengatakan minuman yang dibawanya dari Sisi diapun menghabiskannya. Arland pikir masalah diantara mereka saat itu juga sudah selesai akan tetapi begitu hari berganti dia takkan pernah menduga kalau itu jauh lebih buruk.


"Nyonya mau kemana, jangan pergi dan membiarkan wanita jahat itu menang," ujar Sisi khawatir melihat Kania berjalan dengan menenteng koper.


"Aku tidak kemana-mana Si. Ini cuma koper milik temanku dan sekarang aku harus mengembalikannya," jawab Kania berbohong.


Dia sudah tak tahan lagi dan tak mau ditahan siapapun untuk bertahan. Uangnya pun sudah cukup untuk pergi dan menghidupi dirinya sendiri selama satu sampai dua bulan ke depan. Sementara Sisi setelah penjelasan itupun percaya saja, sehingga jalan Kania mulus.


Sebelum masuk ke taksi untuk meninggalkan rumah, Kania menatapnya untuk terakhir kali. "Aku rasa ini yang terbaik. Biar saja Citra menang, toh Mas Arland sepertinya suka padanya juga, karena dia selalu saja membelanya," ujar Kania putus asa.


Tekatnya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Meski tak melakukan persiapan apapun, tapi dia benar-benar pergi dan mencari tempat tinggal yang baru. Tidak mudah memang, namun Kania tak menyerah.


Sore hari Arland sengaja pulang cepat karena perasaannya tak enak bahkan sejak pagi. Dia sudah menghubungi Citra dan menanyakan istrinya Kania. Namun, tentunya pembantu yang satu itu tak perduli, dia hanya menjawab asal tanpa memastikan keadaan sebenarnya Kania.

__ADS_1


Disinilah Arland sekarang, dikamarnya dan Kania. Tak ada yang aneh menurutnya dan pria yang lelah dengan aktivitasnya seharian itu, segera mandi untuk membersihkan diri sebagaimana mestinya.


Arland masih tenang walaupun hatinya gelisah dengan sesuatu yang tidak dimengerti olehnya. Dia masih berpikiran positif dan mengira Kania yang tak di kamar sedang berada di dapur.


Namun saat sudah selesai mandi dan akan berpakaian, Arland tiba-tiba membeku menyadari sesuatu yang salah. "Dimana semua pakaian Kania. Kenapa hilang sebagian?"


Arland mulai memperlihatkan kecemasannya. Buru-buru berpakaian dan turun ke bawah.


"Citra!!" panggil Arland dengan nada suara yang keras.


Sampai membuat asisten rumah tangganya itu segera tiba dan menghampirinya. "Iya, Tuan. Ada yang bisa aku bantu. Mau teh atau kopi?"


Arland geleng kepala. "Di mana istriku?!"


"Ya, kamu pikir siapa lagi? Katakan dimana dia?!" tanya Arland menuntut.


Citra langsung kebingungan, daripada sampai sekarang Arland pulang jujur saja kerjanya cuma malas-malasan. Soal info tentang Kania pada Arland di telepon diapun cuma berbohong, jadi mana mungkin dia tahu keberadaan Kania dan Citra terpojok saja ini.


"Di mana dia?!" Kali ini Arland membentak, karena membaca ekspresi Citra yang tak mengenakkan. "Jangan bilang kau tak tahu di mana istriku dan selama siang sampai sekarang kau sebenarnya tidak pernah tahu?!"


Citra tak menjawab dan kali ini dia tak berani berbohong lagi. Dia terdiam dan menundukkan kepala karena tak mau Arland semakin marah lagi. Namun hal itu tak berhasil, wajah Arland bahkan terlihat mengeras saat ini.


"Kurang ajar!! Berani sekali kau membohongiku saat di telepon. Dasar pembantu bereng-sek. Awas saja jika sampai istriku tak ketemu dan dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku akan membunuhmu bereng-sek!!" umpat Arland kesetanan.


Arland sudah tak perduli lagi. Emosinya sudah dipuncak karena menghawatirkan Kania dan juga merasa sudah ditipu pembantunya sendiri. Akan tetapi setelah itu dia tak hanya mencecar Citra melainkan pembantunya yang lain. Sisi dan ibunya.

__ADS_1


"An-anu Tuan. Maafkan saya, sungguh saya tak tahu kalau siang tadi nyonya Kania beneran pergi. Karena dia bilang hanya ingin mengantarkan koper temannya saja," jelas Sisi meyakinkan.


"Bodoh!! Dasar perempuan tidak berguna. Mudah sekali kau percaya?!" hardik Arland dengan emosi yang masih sama.


Sisi menundukkan kepala, tak berani menatap majikannya. Apalagi sekarang bukan hanya takut, tapi juga ada rasa bersalah serta khawatir untuk nyonyanya Kania yang sedang hamil.


"Bereng-sek!! Kalian di sini memang tidak ada yang becus satupun. Tak ada yang berguna!!" bentak Arland sekali lagi sebelum kemudian dia benar-benar pergi untuk mencari Kania.


Mencari kemana-mana dan terus berusaha, tapi walaupun bulan sudah digantikan matahari. Arland masih belum menemukan istrinya. Saat itu juga dia benar-benar hancur dalam perasaan khawatirnya. Dia tak berdaya dan juga terus merasakan kegelisahan yang tidak ada habisnya.


"Di mana kamu Kania sayang. Aku sudah mencarimu semalam, tapi kenapa kamu bahkan tidak meninggalkan petunjuk apapun?!" frustasi Arland dalam keputusasahannya.


Pagi itu semua keluarga sudah tahu pasal hilangnya Kania, karena saat mencari semalam Arland sempat menghubungi mereka menanyakan keberadaan Kania yang mungkin saja ada di rumah keluarganya atau istrinya itu.


Namun memang tak ada hasil apapun dan sekarang semua itu malah membuat semua orang khawatir.


"Istirahatlah Nak, kau butuh itu karena sejak semalam kau sudah berusaha terus-menerus tiada hentinya!" ujar Ibunya Arland perhatian.


"Tidak bisa. Istriku ada di luar sana. Nasib dan bagaimana kondisinya tidak jelas dan bisa saja dia dalam bahaya, karena itu aku tak bisa diam saja. Aku harus terus mencarinya walau apapun yang terjadi!" tegas Arland keras kepala.


Ibunya menghela nafas, dia juga khawatir dengan menantunya Kania. Namun jika Arland terus dibiarkan anaknya itu juga bisa kenapa-napa. Sebagai ibu tentu saja dia tak bisa untuk tidak khawatir.


❍ᴥ❍


TBC

__ADS_1


__ADS_2