
Sementara di tempat kerjanya tak ada yang berani mengganggu Kania lagi. Dia bahkan begitu dihormati walaupun belum ada yang tahu siapa dirinya. Semua orang berubah dan kompak memperlakukannya dengan baik.
Pekerjaannya selesai dengan cepat. Hari ini dia ingin sekali memasak, tapi ingin Arland yang mencicipinya. Keinginan itu sangat besar dan menggebu. Dorongan dari hatinya atau mungkin saja ngidamnya agar segera dilakukan.
Kebetulan Arland ada di ruangannya ketika Kania menjemputnya ke sana.
"Ngapain?" tanya Arland agak heran, pasalnya istrinya itu biasanya selalu pulang lebih dahulu daripada menunggunya.
"Ayo pulang!" ungkap Kania.
"Aku masih banyak pekerjaan dan sepertinya akan lembur hari ini," jelas Arland.
"Ayo!!" ujar Kania lagi dan kali ini nada suaranya kontraks terdengar seperti memaksa.
"Kania kam--" ujar Arland yang tak jadi sebab saat mengangkat kepalanya untuk melihat Kania, dia menemukan sesuatu yang tak mengenakkan. "Yasudah. ayok! Dasar pemaksa!" gerutu Arland yang tak bisa menolak.
"Maksudnya kamu kan," balas Kania.
"Kamu!"
"Enak aja, kamu kok!!"
"Kamu!"
"Kamu!!"
Pertengkaran bibir itu semakin sengit, bahkan setelah beriringan pulang. Mereka masih berdebat. Alex di sana dan menyaksikan keduanya. Dia agak sakit kepala mendengar ucapan keduanya, dan begitu penampakan serta suaranya tak terdengar barulah Alex mendesah lega.
"Pak Bos dan istrinya, semakin hari sudah semakin mirip Tom and Jerry. Kerjanya berantam terus. Padahal mereka keliatan cocok!" komentar Axel, tapi kemudian dia mendesah lega karena sudah tak mendengar suara berisik dari bos dan istri bosnya itu. "Fiufthhh, setidaknya mereka sekarang sudah pergi dan semoga saja bu Kania tidak mengidam hari ini atau biarlah mengidam lagi, tapi jangan sampai menyebut namaku dan juga Pak Arland tidak menyangkut pautkannya dengan ku."
•••
"Aku sudah bisa masak loh, Mas!" seru Kania langsung membawa Arland ke dapur walaupun mereka baru sampai.
Arland pasrah saja. Perempuan kalau dibebaskan memang begitulah, suka melakukan apapun yang mereka suka-suka, seperti sekarang contohnya. Entahlah apapun yang direncanakan istrinya, Arland cuma bisa berharap itu bukanlah hal yang aneh-aneh itu saja.
Sementara itu Kania langsung meluncur mempersiapkan segala hal untuk memasak. Mulai dari alat sampai bahan yang digunakannya.
"Ada-ada saja kerjaanmu Kania. Bahkan kita baru sampai loh dan juga belum sempat bersih-bersih," komentar Arland membuat Kania sebal dan langsung menatapnya galak sehingga Arland mengusap tengkuknya merasa familiar dengan yang Kania lakukan.
"Jadi pria kok rewel bangat, padahal aku mau kasih makan enak loh ini!" omel Kania yang sama sekali tak bisa Arland hiraukan.
Pria itu justru sibuk terus menonton gelagat Kania. 'Akhir-akhir ini perempuan itu suka sekali mencontoh atau melakukan kebiasaanku. Apa jangan-jangan nanti kalau anakku lahir akan mirip sembilan puluh sembilan persen mirip aku ya, dan cuma satu persen mirip ibunya?' Arland membatin sambil menebak-nebak, kemudian mengangguk-anggukan kepalanya tanpa dilihat Kania. Karena perempuan itu jelas sudah asik dengan dunianya sendiri.
• • •
__ADS_1
Semua berjalan lancar, sampai kemudian Citra tiba-tiba ke dapur dan membuatkan minuman untuk Arland dengan sigap. Arland yang kehausan tentu saja menerimanya, tapi Kania tak mengerti hal itu. Dia menjadi meradang dan menatap geram suaminya walaupun cuma sejenak.
Tanpa sadar, Kania yang marah memasukkan terlalu banyak penyedap rasa dan juga garam ke dalam masakannya.
"Biar saya saja yang melanjutkan Nyonya," kata Citra mencoba mengambil alih.
"Tidak usah, saya bisa sendiri. Kamu pergilah," ujar Kania memerintah.
Namun seperti biasa, Citra tentu saja tak mau mengalah. Gadis itu nekat ikut memasak dan bahkan menyiapkan alat dan bahannya juga.
Bug!
Kania melempar pisau, tapi beruntunglah itu masih mendarat tepat di atas talenan kayu yang di sebelah Citra.
"Kania!" tegur Arland yang melihat kejadian itu. "Apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika pisaunya mengenai Citra dan terluka oleh pisaumu?"
"Nyatanya dia tidak kenapa-napa bukan!" kesal Kania masih geram dan kini dia juga marah karena Arland sepertinya membela Citra.
"Maafkan saya, Nyonya," ujar Citra lembut berusaha untuk tampil dengan pribadi yang terbaik dihadapan Arland. "Ini saya yang salah. Mungkin Nyonya tidak mau saya bantu," lanjutnya menjelaskan.
"Itu yang sudah saya katakan tadi. Kenapa kamu malah bebal dan baru sekarang mengerti. Kamu sengajakan mau memancing amarah saya?!" geram Kania membalas.
