Terjerat Cinta Suami Kejam

Terjerat Cinta Suami Kejam
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Perlahan Arland bangun dan membuka matanya. Melihat seisi ruangan, lalu teringat ingatan terakhir sebelum dirinya tak sadarkan diri.


"Nak kamu sudah bangun?" Arsyta yang masih di sana melihat dan menghampiri putranya.


Namun belum juga dia sampai, Arland sudah bangkit dan terlihat memaksakan untuk berdiri.


"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Arsyta yang langsung syok dan spontan berlari supaya anaknya tidak jatuh.


"Kania, Kania ... aku harus mencari istriku, Ma!" seru Arland memberitahu.


Membuang nafasnya kasar, Arsyta memaksakan Arland untuk berbaring kembali. "Dia sudah ketemu jadi istirahatlah!"


"Di mana dia, Ma. Di mana Kania istriku, Ma?!" tanya Arland menuntut.


Sakit di kepalanya cukup terasa, tapi dia sama sekali tak memperdulikannya. Sementara Arsyta sudah sangat khawatir akan kenekatannya. "Dia di rumah sedang istirahat dan sebentar lagi akan ke sini."


"Tidak Mama pasti berbohong, Kaniaku belum ketemu dan Kania bisa saja dalam masalah di luar sana. Lepas Ma, biarkan aku pergi!" Arland kembali memberontak kali ini dia bahkan sudah berhasil lepas dari ibunya.


"Arland! Jangan begini, Nak. Mama tidak membohongimu, Kania istrimu memang sudah ketemu, jadi kamu beristirahatlah!!" seru Arsyta sambil berusaha mengejar putranya yang sepertinya sudah cukup gila.


Arland bahkan tak mau repot untuk sekedar mendengarkan ibunya.


"Berhenti, Arland!!!"


Tak ada jawaban, Arsyta yang panik karena tak bisa mengendalikan putranya yang sakit, tapi gila mencari istrinya itu kewalahan. Dia segera memanggil dokter dan juga petugas untuk menahan Arland.


Hal itu berhasil, tapi Arland masih tak menyerah. "Lepaskan aku, lepaskan!! Qku ingin mencari istriku. Lepaskan!!!"


Arland terus mengamuk sementara Arsyta karena khawatir, sudah menangis tak tega melihat anaknya demikian. "Nak, istrimu sudah ketemu. Percaya sama Mama, Nak. Kaniamu sudah pulang!" ulang Arsyta kesekian kalinya. Berusaha untuk terus meyakinkan putranya.


"Kalau sudah ketemu dia pasti di sini, tapi nyatanya tak ada Kania di sini. Lepas, lepaskan aku!! Istriku bisa kenapa-napa jika aku tak segera menemukannya!!" amuk Arland membuat petugas yang mengamankan dirinya kewalahan.

__ADS_1


Hampir saja dokter melakukan tindakan terakhir dengan memberikan suntikan penenang, kalau saja sebuah suara membuat Arland tiba-tiba diam dan berhenti memberontak.


"Mas," panggil Kania ternyata sudah ada di sana.


Arsyta terlihat lega, dan dokter maupun petugas segera paham pun melepaskan Arland. Tak mau buang waktu ataupun yang lainnya. Tubuh besar dan tinggi tegap itu segera menubruk tubuh istrinya untuk memastikan benarkah Kania yang dihadapannya.


Kemudian ketika merasakan itu nyata Arland pun senang dan memeluknya erat. "Kamu di sini sayang, kamu sudah di sini Kania?"


Tak bisa menahan ataupun perduli omongan orang-orang, Arland sebagai pria pun menangis melepaskan segala perasaannya. "Aku mengkhawatirkanmu Kania, kemana saja kamu?"


❍ᴥ❍


Arland tidak bisa lepas dari Kania walaupun itu hanya sekejap. Bahkan sekedar ke kamar mandi, Arland bahkan memaksa Kania ikut masuk, atau menunggu suaminya di depan pintu.


Untuk makanan, akhirnya Arland mau setelah puasa dua hari dua malam, tapi pria juga juga sangat manja. Selain harus disuapi, dia juga memaksa Kania ikut makan.


"Kamu jangan sampai sakit Sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa ...." Dalam sekejap Kania merasakan perubahan sikap dan perilaku suaminya seratus delapan puluh derajat. Kali ini dia memperlakukannya bukan hanya seperti kekasih, tapi juga porselen mahal. Hati-hati dan penuh kasih sayang.


