Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
19. Ternyata Istriku adalah Karyawanku


__ADS_3

Keenan mengeram marah, geram dan juga sangat murka pada suami dari mantan kekasihnya Kania.


"Sial. Berani sekali bajing-an itu melakukan ini sudah padaku!" ujarnya dengan nada suara yang teramat kesal dan juga telapak tangan yang mengepal erat.


Saat ini dia sedang di tempat malam yang privat dan juga sering dipakai orang maksiat dari golongan kelas atas. Lampunya berkerlap-kerlip, suara di sana bising dan full volume. Dia tak sendiri, tetapi bersama wanita yang mengelilinginya.


Tiga hari yang lalu, Keenan sudah sempat bermalam di kantor polisi. Tiga malam, walaupun akhirnya berhasil keluar dengan bantuan uang, kekuasaan, dan juga dominasinya.


Hal itulah yang membuatnya sangat marah saat ini. Bermalam dingin dibalik jeruji penjara, menciptakan dendam tersendiri di hatinya.


"Kamu di sini, Keenan?!" seru Karin tiba-tiba saja sudah ada di sana.


"Kenapa kemari?" todong Keenan dengan kesal.


Karin tak langsung menjawab, melainkan mendekat dan duduk di sebelahnya. Lantas dengan lancangnya gadis itu segera menyenderkan kepalanya ke bahu Keenan tanpa izin, tapi detik berikutnya karena Keenan tak mencegahnya, Karin lebih nekat lagi. Perempuan itu semakin melunjak dan mengusap dada bidang Keenan.


Anehnya Keenan yang diperlakukan demikian bukannya menepis, tapi malah diam saja.


"Aku mengkhawatirkan mu. Aku cemas jika pengacaramu tak berhasil membebaskan mu, dan juga aku bahkan sudah ke kantor polisi untuk menjemputmu. Sayang sekali kamu sudah tak ada di sana tadi.


HP-mu mati dan aku sulit sekali menghubungimu. Untung saja ada asisten pribadi mu yang memberitahu kabar mu dan juga keberadaanmu," jelas Karin memberitahu.


Keenan cuma mengangguk saja. Entahlah dia perduli ataupun tidak, tapi yang jelas pria itu segera meraih minumnya dan menyesapnya perlahan.


Kurang puas dengan reaksi itu, Karin pun berpikir untuk mengatakan sesuatu yang membuat Keenan memperhatikannya.


"Omong-omong, aku rasa Kania memang sengaja menikah dengan Arland. Dia pasti sudah memanfaatkannya selama ini," ujar Karin memancing Keenan.


"Memaafkan apa? Setelah dia ternyata berselingkuh dibelakangku, apa lagi yang sudah dia lakukan ...."


"Tentu saja uang dan kekuasaannya. Ingatlah Arland itu jauh lebih kaya darimu, dan Kania itu memang licik. Semasa kalian berhubungan saja dia tak membiarkanmu menyentuhnya. Dia itu cuma perempuan sok suci, tapi berhati iblis. Ingat alasanmu di penjara, itu kan ulahnya!!"

__ADS_1


Keenan mendesah kasar, kepalanya mendadak terasa pusing. Tak bisa menahannya diapun kembali menyesap minumannya kasar. Karin melihat itu dan tersenyum menyeringai tanpa sepengetahuan Keenan.


'Mampus kamu, Kania. Ini semua salahmu. Andai dulu kamu tak menikung aku dan menjadi kekasih Keenan yang aku cintai, mungkin kamu takkan sehancur ini! Ch, aku takkan pernah membiarkanmu hidup tenang,' batin Karin penuh dendam.


➡➡➡


"Apakah kau sudah minum susu dan vitaminnya?" tanya Arland siang itu ketika melihat Kania sudah bisa bersantai dan berada di ruang tengah.


Istrinya itu terlihat memainkan telepon baru yang pernah diberikan oleh Arland, sebagai ganti rugi sudah merusak telepon baru yang Kania beli dengan uang tabungannya sendiri.


"Belum. Aku tidak lapar dan terus merasa mual sampai sekarang," jelas Kania acuh tak acuh, sambil terus memainkan teleponnya.


Arland tak puas dan kurang suka mendengar jawabannya, sehingga pria itupun mendekati dan merebut telepon Kania dengan tiba-tiba.


"Apa-apaan kamu? Mau berbuat kasar lagi, atau membantingnya, hah?!" geram Kania dengan spontan dan kesal.


Arland tak langsung menjawab dan malah mendesah kasar. Menatap Kania dengan sedikit tajam.