Arland yang mendengar itu langsung membuang nafasnya kasar. "Jangan marah-marah Kania. Ingat kondisi kamu yang sedang hamil. Segala sesuatu yang kamu lakukan berdampak pada bayi kita," ujar Arland menasehati dengan sabar. Masalah anak pria itu memang tak bisa main-main.
"Mau kemana, Kania. Masakanmu belum selesa--"
"Suruh saja pembantu kesayanganmu itu yang menyelesaikannya!" kesal Kania.
Arland mendesah kasar, kemudian tanpa mencegah Kania, pria itu bangkit lalu mengusir halus Citra pergi dari sana. Arland sendiri turun tangan dan membereskan dapurnya. Bahkan diapun menghidangkan masakan di piring dan membawanya ke meja makan untuk dicicipi.
"Rasanya buruk sekali, terlalu asin dan juga pait. Apakah aku harus memakan ini?" tanya Arland pada dirinya sendiri. "Tapi dilihat dari Kania yang begitu bersemangat tadi, bagaimana kalau dia ngidam dan ini merupakan permintaan anakku?"
Arland menatap hidangannya dan merasa ngeri sendiri, tapi kemudian diapun mengambil keputusan terburuknya. Memakan masakan itu dengan keputusan yang sudah bulat.
• • •
"Apa jadwal Lyra seminggu kedepan?" tanya Arland pada Alex asisten pribadinya itu.
Ah, ya. Dia memang sengaja menyelidiki segala macam kegiatan Lyra untuk melancarkan rencananya, dan juga dia sudah tahu kalau yang mencuri berliannya bukan orang suruhan Alex, tapi memang pencuri asli. Arland tak marah walaupun uangnya terbuang percuma untuk kalung berlian mahal itu. Dia bahkan bersyukur karena anak buahnya tidak perlu repot walaupun kalung berliannya tidak akan kembali.
"Dia akan pergi menghadiri acara pernikahan sahabatnya Pak," jelas Alex.
"Ah, jadi benar yang perempuan penghianat itu katakan. Dia benar-benar akan menghadiri pernikahan sahabatnya. Hm, menarik. Bisa kamu lakukan sesuatu untukku?" kata Arland.
"Tentu saja, Pak!" seru Alex.
__ADS_1
"Carikan seseorang yang bisa berakting untuk mengaku-ngaku jadi pacarannya di acara itu. Buat Lyra malu dan hilang muka dihadapan teman-temannya, dan aku akan datang sebagai pahlawan atau mungkin penderitaan yang tidak dia sadari!" ujar Arland dengan liciknya.
Setelah beberapa menit, panggilan ditutup, Arland menyeringai dan tersenyum senang. "Kamu memang pantas mendapatkan ini Lyra, penghianat sepertimu, memang sepatutnya mendapatkan balasan itu!" seru Arland serius.
• • •
"Kania!" panggil Arland langsung menemui istrinya di kamar.
"Ayo makan, kamu belum makan malam karena ngambek tadi bukan?" ujar Arland terang-terangan mengatai istrinya mengambek.
"Apaan sih, siapa yang mengambek. Aku cuma tidak suka kamu membela Citra!" seru Kania langsung berdiri dan berkacak pinggang.
Arland menyadari pakaian Kania sudah berubah menjadi piyama dan dia langsung mengerutkan dahi. Alasan beberapa hari terakhir mereka selalu saja makan malam di luar tentu saja pakaian Kania membuatnya bingung.
"Loh, kamu kok udah pakai piyama tidur. Kamu sampai semarah itu dan berencana mogok makan?" tanya Arland.
"Enak saja. Nggak dalam kamusku mogok makan. Kalau aku benaran marah sama kamu, yang tidak makan itu harusnya kamu dan bukannya kamu!" jelas Kania dengan ketus.
"Terus kenapa pakai piyama tidur di jam segini, kamu tidak mau makan diluar lagi?" kata Arland terlihat bingung.
Kania langsung tersadar dan memikirkannya. 'Makan diluar lagi, tapi aku sedang tidak ngidam itu. Hm, tapi apa salahnya juga. Daripada makan malam di rumah ini terus melihat wajahnya Citra yang songong itu, bukannya lebih baik ke luar saja!' batin Kania.
"Tunggu sebentar, aku ganti dulu!" seru Kania tiba-tiba dan dengan cepat dia berganti pakaian.
Tidak dihadapan Arland, tapi di dalam kamar mandi. Kania masih cukup malu meskipun dia dan suaminya itu sudah lebih daripada itu.
• • •
Pulang dari restoran, tiba-tiba saja Citra menghadang mereka di ruang tengah.
"Mau minum kopi Tuan?" tawar Citra perhatian berlebihan seperti biasanya.
Anehnya kali ini Kania tak marah dan justru memikirkan sesuatu yang membuatnya tiba-tiba tersenyum senang.
"Saya sudah tidak minum kopi," jelas Arland menjawab.
"Dan suamiku malam ini tidak begadang di ruang kerjanya, tapi--" Kania sengaja menjeda kalimatnya dan secara tiba-tiba saja di bergelayut manja pada suaminya. "Kita mau begadang semalam di kamar saja, iya kan sayang!" lanjut Kania dengan suara sensual yang dibuat-buat. Bahkan tangannya pun sudah bergerilya kemana-mana untuk melancarkan rencananya dan membuat Citra memanas.
"Ah, ayo sayang. Aku sudah tak tahan!" seru Kania melanjutkan sambil menggandeng suaminya melewati Citra.
'Ternyata di benar-benar menyukai Mas Arland. Sudah kuduga!' batin Kania setelah dengan sengaja dia memang mengamati pergerakan Citra dan wajahnya yang menunjukkan kemarahan ketika Kania mengatakan begadang semalam di kamar.
• • •
TBC
__ADS_1