Namun Kania tak langsung bisa senang sepenuhnya, dia masih trauma Arland yang kasar dan bahkan tidak mempercayai dirinya. Hal itu terlihat dari raut wajahnya yang tidak pernah terlihat lega sepenuhnya.


"Aku tidak mau. Nanti kamu tinggalkan aku lagi!" ujar Arland keras kepala.


Kania tertegun teringat barang-barangnya yang masih di kontrakan kecilnya. Dia memang sangat mengkhawatirkan Arland, tapi bukan berarti semudah itu pikirannya berubah.


"Tuhkan, kamu diam saja. Kamu pasti mau pergi lagi kan!" Arland tak tenang, langsung saja menarik Kania dan memeluknya seolah-olah tak mau melepaskannya. "Berjanjilah untuk tidak pernah pergi lagi!"


Kania mendongak kemudian tatapannya bertemu pandang dengan Arland. "Jika aku pergi itu karena Mas sendiri yang menjadi penyebabnya," balas Kania terang-terangan.


Arland sudah baik-baik saja, jika dia kecelakaan sampai opname itu bukan karena luka kecelakaan yang dialaminya, tapi karena kekurangan nutrisi sepaket dengan stress dan tekanan yang membuatnya tak bisa menopang tubuhnya lagi.


"Aku tidak akan galak lagi, aku mempercayaimu dan aku bersumpah untuk mengusir Citra dari rumah, tapi Sayang jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu!" ujar Arland begitu mudahnya, tapi masih sangat serius.

__ADS_1


Kania tak langsung menjawab, tapi malah menatap mata suaminya mencari kebenaran di sana. Membuat Arland jadi cemas, menuntut dan memaksanya untuk menjawab.


"Katakan Kania kamu mau kan terus di sisiku dan tidak akan meninggalkan aku?! Jawablah sayang! Jawab aku!!"


Kania masih diam, tak berani berjanji karena ingatan tentang Arland cukup menyesakkan dan itu membuatnya ragu. Melihat itu Arland menyadarinya, sadar akan kerisauan dari isterinya.


"Sayang aku berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kamu, kita dan anak kita. Aku bersumpah tidak akan seperti sebelumnya lagi, dan jika kamu masih belum yakin aku bisa mengalihkan seluruh asetku untukmu. Supaya kamu percaya kalau aku tidak akan seperti yang sudah-sudah!" seru Arland tanpa ragu.


"Jawablah!" tuntut Arland lagi dan kali ini meski tak yakin Kania pun mengangguk setuju.


Arland tersenyum senang sembari kembali mendekap istrinya. "Kamu tahu, rasanya aku mau mati saja tanpa kamu dua hari ini," ujar Arland memberitahu dengan sungguh-sungguh.


"Jangan katakan begitu Mas dan aku tak mau kam--" Kania terdiam tersadar untuk ragu mengungkapkan rasanya.


"Kamu tak mau apa Sayang?" tanya Arland melonggarkan kembali pelukannya dan memberi jarak untuk melihat wajahnya Kania.


"Lupakan. Aku tak mau apa-apa lagi," jawab Kania dengan sedikit ketus dan Arland sedikit kecewa mendengarnya.


Namun kali ini walaupun kecewa, Arland memilih menekan egonya. Dia mengalah, dan meredakan emosinya lewat memberi jejak manis pada istrinya.


"Kamu tahu Kania, sebenarnya aku sangat menyukaimu sejak awal. Aku sangat tertarik padamu, dan sekarang aku sangat mencintaimu!" tegas Arland membuat Kania terkejut.


"Setelah ini kamu pasti berpikir aku terlalu menggampangkan perasaan, karena terlalu mudah mengucapkan cinta. Akan tetapi Kania aku sungguh mencintaimu dan aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ini, setelah kamu meninggalkan aku. Aku sungguh-sungguh cinta padamu!"


Deg!


Debar jantung Kania langsung bergemuruh hebat. Dia senang mendengar itu dan hatinya tak bisa berbohong. Mungkin dia akan kedengeran bodoh dan bego, tapi memang benar adanya cinta membuat orang gila, tidak waras dan tidak berpikir panjang.


"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Arland dan Kania pun mengangguk dengan mudahnya.


Segampang itu memaafkan Arland menggunakan hati dan perasaannya, tapi mungkin pikirannya tidak akan sama. Kania juga trauma dan dia pasti lebih waspada setelah ini.

__ADS_1


❍ᴥ❍


Bersambung


__ADS_2