"Tidak. Aku hanya ingin kamu berhenti. Makan sekarang, minum obat dan jangan terlalu lama memainkan benda ini. Asal kau tahu saja efek negatif yang dihasilkan dari HP itu sangat buruk untuk ibu hamil," jelas Arland menahan diri.


"Apa kamu tidak mengerti kalau aku tidak lapar?" jawab Kania sedekat membentak.


"Kania!" peringat Arland.


Perempuan itupun menghela nafas. Sebetulnya diapun tak mood untuk berantam. "Baiklah aku akan makan siang dan minum obat serta minum vitaminnya, tapi sebelum itu, kamu harus melakukan sesuatu untukku!" tegas Kania memberikan tawaran.


"Apa?" tanya Arland singkat, tapi setuju.


Kania agak ragu mengucapkannya, meneguk ludahnya kasar dan terlihat sedikit gugup. 'Kamu tidak boleh takut Kania, katakan saja. Lagipula ini berhubungan dengan dan juga terjadi karena dia,' batin Kania berpikir keras.


"Sebenarnya ... aku sudah bekerja sudah masuk bahkan sebelum hamil, tapi sejak kejadian itu. Aku harus dirawat di rumah sakit karena hampir keguguran karena mu, aku sudah cuti dan itu tanpa izin terlebih dahulu. Aku tak mau dipecat," jelas Kania memberitahu.

__ADS_1


"Terus?" tanya Arland menantikan kalimat selanjutnya istrinya.


"Aku menjatuhkan banyak lamaran ke beberapa perusahaan jauh sebelum kita menikah, termasuk di perusahaan. Kemudian aku di terima dan sekarang aku bekerja di kantor mu. Aku tidak mau dipecat!" ungkap Kania sontak saja membuat Arland terkejut.


"Apa?" kaget Arland tak percaya.


"Ya, begitulah, tapi asal kamu tahu saat aku masuk ke sana bukan karena memanfaatkanmu sebagai pemiliknya. Itu usahaku sendiri camkan itu!" tukas Kania lagi.


Arland tak menjawab melainkan langsung pergi begitu saja untuk menghubungi asistennya sendiri.


"Apa yang terjadi, kenapa aku sampai tidak tahu kalau istriku sendiri bekerja di perusahaanku?!" tuntut Arland langsung begitu teleponnya terhubung.


"Maaf Pak, kami juga tidak tahu mengapa Bapak tidak tahu, tapi sebelumnya kami juga sudah mengkonfirmasi hal ini pada Bapak.


Hari itu sejak menemukan berkas pelamaran istrinya Bapak, kami sudah memberitahu Bapak rapat dengan beberapa petinggi perusahaan, dan Bapak mengangguk saja.


Itulah mengapa kami menerimanya dan langsung memasukkan ibu Kania ke divisi yang dia inginkan sesuai yang tertera di dalam surat lamaran kerjanya," jelas Asistennya.


Arland menganggukkan kepala meski tak bisa dilihat oleh asistennya itu. Dia paham sekarang, saat yang dijelaskan asistennya itu. Dia memang pusing setelah rapat dan tak terlalu memikirkan apapun, singgah mungkin tak memperhatikan apa yang sudah asistennya katakan. Ternyata dialah yang khilaf sekarang. Tak sadar karena istrinya bekerja di sana.


Namun setelah dipikirkan lagi, pantas saat belakangan ini sebelum kejadian hampir keguguran. Kania bisa cepat sekali menjumpainya. Baru dihubungi, tapi beberapa menit kemudian sudah sampai saja di ruang kerjanya. Ah, ternyata mereka bekerja di tempat yang sama. Istrinya karyawannya sendiri.


"Mas Arland gimana? Kamu sudah pertimbangkan, aku tidak akan dipecat bukan?!" tuntut Kania tiba-tiba saja sudah di sampingnya.


Arland langsung mengusap dada karena terkejut. "Hm, terserah kau saja."


"Awas kalau sampai aku dipecat?!" peringat Kania entah mengapa bisa seberani itu.


Arland cuma menganggukkan kepalanya saja. Sementara itu, beberapa meter dari tempat mereka berada ada Citra yang diam-diam menyaksikan keduanya.


'Sial. Jala-ng satu itu sepertinya suka sekali menggoda tuan Arland. Cih, awas saja kamu wanita jala-ng. Aku akan memberimu perhitungan!!' geram Citra membatin dengan kesalnya.

__ADS_1


➡➡➡


TBC


__ADS_2